Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Nusa Tenggara Timur Atambua
Jagung Bose - Atambua - Nusa Tenggara Timur
- 12 Oktober 2017

JAGUNG merupakan makanan pokok orang Nusa Tenggara Timur. Dari bahan dasar jagung dimasak menjadi beberapa olahan khas dari setiap pulau kecil di dalamnya. Salah satunya Atambua, punya makanan khas bernama jagung bose yang bercitarasa gurih. Wisatawan yang sudah pernah ke Atambua pasti tak melewatkan makan itu.

Namanya juga jagung bose, yang artinya, jagung yang di-bose-kan (dilunakkan). Jagung Bose, itulah nama kuliner khas NTT yang berbahan dasar jagung. Kuliner ini bukanlah satu-satunya kuliner khas NTT. Masih banyak kuliner khas yang lain. Namun, pada kesempatan ini, pembaca akan digiring untuk mengenal lebih jauh apa itu jagung bose dan seperti apa kelezatannya. 

Jagung Bose ternyata mengandung karbohidrat yang bisa dijadikan pengganti nasi. Selain jagung, kacang-kacangan seperti kacang tanah dan kacang merah menjadi bahan campuran dalam pengolahan kuliner Jagung Bose. Tidak lupa, santan kelapa ikut menambah cita rasa gurih Jagung Bose.

Selain disajikan dalam acara perhelatan besar di setiap daerah di NTT, Jagung Bose juga masih bisa dijumpai di sejumlah rumah warga. Jagung Bose sering diolah sesuai selera menjadi makanan lezat yang tidak hanya disukai orang-orang dewasa, namun juga anak-anak. 

Bagi Anda yang berniat untuk diet, tak ada salahnya jika Anda mencoba mengonsumsi Jagung Bose ini. Cara memasaknya pun lebih mudah dan sangat praktis. 

Untuk lebih memahami bahan dan pembuatan Jagung Bose, Ada baiknya Anda mencermati sajian berikut. Bahan utama yang harus Anda persiapkan sebelumnya adalah air secukupnya, jagung tidak manis sesuai selera Anda, kacang merah yang telah direndam semalaman, santan kelapa. Selain itu, Anda bisa menyiapkan garam secukupnya sesuai kebutuhan dan labu manis. Jika Anda ingin menambah daging, itu bisa saja dilakukan selama Anda menyukainya. 

Setelah bahan-bahan disiapkan, Anda bisa mulai merebus air hingga mendidih. Masukkan kacang merah, biarkan hingga matang dan empuk. Selanjutnya, jagung dan labu bisa dimasukkan ke dalam air yang mendidih tadi. Apabila semua bahan telah matang, maka Anda harus memasukkan santan dan garam. Biarkan kuah dan bahan menyatu. Setelah nampak menyusut dan empuk, Jagung Bose sudah bisa disantap.

 Sumber :

https://lifestyle.okezone.com/read/2016/12/12/298/1564815/jagung-bose-makanan-khas-atambua-bercitarasa-gurih

https://www.merdeka.com/peristiwa/jagung-bose-kuliner-khas-ntt-yang-wajib-dicoba.html

https://www.kompasiana.com/www.munir.com/makanan-pokok-kami-di-ntt-adalah-jagung_55099c08a33311f2542e3b28

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker