Setiap tahun, hari ketujuh dari kalender lunar adalah festival tradisional Tiongkok kuno memperingati hari ulang tahun umat manusia. Legenda hari itu, yang biasa disebut sebagai Hari manusia, atau hari ulang tahun manusia ini biasa dirayakan cukup besar. Tepatnya pada hari umat manusia ini, manusia harus menghargai dan menghormati satu sama lainnya, dan juga harus bersikap baik kepada siapapun karena tepat di hari itu juga semua manusia di bumi ini sedang ulang tahun. Lebih baik jika diikuti dengan ucapan " selamat hari manusia" kepada sanak keluarga maupun siapapun yang anda temui.
Biasanya dalam memperingati hari ulang tahun umat manusia ini, diadakan acara makan bersama keluarga besar yang diikuti dengan hidangan makanan yang khas yang disebut dengan "Lao yu sheng". Lao yu sheng ini terdiri dari berbagai macam jenis sayur-sayuran dan biasa diikuti dengan irisan daging segar yang tipis, atau bisa juga diganti dengan irisan tipis abalone. Lao yu sheng ini biasa ditambahkan berbagai jenis saus tertentu, salah satu jenis saus penambah rasa yang paling sering diminati adalah saus kacang yang manis. Pada hari ulang tahun manusia ini, para sanak keluarga berdiri mengelilingi hidangan yang bernama "Lao yu sheng" ini dengan memegang sumpit dan secara bersamaan mengangkat sayur-sayurannya setinggi mungkin dan berteriak "HUAT AH" yang artinya makmur sejahtera. Selain hidangan ini, bisa juga diikuti oleh hidangan sampingan lainnya, ataupun zaman yang sudah modern sekarang ada juga yang beli kue ulang tahun yang dipotong bersama khusus untuk merayakan ulang tahun umat manusia ini.
Dari manakah asal usul legenda / cerita rakyat hari ulang tahun umat manusia ini?
Dalam legenda Cina, Nuwa menciptakan masyarakat umum dengan urutan ayam, anjing, babi, domba, sapi, kuda dan hewan lainnya, dan hari ketujuh ia menciptakan orang-orang, oleh karena itu tepatnya bulan pertama hari ketujuh kalender lunar diperingati sebagai ulang tahun seluruh umat manusia.
Tenun Sumba: Simbol Kehidupan dalam Setiap Helai Benang Identitas dan Asal-Usul Tenun Sumba merupakan kain tradisional yang berasal dari Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur [S1][S2]. Kain ini dikenal sebagai wastra yang diolah menggunakan pewarna alami dengan proses pengerjaan yang cukup panjang, berkisar antara enam bulan hingga tiga tahun [S3]. Keberadaan tenun Sumba tidak hanya sebagai karya seni tekstil, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakatnya yang mencerminkan kearifan lokal setempat [S2]. Sejarah tenun Sumba berkaitan erat dengan tradisi lisan masyarakatnya yang tidak mengenal tradisi tulis di masa lalu [S5]. Berdasarkan sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dalam kepercayaan Marapu, nenek moyang masyarakat Sumba diyakini sebagai pendatang yang memasuki pulau ini secara bergelombang melalui beberapa titik, seperti Tanjung Sasar, Muara Sungai Pandawai, Muara Sungai Wulla, dan pantai selatan Pulau Sumba [S5]. Dalam Lii Marapu (sabda leluhur), diungkapka...
Tenun Sumba: Simbol Kehidupan dalam Setiap Helai Benang Identitas dan Asal-Usul Tenun Sumba merupakan kain tradisional yang berasal dari Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur [S1][S2]. Kain ini dikenal sebagai wastra yang diolah menggunakan pewarna alami dengan proses pengerjaan yang cukup panjang, berkisar antara enam bulan hingga tiga tahun [S3]. Keberadaan tenun Sumba tidak hanya sebagai karya seni tekstil, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakatnya yang mencerminkan kearifan lokal setempat [S2]. Sejarah tenun Sumba berkaitan erat dengan tradisi lisan masyarakatnya yang tidak mengenal tradisi tulis di masa lalu [S5]. Berdasarkan sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dalam kepercayaan Marapu, nenek moyang masyarakat Sumba diyakini sebagai pendatang yang memasuki pulau ini secara bergelombang melalui beberapa titik, seperti Tanjung Sasar, Muara Sungai Pandawai, Muara Sungai Wulla, dan pantai selatan Pulau Sumba [S5]. Dalam Lii Marapu (sabda leluhur), diungkapka...
Sasando: Antara Nada Lontar dan Merdu dari Rote Identitas dan Asal-Usul Sasando adalah alat musik tradisional berdawai yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) [S1][S5]. Secara organologis, sasando diklasifikasikan sebagai kordofon, yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari petikan jari terhadap senar [C2][C3]. Keunikan utama sasando terletak pada wadah resonansinya yang terbuat dari anyaman daun lontar, yang menghasilkan suara khas dan tidak dapat ditemukan pada alat musik lainnya [S2][C4]. Bentuknya yang unik ini membuat sasando mudah dikenali dan sering kali memikat perhatian pada pandangan pertama [S4][C7]. Alat musik ini memiliki kemiripan prinsip dengan kecapi atau harpa karena sama-sama dimainkan dengan cara dipetik, namun sasando memiliki bentuk dan karakter suara yang sangat khas [S5]. Perbedaan mendasar terletak pada konstruksi dan materialnya. Tabung bambu sebagai tempat merentangkan senar diletakkan di dalam sebuah wadah resonansi dari anyaman...
Sasando: Antara Nada Lontar dan Merdu dari Rote Identitas dan Asal-Usul Sasando adalah alat musik tradisional berdawai yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) [S1][S5]. Secara organologis, sasando diklasifikasikan sebagai kordofon, yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari petikan jari terhadap senar [C2][C3]. Keunikan utama sasando terletak pada wadah resonansinya yang terbuat dari anyaman daun lontar, yang menghasilkan suara khas dan tidak dapat ditemukan pada alat musik lainnya [S2][C4]. Bentuknya yang unik ini membuat sasando mudah dikenali dan sering kali memikat perhatian pada pandangan pertama [S4][C7]. Alat musik ini memiliki kemiripan prinsip dengan kecapi atau harpa karena sama-sama dimainkan dengan cara dipetik, namun sasando memiliki bentuk dan karakter suara yang sangat khas [S5]. Perbedaan mendasar terletak pada konstruksi dan materialnya. Tabung bambu sebagai tempat merentangkan senar diletakkan di dalam sebuah wadah resonansi dari anyaman...
Ulee Balang: Filosofi di Balik Busana Kebesaran Aceh Identitas dan Asal-Usul Pakaian Adat Ulee Balang merupakan busana tradisional khas Aceh yang identitasnya melekat erat dengan nama golongan bangsawan atau pemimpin wilayah di masa Kesultanan Aceh [S1], [S3]. Nama “Ulee Balang” sendiri merujuk pada status sosial pemakainya, yakni para raja kecil atau hulubalang yang berkuasa di daerah-daerah tertentu dalam struktur kerajaan. Sebagai representasi status sosial dan budaya, busana ini bukan sekadar pakaian, melainkan cerminan identitas sebuah komunitas yang diwariskan secara turun-temurun [S3]. Secara geografis, pakaian ini berasal dari wilayah Aceh yang berada di ujung utara Pulau Sumatera [S2]. Dalam konteks historis, pakaian ini merupakan produk akulturasi budaya Melayu dan Islam yang kental, yang membentuk karakter masyarakat Aceh [S1], [S5]. Sumber-sumber yang ada menyepakati bahwa busana ini lazim digunakan dalam acara-acara sakral seperti pernikahan dan upacara adat [S1], [...