Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Jawa Tengah
Jaka Tarub
- 14 November 2018 - direvisi ke 4 oleh Bangindsoft pada 17 Oktober 2024

Di desa Tarub, tinggallah seorang ibu bernama Mbok Randa Tarub. Ia hidup sebatang kara, oleh karenanya Mbok Randa Tarub kemudian mengangkat seorang anak laki-laki yang ia beri nama Jaka Tarub. Mbok Randa Tarub mengasuh anak angkatnya dari kecil hingga dewasa dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri.

Setelah dewasa, Jaka Tarub tumbuh menjadi seorang pemuda yang rajin bekerja membantu ibunya. Jaka Tarub juga memiliki wajah sangat tampan. Sering ia berburu binatang di hutan menggunakan sumpitnya. Ketampanan dan ketangkasannya membuat banyak gadis-gadis desa jatuh hati padanya, namun Jaka Tarub belum berniat untuk berumah tangga. Mbok Randa Tarub sering berkata bahwa ia menginginkan Jaka Tarub segera menikah.

“Mbok, saat ini Jaka belum menginginkan untuk memiliki pendamping hidup. Akan tiba saatnya nanti Jaka akan mencari istri.” jawab Jaka Tarub.

“Baiklah, jika itu kehendakmu Jaka. Mbok hanya mendoakan yang terbaik bagimu. Mbok sangat menyayangi Jaka.” ujar Mbok Randa.

Hingga pada suatu hari, Mbok Randa Tarub meninggal dunia karena sakit sedangkan Jaka Tarub belum juga menikah. Kepergian Mbok Randa yang telah mengasuhnya sejak kecil membuat Jaka Tarub sangat sedih. Terlebih mengingat ia belum juga menikah saat Mbok Randa meninggal. Sejak kepergian Mbok Randa, Jaka Tarub berubah menjadi seorang pemuda pemalas. Ia sering melamun sendirian karena merasa semangat hidupnya hilang.

Pada suatu siang, seperti biasa Jaka Tarub tidur di rumahnya. Di dalam tidurnya ia bermimpi  memakan daging rusa amat empuk dan lezat. Ketika bangun tidur, ia merasa lapar dan ingin memakan daging rusa. Ia segera bergegas pergi ke dalam hutan untuk berburu rusa. Dengan tombaknya ia berjalan perlahan di dalam hutan mengintai barangkali ada rusa. Namun setelah sekian lama berkeliaran di dalam hutan, ia tidak juga menemukan seekor hewan buruan pun. Padahal ia sudah memasuki kawasan hutan yang belum pernah ia datangi. Karena merasa lelah, Jaka Tarub kemudian duduk beristirahat di sebuah batu besar. Tidak sadar ia kembali tertidur karena kelelahan. Pada saat tertidur, sayup-sayup ia mendengar suara-suara perempuan tengah bercanda. Ia pun terbangun untuk mencari sumber suara tersebut.

Setelah mencari-cari arah suara, akhirnya Jaka sadar bahwa suara tersebut berasal dari sebuah telaga. Ia pun mengendap-ngendap di sebuah batu besar di pinggir telaga. Dari balik batu, Jaka melihat ada tujuh perempuan sangat cantik tengah mandi. Ia terperanjat merasa heran, bagaimana mungkin ada tujuh perempuan cantik jelita bisa mandi di tengah pedalaman hutan.

Ketujuh perempuan tersebut sangat luar biasa cantik. Ia tidak pernah melihat perempuan secantik mereka, oleh karena itu ia sangat berhasrat untuk menikahi salah satu dari mereka. Saat ia melihat tujuh selendang tergeletak di pinggir telaga. Jaka Tarub mengambil sehelai selandang kemudian menyembunyikannya.

Menjelang sore ketujuh perempuan cantik mengakhiri mandi mereka. Mereka segera berpakaian, mengenakan selendang mereka kemudian terbang ke kahyangan. Jaka Tarub akhirnya mengetahui bahwa mereka adalah bidadari kahyangan.

Salah seorang dari perempuan yang bernama Nawang Wulan, terlihat kebingungan mencari selendangnya sementara keenam perempuan lainnya telah terbang ke kahyangan.

“Aduh, mana selendangku? Tadi aku simpan di pinggir telaga. Bagaimana ini? Kalau selendangku tidak ketemu, Aku tidak bisa pulang ke kahyangan.” ujar Nawang Wulan terlihat panik.

Nawang Wulan ternyata saudari termuda dari ketujuh bidadari tersebut. Sepeninggal keenam kakaknya, Nawang Wulan menangis tersedu-sedu. Ia merasa takut karena tidak mampu tinggal di dunia manusia. Melihat hal tersebut, Jaka Tarub segera mendekat untuk mengajak berkenalan dan menawarkan bantuan.

“Hai, ada apakah gerangan Adinda menangis sendirian di pinggir telaga? Nama saya Jaka Tarub. Saya tinggal di desa di dekat sini. Apa yang bisa saya bantu?” Jaka berpura-pura menawarkan bantuan.

“Oh, saya kehilangan selendang jadi tidak bisa kembali ke kahyangan.” kata Nawang Wulan.

“Oh, begitu kiranya. Kalau begitu Adinda boleh tinggal di rumahku, daripada tinggal sendiri di dalam hutan. Tidak usah takut, aku akan menjagamu.” kata Jaka.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan tinggal di rumahmu saja.” Nawang Wulan terpaksa menerimanya karena tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Dewi Nawang Wulan akhirnya tinggal di rumah Jaka Tarub. Tidak lama kemudian mereka menikah dan hidup berbahagia. Terlebih lagi ketika Nawang Wulan mengandung kemudian melahirkan seorang bayi perempuan. Mereka memberinya nama Nawangsih.

Kendati hidup berbahagia beserta anak dan istrinya, Jaka Tarub sudah lama merasa heran karena lumbung padi miliknya tidak pernah berkurang malah justru bertambah. Setiap hari istrinya memasak dengan mengambil beras dari lumbung padinya tapi tidak sedikit pun lumbung padinya berkurang.

“Entah kenapa padi milikku tidak pernah berkurang malah bertambah banyak. Padahal setiap hari istriku memasak.” gumam Jaka keheranan.

Hingga suatu hari, sang istri tengah menanak nasi tapi memiliki keperluan di sungai. Nawang Wulan kemudian berpesan pada suaminya untuk menjaga apinya dan jangan membuka tutup kukusan nasi. “Kakanda, aku sedang menanak nasi tapi ada keperluan sebentar di sungai. Kakanda tolong jagakan api jangan sampai mati atau terlalu besar. Tolong juga Kakanda jangan membuka tutup kukusannya.” kata Nawang Wulan.

“Baiklah. Kakanda akan menjaganya.” kata Jaka. Setelah istrinya pergi ke sungai, Jaka merasa penasaran dengan pesan isrinya untuk tidak membuka tutup kukusan nasi. Karena tidak sanggup menahan rasa ingin tahu, ia kemudian membuka kukusan nasi. Ia merasa kaget ketika mendapati di dalam kukusan hanya ada sebutir beras. “Aneh istriku hanya memasak sebutir beras. Pantas lumbung padiku tidak pernah berkurang.” Jaka berkata dalam hati.

Ketika Nawang Wulan pulang dari sungai, ia mendapati ternyata di dalam kukusan hanya terdapat sebutir beras.

“Di dalam kukusan hanya ada sebutir beras, berarti suamiku melanggar larangan dengan telah membuka kukusan ini.” kata Nawang Wulan.

Nawang Wulan ternyata memiliki kesaktian yang tidak dimiliki manusia biasa. Ia bisa menanak sebutir padi menjadi sebakul nasi. Nawang Wulan akhirnya mengerti bahwa suaminya telah membuka kukusan tersebut. Walhasil, kesaktian Nawang Wulan yang dirahasiakannya, menjadi musnah. Sebagai akibatnya, kini ia harus berkerja sebagaimana manusia biasa seperti menumbuk padi, menampi hingga menanak beras menjadi nasi. Lambat laun lumbung padi milik Jaka Tarub pun habis.

Suatu ketika Nawang Wulan hendak mengambil beras di lumbung padi. Namun sayang beras yang tersedia tinggal sedikit. Ketika mengambil sisa-sisa beras, tiba-tiba menyembul selendang miliknya yang telah lama hilang. Nawang Wulan akhirnya sadar dan marah mengetahui kenyataaan bahwa ternyata suaminyalah yang menyembunyikan selendang miliknya. Ia segera mengenakan selendang tersebut kemudian bergegas menemui suaminya.

“Suamiku. Gara-gara Kakanda membuka tutup kukusan, kesaktianku menjadi hilang dan membuat lumbung padi kita habis. Dan juga ternyata, selama ini engkau menyembunyikan selendangku. Semuanya adalah rencanamu. Sampai disini berakhir sudah hubungan kita. Aku akan kembali ke kahyangan.” kata Nawang Wulan.

“Aku minta maaf istriku. Aku mengakui semua kesalahanku. Tapi tolong jangan pergi tinggalkan aku dan anakmu, Nawangsih.” Jaka Tarub memohon pada istrinya.

“Maaf Kakanda, aku harus pulang ke kahyangan. Tolong jaga baik-baik putri kesayangan kita, Nawangsih. Tolong Kakanda buatkan dangau di dekat rumah. Letakkan Nawangsih setiap malam di dangau. Aku akan datang setiap malam untuk menyusui putri kesayangan kita. Dan tolong jangan mengintip saat aku tengah menysusui Nawangsih. Selamat Tinggal.” Nawang Wulan kemudian terbang ke kahyangan. Jaka Tarub merasa sedih dan sangat menyesal dengan perbuatannya. Ia segera membuat dangau di dekat rumah. Dan sesuai permintaan istrinya, ia meletakkan putrinya, Nawangsih, setiap malam di dangau untuk disusui oleh Nawang Wulan.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu