Ambon sebagai ibu kota provinsi Maluku yang merupakan salah satu tulang punggung kemaritiman Indonesia sudah tentu menyimpan banyak sekali kekayaan maritime dalam segala lini. Sektor perikanan, Perdagangan, Sumber daya alam, bahkan sektor Pariwisata menjadi bagian penting yang menyumbang kekayaan maritim di Ambon. Sudah tentu dunia maritim erat kaitannya dengan perikanan dan pariwisata, sehingga dalam hal pangan sebagai kebutuhan pokok ikan memiliki daya jual yang tinggi. Masyarakat Ambon sudah sangat terbiasa dengan jenis kebutuhan pangan ini, bahkan ikan dapat digolongkan sebagai salah satu kebutuhan utama di Ambon.
Salah satu restoran di kota Ambon yang terkenal akan masakan ikannya adalah Ratu Gurih yang terletak di Jalan Diponegoro no. 26 Kota Ambon, Maluku. Restoran ini sudah dikenal bahkan hingga ke mancanegara melalui wisatawan asing yang berkunjung ke Ambon. Salah satu menu andalan restoran ini bertajuk Ikan Spicy Tanggi. Makanan ini adalah menu unggulan restoran Ratu Gurih dan menjadi primadona masakan yang sering dipesan oleh para pengunjung. Menu Ikan Spicy Tanggi adalah sesuatu yang orisinil dipadukan dengan kenikmatan makanan ikan laut khas Maluku.
Cara Membuat:
Untuk membuat Ikan Spicy Tanggi diperlukan bahan utama ikan laut yang tidak mudah hancur ketika diolah seperti ikan Kakap atau ikan Dorry. Menurut juru masaknya, hal ini diperlukan agar Ikan tetap terlihat segar dan tidak hancur ketika mencapai tingkat kematangan yang diinginkan. Setelah ikan di-fillet, daging ikan pun siap diberi tepung bumbu. Proses ini juga cukup penting karena rasa otentik daging ikan tidak boleh hilang oleh bumbu tepung yang digunakan. Sembari menggoreng ikan yang sudah dibumbui tadi, juru masak lainnya akan menyiapkan kuah Spicy Tanggi-nya yang tersusun atas beberapa rempah-rempah seperti Sereh, Cabai, Bawang Merah dan bumbu lainnya. Setelah semuanya menyatu dalam tumisan, maka sedikit air pun ditambahkan sehingga kuah Spicy Tanggi pun terbentuk. Keistimewaan masakan ini memang ada pada kuah Spicy Tanggi-nya, oleh karena itu proses masaknya pun harus dikerjakan oleh juru masak khusus.
Kuah Spicy Tanggi dan ikan tepung yang digoreng pun akan selesai dalam waktu yang tidak jauh berbeda. Ikan goreng tepung yang sudah disajikan di atas piring pun siap untuk disiram oleh kuah Spicy Tanggi yang masih panas dari penggorengan. Ikan Spicy Tanggi pun sudah siap dihidangkan dengan penampilan cantik yang luar biasa. Seperti namanya, rasa ikan Spicy Tanggi sangatlah kaya akan aroma rempah dan rasa pedas yang menjadi kelebihannya. Walaupun dimasak dalam kondisi terpisah dan hanya disiramkan, namun kuah Spicy Tanggi terasa sangat meresap dalam tiap gigitan daging ikan goreng tepungnya. Ini adalah makanan yang luar biasa nikmat.
Sekilas, ikan Spicy Tanggi tampak seperti Ikan Asam Manis yang biasa kita jumpai di restoran-restoran seafood, tetapi menu Spicy Tanggi di Restoran Ratu Gurih ini memiliki citarasa yang sangat berbeda. Perpaduan asam manis dari bumbunya berpadu dengan uniknya rempah-rempah Maluku yang digunakan dalam masakan ini. Selain itu, pilihan ikan yang dimasak pun akan menentukan kenikmatan Ikan Spicy Tanggi tersebut. Tidak diragukan lagi, menurut saya Ikan Spicy Tanggi sudah dapat dikatakan sebagai salah satu masakan berbahan dasar ikan ternikmat yang ada di kota Ambon.
Tempat yang menyediakan:
Rumah Makan Ratu Gurih, Jalan Diponegoro no. 26 Kota Ambon, Maluku.
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...