Untuk membuat sajian sejenis rolade ini, pilih fillet ikan tuna bagian perut yang cukup panjang dan lebar. Kandungan lemak di bagian ini juga membuat rasanya lebih gurih.
Bahan:
600 g fillet ikan tuna, iris ukuran 25x15x1 cm
1 sdm air jeruk nipis
1 sdt garam
80 ml minyak kelapa
20 g daun kemangi
2 batang serai, ambil bagian putihnya, iris tipis
2 lembar daun kunyit, iris-iris
2 batang bawang daun, iris-iris
2 lembar daun jeruk
200 g tomat, potong-potong
Bumbu, haluskan:
50 g kacang kenari
10 butir bawang merah
6 siung bawang putih
5 buah cabai rawit
4 butir kemiri
3 cm jahe
2 cm kunyit ½ sdt garam
¼ sdt gula pasir
Isi:
50 g kacang panjang, blansir
50 g taoge, blansir
30 g bayam, blansir
4 sdm kelapa sangrai, campur dengan 1 sdm bumbu tumis
Bumbu olesan, aduk rata:
2 siung bawang putih, cincang halus
1 sdm margarin
1 sdt minyak sayur
Pelengkap:
Mentimun, iris
Tomat, iris
Kemangi
Rempeyek rebon
Cara Membuat:
1/ Lumuri ikan dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan selama 5 menit.
2/ Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum. Tambahkan daun kemangi, serai, daun kunyit, bawang daun, daun jeruk, dan tomat, aduk hingga matang. Angkat, sisihkan.
3/ Ambil sepotong ikan tuna, susun bahan isi di atasnya. Gulung dan padatkan.
4/ Bakar ikan di atas bara api atau di atas grill pan sambil sesekali diolesi dengan bumbu olesan. Angkat.
5/ Tata ikan di atas piring saji, siram dengan bumbu tumis. Sajikan hangat disertai pelengkap. (f)
Wolter Mamuli (Bitung) – Juara 3 Lomba Masak Ikan Nusantara 2018
Tidak butuh waktu lama bagi Wolter Mamuli untuk mempersiapkan hidangan jagoannya di lomba ini. Memiliki background sebagai chef di salah satu hotel di Bunaken membuatnya siap mental dalam mempersiapkan masakan. Berkat kemenangannya, ia diminta Dinas Pariwisata setempat untuk membantu mempromosikan kuliner Kota Bitung.
Sumber: https://www.femina.co.id/ikan-seafood/resep-ikan-tuna-bakar-gulung-saus-woku-
Sop Matahari adalah salah satu kuliner tradisional khas Kota Surakarta atau Solo, Jawa Tengah. Hidangan ini terkenal karena bentuknya yang unik menyerupai bunga matahari yang sedang mekar. Bagian "kelopak" dibuat dari telur dadar tipis, sedangkan bagian tengahnya berisi daging ayam cincang dan berbagai sayuran seperti wortel, jamur, dan jagung yang kemudian disiram kuah kaldu hangat yang gurih. Sop Matahari bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari tradisi masyarakat Solo yang diwariskan secara turun-temurun. Kuliner ini memiliki keterkaitan erat dengan budaya Keraton Surakarta dan sering disajikan dalam acara-acara penting, terutama pesta pernikahan adat Jawa. Dalam tradisi jamuan pernikahan Solo, Sop Matahari menjadi salah satu hidangan istimewa yang melambangkan penghormatan kepada para tamu. Secara filosofis, bentuk bunga matahari melambangkan keceriaan, kehangatan, harapan, dan kehidupan yang cerah. Karena itulah Sop Matahari sering hadir dalam acara pernikahan...
Kue Mento adalah salah satu makanan tradisional khas Kabupaten Sumenep di Pulau Madura. Sekilas, kue ini mirip dengan dadar gulung, tetapi memiliki cita rasa gurih karena berisi tumisan ayam, wortel, dan kadang pepaya muda yang dibumbui rempah-rempah khas. Kue mento biasanya disajikan dengan kuah santan kental serta taburan bawang goreng sehingga menghasilkan perpaduan rasa yang gurih, lembut, dan harum. Kue mento telah menjadi bagian dari warisan kuliner masyarakat Sumenep selama bertahun-tahun. Beberapa sumber menyebutkan bahwa makanan ini merupakan hasil akulturasi budaya dari kue mento yang berasal dari Keraton Jepara, kemudian berkembang dan memiliki ciri khas tersendiri di Sumenep, baik dari bentuk maupun cara penyajiannya. Pada masa lalu, kue mento sering disajikan untuk tamu penting dan menjadi hidangan dalam acara-acara khusus. Saat ini, kue mento sangat identik dengan bulan Ramadan karena banyak dijual sebagai menu berbuka puasa atau takjil di Sumenep. Meski demikian, ku...
Istilah "Sayang Anak 5k" merujuk pada sebuah fenomena sosial dan hiburan rakyat yang sangat lekat dengan suasana pasar tradisional, pasar malam, maupun ruang publik lainnya. Kalimat "sayang anak, sayang anak..." merupakan jargon khas dan ikonik yang biasa diserukan dengan lantang oleh abang-abang penyedia wahana permainan odong-odong. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian para orang tua yang sedang melintas atau berbelanja agar bersedia menyenangkan buah hati mereka.Seruan ini bermakna rayuan hangat agar orang tua rela menyisihkan uang senilai Rp5.000 (5k) sebagai tiket masuk. Dengan biaya yang sangat terjangkau tersebut, anak-anak sudah bisa merasakan kebahagiaan luar biasa menaiki wahana odong-odong yang biasanya dihiasi lampu warna-warni dan diiringi alunan lagu-lagu anak ceria. Praktik ini tidak hanya sekadar transaksi ekonomi kecil-kecilan, melainkan telah menjadi sebuah tradisi atau "ritual" hiburan murah meriah yang menghadirkan senyum dan tawa...
Dodol Kinca merupakan kuliner tradisional khas Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang dikenal dengan cita rasa manis legit serta teksturnya yang khas. Berbeda dari dodol pada umumnya, dodol ini dibuat dari campuran buah kinca (kawista) dan gula, dengan tambahan sedikit tepung tapioka sebagai pengikat, yang dimasak hingga mengental. Buah kinca sendiri adalah sebutan lokal untuk buah kawista, yang memiliki perpaduan rasa manis dan asam dengan aroma yang khas. Selain varian manis, Dodol Kinca juga memiliki variasi rasa pedas yang memberikan sensasi unik. Hidangan ini tidak hanya menjadi sajian khas, tetapi juga mencerminkan identitas kuliner serta tradisi masyarakat Bima dan Dompu.
Rimpu merupakan tradisi busana khas perempuan suku Mbojo di Bima, Nusa Tenggara Barat, yang dikenakan dengan menggunakan dua lembar kain sarung untuk menutup kepala hingga seluruh tubuh. Lebih dari sekadar pakaian, Rimpu merepresentasikan nilai kesopanan, identitas budaya, serta ketaatan terhadap ajaran Islam. Tradisi ini memiliki beberapa bentuk, di antaranya rimpu mpida yang dikenakan oleh perempuan belum menikah dengan menutup seluruh wajah kecuali mata, serta rimpu colo yang digunakan oleh perempuan yang telah menikah dengan memperlihatkan wajah. sumber gambar: https://etnis.id/menjaga-spirit-budaya-rimpu-di-tanah-rantau/