Ikan Mas Arsik salah satu masakan khas Batak Toba. Ikan Mas Arsik selalu ada di acara adat Batak Toba baik acara adat perkawinan dan kematian. Menu ini termasuk juga masakan yang paling popular, bahkan juga banyak orang yang menyebutkan arsik juga sebagai ikan mas bumbu kuning.
Bumbu yang dipakai untuk memasak arsik juga sangatlah khas, sebagian bumbu sangatlah istimewa lantaran memiliki kandungan sebagian komponen khas dari lokasi pegunungan Sumatera Utara, umpamanya andaliman dan asam cikala atau buah kecombrang, diluar itu arsik juga memakai rempah-rempah seperti masakan tradisional Nusantara lain seperti lengkuas serta serai dan lain lain. Andaliman juga menambah cita rasa getir dan aroma yg khas. Arsik rasanya sangat segar krn didominasi rasa asam, pedas dan asin.
Resep spesialnya ada di cara memasak ikan mas arsik enak di bawah ini.
Bahan:
– 1 ekor ikan mas atau ikan mujahir, berat sekitar 0.7 kg (dipotong & dibersihkan)
– 1 ikat kacang panjang, potong sepanjang 10 cm (sekitar 25 – 30 batang kacang panjang)
– 1 ikat bawang batak, dipotong 2
– 2-3 bijik si Hala/ pengganti asam gelurgur
– sekitar 1 liter air untuk merebus ikan hingga lunak
Bumbu dihaluskan:
– 10 bijik bawang merah
– 10 bijik bawang putih
– 3 ruas jari kunyit
– 3 ruas jari jahe
– 3 ruas jari lengkuas muda
– 3 batang serai, ambil bagian putihnya saja
– 4 buah cabai merah keriting
– 5 buah cabai rawit merah
– 10 bijik kemiri
– 2 sendok makan andaliman bumbu original, cari yang masih segar
– 1 sendok makan garam (tambahkan kalok kurang asin)
Siapkan ikan mas atau ikan mujahir, usahakan untuk menggunakan ikan mas atau mujahir yang masih hidup. Dibagian ni ada yang suka dengan sisiknya dibiarkan ikut masak, jika tidak suka dapat juga dibersihkan. Ambil dan bersihkan isi perut, buang kotoran dan empedu ikan. Lalu cuci ikan hingga bersih. Kalau ikan mas/ mujahir ada telurnya masukkan kembali ke perut ikan yang sudah dibersihkan.
Untuk proses menghilangkan bau amis pada ikan mas atau ikan mujahir Anda dapat melumuri ikan yang sudah dipotong-potong dan dibersihkan tadi dengan perasaan asam dan melumurinya dengan garam. Lalu diamkan untuk beberapa menit atau dapat menyimpannya kedalam kulkas
Masukkan semua bumbu yang akan dihaluskan ke dalam blender. Tambahkan sekitar 500 ml air asam cekala. Proses hingga bumbu halus.
Siapkan wajan yang cukup besar atau sedang lalu susun terlebih dahulu batang serai lalu masukkan ikan tepat di atas senggrai yang sudah disusun sedemikian rupa agar pada saat memasak ikan mas/ ikan mujahirnya tidak gosong.
Lali tuangkan bumbu halus ke dalam kuali yang sudah berisi ikan, lalu beri air secukupnya dan aduk hingga bumbu tadi bercampur dan merata.
Masukkan irisan kecombrang, lengkuas dan bawang Batak ke dalam perut ikan, jejalkan hingga penuh. Lumuri seluruh tubuh ikan dengan bumbu.
Juga tidak lupa masukkan semua bawang batak dan kacang panjang di permukaan kuah. Masaklah dengan api kecil hingga beberapa menit hingga air sedikit berkurang kemudian besarkan api hingga menjadi sedang dan masak hingga kuah menyusut. Sebelum kuahnya menyusut kering tetap pantau rasa garam, jika masih kurang tambahin garam secukupnya.
Jika kuah telah menyusut dan kering, sajikan si arsik ikan mas atau ikan mujahir dengan nasi panas porsinya kalau bisa sampai menggunung. Dan selamat menikmatilah.
Video: https://youtu.be/f_H903Ng8d4
Sumber: https://www.gobatak.com/ini-cara-memasak-ikan-mas-arsik-paling-sederhana-enak-patut-anda-coba-dirumah/
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...