Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Kepulauan Riau Tanjungpinang
Ikan Merah
- 6 Maret 2017

Kepulauan Riau memiliki banyak sekali pulau. Luas wilayah lautnya lebih besar dari daratan. Hal ini membuat Kepulauan Riau memiliki potensi sumber daya kelautan yang berlimpah. Dari laut tersebut, salah satunya kemudian menjadi makanan khas yang diolah dari ikan. Sop ikan, demikian nama salah satu makanan khas tersebut. Sedari dulu, masyarakat Kepulauan Riau, khususnya masyarakat Kota Tanjungpinang, juga masyarakat di pulau-pulau kecil di sekitar Kepulauan Riau, sudah mengenal makanan lezat ini. Untuk membuat sop ikan yang khas, digunakan bahan baku dan bumbu tertentu. Bahan baku tersebut adalah Ikan Merah yang sudah dipotong-potong. Ikan ini sudah dipisahkan dari tulangnya. Sedangkan racikan bumbu dan kuah sudah disiapkan dalam tiga panci stainless besar untuk merebus kuah.

Irisan ikan merah ini kemudian dicampur ke dalam mangkok bersama sawi asin, tomat, dan kuah. Dan sebelum dihidangkan kepada pembeli, sop ikan terlebih dahulu ditaburi bawang goreng, sambal cabai hijau, serta potongan jeruk.

 

Bahan-bahan :

  • 300 gram fillet ikan merah segar
  • 4 butir putih telur
  • 1,5 L kaldu ikan
  • 3 sendok makan udang ebi, disangrai tumbuk halus
  • 3 siung bawang putih
  • 1 batang daun bawang
  • 1 buah jeruk nipis
  • 100 gram sawi asin
  • 3 sendok makan bawang goreng
  • 3 buah tomat hijau, iris masing-masing menjadi 4 bagian
  • 1 sendok makan kecap asin
  • 1 batang daun kemangi, ambil daunnya
  • 1 lembar daun selada
  • cabai rawit sesuai selera
  • garam secukupnya
  • gula pasir secukupnya
  • lada bubuk secukupnya
  • bawang goreng untuk taburan
     

Cara Memasak :

  1. Ikan Merah kita baluri dengan garam dan juga lada bubuk secukupnya, aduk hingga merata
  2. Setelah itu masukan ikan Merah kedalam wadah yang berisi putih telur, aduk hingga merata, sisihkan.
  3. Setelah itu siapkan wajan panaskan air kaldu ikan, lalu masukan ebi, kemudian tambahkan kecap ikan, lalu masukan ikan merahnya, diamkan sekitar 5 menit, sambil diaduk-aduk
  4. Setelah itu masukan bawang merah goreng, lalu tomat hijau, aduk-aduk sebentar, kemudian masukan daun kemangi, lalu garam secukupnya dan juga lada. aduk kembali.
  5. Sebelum diangkat, siapkan piring saji lalu masukan sawi asin, lalu daun selada.
  6. Angkat lalu tuang ke dalam piring saji. Siap disajikan bersama nasi putih hangat.

 

sup-ikan-kakap-merah.JPG

sumber: Selerasa (http://selerasa.com/resep-sederhana-membuat-masakan-sup-ikan-kakap-merah-kuah-bening-yang-lezat-dan-gurih)

 

 

 

Alamat dan Kontak Penjual:

Pondok Ciung Ikan Bakar  

Jl. Gatot Subroto Km. 5 Bawah, Kampung Bulang, Tanjungpinang Timur, Kp. Bulang, Tanjungpinang Timur, Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau 29122

 

Reference:

  1. Buku "Jejak Kuliner Indonesia", TIKI JNE
  2. http://selerasa.com/resep-sederhana-membuat-masakan-sup-ikan-kakap-merah-kuah-bening-yang-lezat-dan-gurih

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kain tenun bukan hanya sekadar produk tekstil biasa di Indonesia
Motif Kain Motif Kain
Aceh

Kain tenun bukan hanya sekadar produk tekstil biasa di Indonesia Identitas dan Asal-Usul Kain tenun di Indonesia merupakan warisan budaya yang melampaui fungsi sebagai produk tekstil konvensional [S1]. Objek ini merepresentasikan hasil karya tangan yang memuat narasi sejarah panjang serta nilai-nilai budaya yang luhur [S4]. Keberadaannya telah menjadi bagian integral dalam aspek sosial, ekonomi, hingga spiritual masyarakat Nusantara selama ribuan tahun [S1], [S4]. Secara geografis, tradisi menenun tersebar luas di hampir seluruh wilayah Indonesia, di mana setiap daerah mengembangkan karakteristik, motif, dan filosofi yang unik [S1], [S3]. Keberagaman ini didukung oleh teknik pembuatan yang spesifik serta keterampilan perajin yang diwariskan secara turun-temurun [S1], [S4]. Beberapa wilayah yang memiliki tradisi tenun dengan kekhasan motif dan makna yang menonjol antara lain Toraja, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bali [S2]. Setiap motif yang dihasilkan bukan sekadar ele...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Indonesian parents often use traditional games to educate their children about character building
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Aceh

Indonesian parents often use traditional games to educate their children about character building Identitas dan Asal-Usul Permainan Bentengan diklasifikasikan sebagai permainan tradisional anak yang telah berintegrasi dalam budaya lokal Indonesia [S2]. Teks bebas mencatat bahwa aktivitas ini telah dimainkan sejak era kolonial Belanda [S1]. Ensiklopedia daring mengonfirmasi bahwa permainan tradisional Nusantara umumnya memiliki akar akulturasi yang kuat [S2]. Meskipun tidak teridentifikasi secara spesifik mengenai wilayah kelahirannya, permainan ini tersebar luas sebagai warisan bermain anak pra-modern [S2]. Perbandingan antara kedua sumber menunjukkan bahwa [S1] berfokus pada konteks historis kolonial dan mekanisme permainan, sedangkan [S2] lebih menekankan pada akar akulturasi budaya dan fungsi sosialnya secara umum. Kedua sumber memiliki batasan masing-masing: [S1] tidak menguraikan variasi regional, sementara [S2] bersifat umum tanpa mendetailkan mekanisme spesifik Bentengan....

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Songket Palembang: Jejak Sriwijaya dalam Selembar Kain Martabat
Motif Kain Motif Kain
Sumatera Selatan

Songket Palembang: Jejak Sriwijaya dalam Selembar Kain Martabat Identitas dan Asal-Usul Songket Palembang merupakan kain tenun tradisional yang diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sejak tahun 2013 [S1]. Kain ini dikenal luas karena kekayaan historisnya dan menjadi penanda martabat dalam budaya masyarakat Palembang [S3, C5, C6]. Popularitasnya sering terlihat dalam berbagai pameran dan dikenakan oleh tokoh publik [C2]. Asal-usul Songket Palembang kerap dikaitkan dengan masa Kemaharajaan Sriwijaya, yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan [S3, C4]. Sejak masa kerajaan, songket tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga sebagai simbol kedudukan, kehormatan, dan peran sosial seseorang [C7]. Keunikan ini menjadikan Songket Palembang lebih dari sekadar kain indah, melainkan sarat akan nilai sosial dan filosofis yang melekat pada setiap helainya [C8, C9]. Meskipun demikian, belum ada sumber yang secara spesifik merinci sentra produksi Songket Palembang selain...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris: Lebih dari Senjata, Pusaka Jawa yang Mendunia
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Timur

Keris: Lebih dari Senjata, Pusaka Jawa yang Mendunia Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan senjata tikam tradisional yang berasal dari Indonesia, dengan karakteristik bentuk bilah yang asimetris atau berkelok-kelok [S1], [S5]. Secara struktural, keris terdiri atas tiga komponen utama, yakni bilah ( wilah ), gagang ( hulu ), dan sarung ( warangka ) [S1]. Sebagai bagian dari kategori tosan aji —istilah untuk senjata berbahan besi bernilai tinggi yang dimuliakan—keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata perang, tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang dan simbol identitas masyarakat Jawa [S2], [S5]. Museum Nasional Indonesia menyimpan koleksi keris yang merepresentasikan sejarah perkerisan Nusantara, termasuk spesimen dari Cirebon, Jawa Barat, yang berasal dari abad ke-16 [S4], [S5]. Salah satu contoh koleksi yang terdokumentasi adalah keris dengan dhapur Kebo Lajer dan pamor tambal, yang secara historis populer di kalangan masyarakat petani pedesaan sebagai sim...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris: Lebih dari Senjata, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Aceh

Keris: Lebih dari Senjata, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Identitas dan Asal-Usul Keris Jawa merupakan senjata tikam tradisional yang secara fisik dikenali dari bilah asimetris dengan pola berkelok-kelok atau lurus, serta terbagi menjadi tiga komponen utama yaitu bilah, gagang, dan sarung [S1]. Struktur ini menjadi penanda identitas visual yang membedakannya dari belati atau pisau tikam lainnya di Nusantara [S5]. Material pembuatannya bervariasi, mulai dari logam besi dan baja untuk bilah, hingga kayu, gading, atau logam mulia seperti emas dan perak yang digunakan pada hulu dan warangka [S2]. Pengakuan UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Kemanusiaan Lisan dan Nonbendawi menegaskan posisi keris sebagai warisan budaya yang dilindungi secara internasional [S1]. Secara geografis, keris berakar kuat di Pulau Jawa, dengan sentra produksi dan pengembangan budaya yang terpusat di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur [S5]. Beberapa referensi menekankan bahwa keris merupakan ciri...

avatar
Kianasarayu