
Jek-jek'an adalam merupakan permainan kelompok, yang terbagi menjadi dua kelompok atau dua kubu yang saling berhadap-hadapan. Masing-masing kelompok bisa terdiri dari lebih 3 orang dengan masing-masing kubu jumlahnya sama banyak. Setelah terbagi sama banyak, masing-masing kelompok menempatkan diri di pohon yang sudah ditentukan. Pohon satu dengan pohon yang lainnya yang dijadikan kerajaan bagi kelompoknya masing-masing jaraknya bisa bervariasi, namun idelanya kurang lebih 20-25 m. Masing-masing kubu harus mempertahankan kerjaannya (pohonnya) agar tak disentuh (“dijek”) oleh kubu seberang.
Untuk dapat merebut kerajaan musuh, maka diperlukan strategi untuk memancing lawan agar meninggalkan kerajaannya(pohon). Cara memancingnya dengan cara memberi umpan kepada lawannya. Umpannya yaitu salah satu dari kelompok kita maju berlari kedepan supaya dikejar oleh kelompok musuh. Untuk teman yang memancing keluar saat musuh hendak mengejar, lalu usahakan berlari sekencang-kencangnya untuk balik ke kerajaannya untuk menambah “kesaktian.” “Kesaktian” didapat dengan cara memegang pohon yang menjadi tempat Kerajaan kita. Sementara itu teman yang lainnya siap-siang mengusir dan menangkap orang yang hendak menangkap teman kita yang menjadi umpan, dengan cara berlari menangkap lawan. Orang yang memegang pohon menang jika mampu menangkap orang yang telah lama tak memegang pohon. Jadi permainan ini menununtut strategi dalam memberi umapan serta orang yang mampu melindungi si pengumpan.
Saling pancing memancing dengan mengandalkan strategi dan kelincahan dalam berlari sangat dibutuhkan dalam permainan ini. Jika ada teman kita yang tertangkap, maka teman kita akan menjadi tawanan tim lawan. Letak tawanan kira-kira disamping kerajaan musuh jaraknya kurang lebih 7 m. Kita dapat menyelamatkan teman kita yang ditawan dengan cara menyentuh tangannya dan berlari agar tak dikejar tim musuh. Siapa yang paling banyak mengumpulkan tawanan, tentu akan sangat mudah untuk mengambil kerajaan lawan dengan cara menyentuh pohonya dan bilang “jek.”
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara