'' Tambako tuo di lita, tuo leppang. iyyau na porannu na pobalisa I Cicci pandeng mawarraq, nasengaq na salili di lalang tindo na. Barakkaq kumpayakum''.
Ini adalah salah satu contoh penggalan mantra pelet/pengasihan dalam komunitas masyarakat Mandar. Lalu seperti apa ilmu pelet ditinjau dari kacamata kekinian? Masihkah kemudian relevan untuk dilestarikan, ataukah harus dibuang jauh karena kita sudah lebih mengedepankan logika dan otak dalam berpikir?
Membincang soal ilmu pelet dan yang berkaitan dengan dunia supranatural maka siapa yang tidak mengenal suku Mandar, tidak kemudian membanggakan suku ini sebagai suku yang paling hebat soal dunia yang selalu tidak bisa dilogikakan ini. Namun hampir semua orang di jazirah Sulawesi mengenal suku Mandar sebagai suku yang identik dengan ilmu yang tak kasat mata ini. Entah mengapa hal tersebut dapat terbentuk di persepsi orang-orang. Pencitraan adalah hal yang terbentuk dari pengalaman dan hal ini telah berlaku dan terebentuk dalam jangka waktu yang lama. Kemungkinan peristiwa-peristiwa magis banyak berlaku dan melibatkan orang-orang yang berlatar belakang suku Mandar, karena itu kemudian terbentuklah persepsi yang dalam sebagian pandangan orang "menakutkan" dan "mengerikan".
Jika anda orang Mandar yakin dan percaya jika anda berkunjung ke daerah-daerah diluar dari Mandar maka anda akan diidentikkan dengan orang-orang yang memiliki kekuatan supranatural, menguasai beberapa ilmu, mantra, dan doti, serta paissangang yang dapat melemahkan orang yang anda tidak sukai. Sedikit banyak ini merugikan generasi yang tumbuh saat ini, mereka mungkin cenderung dicitrakan negatif oleh pandangan ini, dan anda akan serta merta menolak dan meluruskan pandangan bahwa tidak semua orang Mandar tahu dan memiliki kemampuan pelet ini.
Ilmu pelet, guna-guna, dan mantra untuk memikat wanita, melemahkan musuh, secara umum adalah sisi yang biasa didentikkan dengan hal-hal yang negatif, dan sulit diterima oleh generasi yang tumbuh di era globalisasi seperti saat ini. Namun kemudian tidak bisa dinafikkan juga bahwa dunia ini juga adalah salah satu elemen budaya (hasil penciptaan karya manusia) yang bermukim di wilayah Mandar. Lalu pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah budaya pelet, dotiatau paissangang towaine itu patut dilestarikan atau dihilangkan saja karena tidak berguna? Jika dilihat secara lebih dalam kekuatan-kekuatan tersebut diatas sederhananya adalah memaksakan kehendak pada sesuatu yang kita tidak mempunyai kuasa didalamnya. Secara psikologis tindakan menggunakan pengaruh seperti pelet ini adalah tindakan yang tidak percaya diri akan kekuatan fakta. Misalnya jika tidak bisa mendapatkan perhatian atau hati wanita maka kemudian orang-orang cenderung menggunakan bantuan media ini untuk mempengaruhi secara tidak sadar. Satu yang dapat dinilai dari hal ini adalah adanya sikap tidak percaya diri akan modal atau sumber daya yang dmiliki. Untuk seorang pria contohnya, ketampanan, kecerdasan, kekayaan, dan kepandaian mungin bisa menjadi bekal untuk mendekati dan mendapatkan perhatian wanita, namun jika tidak memiliki modal-modal tersebut diatas dan krisis kepercayaan diri maka kemudian mereka akan menempuh jalan ini, bergelut dengan mantra-mantra pengasih.
Doti yang kurang lebih sama dengan paissangang di Mandar adalah ilmu yang sejatinya negatif, digunakan untuk mengirimkan pengaruh buruk pada seorang sasaran dengan efek bermacam-macam yang menyakiti orang yang menjadi sasaran. Doti menurut penuturan Uwaq Unding seorang seniman kalindaqdaq Mandar yang pernah bersentuhan dengan dunia ini, adalah harus diperjalankan dalam sekali setahun untuk menemui korbannya. Jika kemudian ilmu doti tersebut tidak dijalankan maka doti tersebut akan mengenai sendiri sang pemilik doti karena itu ia harus menemukan korbannya jika tak ingin sang pemilik terkena efek negatifnya. Sejatinya akan banyak hal aneh yang akan terjadi jika ilmu doti ini didekati, hal-hal yang diluar logika manusia bisa saja terjadi, karena itu para pelakunya cenderung aneh. Orang-orang yang sakit hati dan kecewa biasanya adalah para pelaku ilmu ini atau mereka yang datang pada orang-orang yang memiiliki ilmu ini untuk kemudian mengirimkan doti ini untuk menyakiti musuhnya. Jika seseorang belajar ilmu doti dan ia telah dapat melihat sesuatu yang mustahil dilihat olah orang biasa maka itu adalah tanda bahwa ia telah memiliki kemampuan dotiyang biasanya didapatkan dari seorang guru.
Lalu haruskah melestarikan dunia yang telah kita ketahui memiliki efek negatif pada sesama manusia yang bertujuan untuk melemahkan atau menyakiti bahkan kadang menghilangkan nyawa ini? Tidak kemudian bijak jika kita kembali mengambil peninggalan leluhur lalu mengaplikasikannya pada orang-orang yang tidak kita sukai. Beberapa mantra dan pengasih tersebut mungkin dapat kita tarik nilai-nilai postifnya, ada nilai sugesti dan keyakinan yang mendalam pada sebutan mantra-mantra tersebut. Nilai ini yang seharusnya diambil dan dijadikan pelajarab bagi generasi saat ini, betapa kemudian leluhur begitu yakin akan beroleh efek, walaupun hanya dengan untaian kata yang kadang cukup aneh didengarkan. Nilai motivasi yang kuat juga adalah salah satu yang dapat diambil, ada motivasi yang kuat dibalik sebuah mantra pengasih yang diiucapkan.
Entah seperti apa proses mantra hingga menghasilkan sebuah efek dapat dijelaskan dengan akal sehat. Ia hampir tidak pernah bisa dirasionalkan. Namun dari kata-kata mantra yang dalam ini sering kita temukan sentrum atau pusat pengharapan, bentuk doa yang begitu filosofis diutarakan dalam paduan kata menuju pada harapan terbentuknya pengaruh yang diinginkan. Ia kadang mengambil perumpamaan-perumpamaan alam seperti kekuatan angin, kekuatan air, atau bahkan kekuatan api. Ada mimpi yang diwujudkan dengan pengharapan pada bantuan-bantuan sifat alam untuk menggapai tujuan manusia.
Source: http://www.kompadansamandar.or.id/opini/444-membincang-soal-ilmu-pelet-dan-doti-mandar.html
Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur Identitas dan Asal-Usul Tradisi tenun yang paling populer di Indonesia merujuk pada Tenun Ikat , khususnya varian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Popularitas ini tidak terlepas dari keunikan teknik, motif, dan makna filosofisnya yang kuat dalam budaya masyarakat setempat [S1]. Tenun ikat di NTT merupakan warisan budaya yang bertahan hingga kini, diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian integral dari identitas komunitas [S2]. Secara geografis, sentra tenun ikat NTT tersebar di berbagai pulau, dengan Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu pusat tradisi ini yang paling kuat. Di Sumba, pembuatan kain tenun ikat tradisional masih lestari, dengan kampung-kampung seperti Kanatang dan desa-desa di wilayah Sumba Timur menjadi lokasi perajin aktif [S3]. Proses pembuatannya sangat mengikat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat, di mana kain tenun bukan sekadar produk ekonomi tetapi juga warisan leluhur yang...
Kain tenun bukan hanya sekadar produk tekstil biasa di Indonesia Identitas dan Asal-Usul Kain tenun di Indonesia merupakan warisan budaya yang melampaui fungsi sebagai produk tekstil konvensional [S1]. Objek ini merepresentasikan hasil karya tangan yang memuat narasi sejarah panjang serta nilai-nilai budaya yang luhur [S4]. Keberadaannya telah menjadi bagian integral dalam aspek sosial, ekonomi, hingga spiritual masyarakat Nusantara selama ribuan tahun [S1], [S4]. Secara geografis, tradisi menenun tersebar luas di hampir seluruh wilayah Indonesia, di mana setiap daerah mengembangkan karakteristik, motif, dan filosofi yang unik [S1], [S3]. Keberagaman ini didukung oleh teknik pembuatan yang spesifik serta keterampilan perajin yang diwariskan secara turun-temurun [S1], [S4]. Beberapa wilayah yang memiliki tradisi tenun dengan kekhasan motif dan makna yang menonjol antara lain Toraja, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bali [S2]. Setiap motif yang dihasilkan bukan sekadar ele...
Indonesian parents often use traditional games to educate their children about character building Identitas dan Asal-Usul Permainan Bentengan diklasifikasikan sebagai permainan tradisional anak yang telah berintegrasi dalam budaya lokal Indonesia [S2]. Teks bebas mencatat bahwa aktivitas ini telah dimainkan sejak era kolonial Belanda [S1]. Ensiklopedia daring mengonfirmasi bahwa permainan tradisional Nusantara umumnya memiliki akar akulturasi yang kuat [S2]. Meskipun tidak teridentifikasi secara spesifik mengenai wilayah kelahirannya, permainan ini tersebar luas sebagai warisan bermain anak pra-modern [S2]. Perbandingan antara kedua sumber menunjukkan bahwa [S1] berfokus pada konteks historis kolonial dan mekanisme permainan, sedangkan [S2] lebih menekankan pada akar akulturasi budaya dan fungsi sosialnya secara umum. Kedua sumber memiliki batasan masing-masing: [S1] tidak menguraikan variasi regional, sementara [S2] bersifat umum tanpa mendetailkan mekanisme spesifik Bentengan....
Songket Palembang: Jejak Sriwijaya dalam Selembar Kain Martabat Identitas dan Asal-Usul Songket Palembang merupakan kain tenun tradisional yang diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sejak tahun 2013 [S1]. Kain ini dikenal luas karena kekayaan historisnya dan menjadi penanda martabat dalam budaya masyarakat Palembang [S3, C5, C6]. Popularitasnya sering terlihat dalam berbagai pameran dan dikenakan oleh tokoh publik [C2]. Asal-usul Songket Palembang kerap dikaitkan dengan masa Kemaharajaan Sriwijaya, yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan [S3, C4]. Sejak masa kerajaan, songket tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga sebagai simbol kedudukan, kehormatan, dan peran sosial seseorang [C7]. Keunikan ini menjadikan Songket Palembang lebih dari sekadar kain indah, melainkan sarat akan nilai sosial dan filosofis yang melekat pada setiap helainya [C8, C9]. Meskipun demikian, belum ada sumber yang secara spesifik merinci sentra produksi Songket Palembang selain...
Keris: Lebih dari Senjata, Pusaka Jawa yang Mendunia Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan senjata tikam tradisional yang berasal dari Indonesia, dengan karakteristik bentuk bilah yang asimetris atau berkelok-kelok [S1], [S5]. Secara struktural, keris terdiri atas tiga komponen utama, yakni bilah ( wilah ), gagang ( hulu ), dan sarung ( warangka ) [S1]. Sebagai bagian dari kategori tosan aji —istilah untuk senjata berbahan besi bernilai tinggi yang dimuliakan—keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata perang, tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang dan simbol identitas masyarakat Jawa [S2], [S5]. Museum Nasional Indonesia menyimpan koleksi keris yang merepresentasikan sejarah perkerisan Nusantara, termasuk spesimen dari Cirebon, Jawa Barat, yang berasal dari abad ke-16 [S4], [S5]. Salah satu contoh koleksi yang terdokumentasi adalah keris dengan dhapur Kebo Lajer dan pamor tambal, yang secara historis populer di kalangan masyarakat petani pedesaan sebagai sim...