Ngarai Sianok yang terdapat di Bukittinggi merupakan salah satu objek wisata alam yang sangat terkenal. Di ngarai ini banyak terdapat objek wisata alam yang bisa dinikmati oleh pengunjung atau wisatawan yang datang ke Bukittinggi. Pemandangan lembah dengan bukit yang berdinding terjal dengan kemiringan yang mencapai 90 derajat berpadu gunung Singgalang membingkai keindahan ngarai ini.
Dan di dalam ngarai tersebut terdapat beberapa aliran sungai yang membelah lembah. Juga ada petak-petak sawah yang hijau dan kuning yang berbingkai tebing ngarai. Juga terdapat rumah-rumah penduduk meski tidak banyak.
Salah satu objek wisata alam yang terdapat ngarai ini adalah Janjang Saribu atau Tangga 1000. Janjang dalam bahasa Padang artinya adalah tangga. Saribu artinya seribu. Jadi Janjang Saribu berarti tangga yang jumlahnya seribu. Itu makna dari segi bahasa.
Janjang saribu
Dari segi defenisi tentu saja berbeda. Karena jumlah tangga di sini tidak sampai 1000 buah. Ratusan iya. Tapi karena jumlahnya sangat banyak, maka dianggap saja 1000. Mungkin orang dulu juga ngga mau repot-repot menghitung jumlah sebenarnya tangga yang terdapat di sana kali ya, hehehe.
Jadi, Janjang Saribu adalah sederetan ratusan anak tangga yang terdapat dinding atau tebing Ngarai Sianok. Janjang Saribu dan Janjang Koto Gadang alias Tembok Besar Cina mini itu beda. Sama-sama terdapat di Ngarai Sianok tapi lokasinya beda. Kedua objek wisata tersebut berjarak kira-kira 1,5km.
Awalnya saya tidak tau persis lokasi Janjang Saribu ini. Tapi ketika saya jalan ke Taruko Caf̮'̩ Resto, di seberang sungai saya melihat deretan huruf-huruf berwarna merah menyala yang terbaca Janjang Saribu. Saya coba jalan ke sana sekembali dari restoran Taruko Cafe yang ada di Ngarai Sianok. Tetapi tidak jadi masuk ke kawasan Janjang Saribu, karena hari sudah sangat sore.
Dari bawah dekat sungai Dari bawah dekat sungai Puncak dari Janjang Saribu ini adalah sebuah kampung yang bernama Bukik Apik atau Bukit Apit. Dulunya Janjang Saribu adalah tangga yang digunakan warga masyarakat Bukit Apik untuk mengambil air ke sungai yang terdapat di dasar ngarai. Deretan tangga ini berada di dinding ngarai yang tegak curam yang bahkan berada pada kemiringan sudut 90 derajat.
Taman panorama yang ada di puncak ngarai tidak besar. Taman tersebut kurang terawa. Bahkan pondok istirahatnya sudah tumbang. Lokasi taman panorama Janjang 1000 ini berada di belakang rumah penduduk. Jalan untuk menuju ke taman tersebut berupa jalan setapak yang diberi konblok yang kiri-kanannya adalah aparak atau kebun penduduk. Jarak taman ini kira-kira 100 m dari jalan raya.
Meskipun berada di dekat parak (kebun) rumah penduduk, pemandangan Ngarai Sianok di taman yang sederhana ini indah berlatarkan Gunung Singgalang. Pengunjung yang datang umumnya ingin merasakan petualangan dan sensasi naik - turun tangga di tebing Janjang Saribu yang curam dan terjal ini. Ada yang datang dari arah ngarai di bawah tangga, ada juga yang datang dari arah taman di Bukik Apik.
Sumber https://firstychrysant.wordpress.com/2016/07/20/janjang-saribu-1000-ngarai-sianok-bukittinggi-sumatera-barat/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...