Ikan Selais Asap adalah makanan khas dari provinsi Riau. Ikan selais memiliki banyak cerita pada resep dan cara pembuatannya. Resep ikan selais sebenarnya sangat mudah dan simpel, yakni dengan memasak ikan selais dengan cara diasap lalu digoreng, kemudian membuat sambalnya yang khas yakni sambal balado dari bawang merah, cabai merah dan jeruk nipis. Ikan selais yang memiliki nama lain salai, ikan salai artinya ikan yang diasap. Tentu saja, pembuatannya berarti diasap. Ikan asap ini banyak terdapat di beberapa daerah di nusantara.
Bahan - Bahan Resep Ikan Selais Khas Riau
Ikan salai selais dari ikan baung maupun
ikan lele - 1 ons
Minyak goreng - secukupnya, untuk menggoreng
Bahan Bumbu Balado Sambal Resep Ikan Selais Khas Riau:
Cabai merah - ý ons
Bawang merah - 5 butir
Jeruk nipis - 1 irisan
Garam - secukupnya, sesuai selera
Gula - secukupnya, sesuai selera
Cara Membuat Ikan Salai ala Resep Ikan Selais Bumbu Balado Khas Riau
1.Siapkan wajan untuk menggoreng ikan Panaskan minyak, kemudian goreng ikan salai dari ikan baung maupun ikan lele di dalam minyak yang sudah panas.
Cara Membuat Sambal Bumbu Balado Resep Ikan Selais Khas Riau
Siapkan bahan - bahan bumbu yang tertera di bahan bumbu resep ikan selais khas Riau.
Bersihkan dan cuci bawang merah serta cabai merah yang digunakan sebagai bahan inti sambal balado.
Bumbu-bumbu tersebut kemudian digiling kasar atau dihaluskan dengan menggunakan food Processor maupun alat lain yang berfungsi sama.
Panaskan minyak dalam wajan. Lalu tumis bumbu yang telah dihaluskan tadi. Tambahkan dengan garam dan juga jeruk nipis.
Goreng sambal balado sampai cukup kering.
Masukkan ikan selais yang telah digoreng ke dalam wajan berisi tumisan bumbu balado.
7.Angkat ikan beserta sambal baladonya dari penggorengan. Ikan selais sambal balado siap disajikan di piring bersama lalapan dan nasi hangat.
Sumber: https://detakkampar.co.id/blog/2016/08/13/resep-makanan-ikan-selais-asap-khas-provinsi-riau/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara