Jaja Kaliadrem merupakan jajanan tradisional Bali berbentuk segitiga yang terbuat dari tepung beras dan memiliki rasa yang manis. Kue yang satu ini memiliki banyak sebutan, ada yang menyebutnya Kue Bolong atau Ucur. Jajanan Bali ini pelengkap sesaji Galungan.
Kue yang menyerupai donat ini dibuat melalui proses pembuatan yang terbilang masih sangat tradisional karena menggunakan beras yang perlu ditumbuk agar menjadi tepung. Setelah tepung, gula merah, kelapa parut, air, dan garam dicampur menjadi satu kemudian adonan diuleni hingga kalis. Kemudian adonan harus didiamkan selama sekitar 5-8 jam untuk mendapatkan adonan yang mengembang sempurna. Lalu adonan kembali diuleni dan barulah dibentuk segitiga dengan lubang di tengahnya. Bentuk segitiga yang tercipta berasal dari cetakan yang terbuat daun pisang dan tentunya berbentuk segitiga. Cetakan ini disebut ‘Kojong’ bagi masyarakat Bali. Adonan Kaliadrem yang telah dibentuk dan dilubangi kemudian diberi taburan biji wijen di atasnya, setelah itu digoreng sampai matang dan donat Bali ini siap disajikan.
Jaja Kaliadrem cocok dijadikan teman minum teh atau kopi agak pahit di pagi maupun sore hari. Rasa manis yang menyatu dengan gurihnya wijen membuat siapapun tergoda untuk menjajalnya. Belum lagi ada sensasi tersendiri yang dihasilkan dari campuran gula merah dan gula pasir yang terkena panas dan terkaramelisasi.
Jaja Kaliadrem tidak hanya ada saat Galungan tiba, kue ini juga banyak dijual di pasar tradisional Bali. Dengan rasa yang unik, jaja Kaliadrem dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu hanya Rp500,- sampai Rp1000,- saja.
Sumber: https://balikami.com/jaja-kaliadrem-si-manis-pelengkap-sesaji-galungan
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara