Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Riau Riau
Hikayat Dang Gedunai, Asal Mula Naga di Laut Lepas
- 16 Mei 2018

Alkisah, pada zaman dahulu kala di daerah Riau tersebutlah seorang anak laki-laki yang bernama Dang Gedunai. Ia adalah anak yang keras kepala. Ia selalu mengikuti kemauannya sendiri dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain.

Pada suatu hari, Dang Gedunai ikut menangguk ikan bersama orang-orang di sungai. Saat orang-orang mendapat ikan, ia justru mendapatkan sebutir telur. “Dang Gedunai! Oo… Dang Gedunai, telur apakah yang kau dapatkan itu?” tanya orang-orang mengejeknya. “Telur badak”, jawab Dang Gedunai singkat.

“Badak tidak bertelur, Dang Gedunai. Badak itu beranak. Satu anaknya,” kata seorang. “Hei Dang Gedunai, lebih baik jangan kau bawa telur itu,” kata orang lain menasihatinya. “Tapi saya suka telur ini,” bantah Dang Gedunai sambil memeluk telur raksasa itu. “Lihatlah, ukurannya besar, bentuknya juga bulat lonjong, licin, dan bersih berkilat-kilat. Kalian tidak bisa melarang aku membawa telur ini. Kalau telur ini aku tinggalkan, pasti kalian yang akan mengambilnya,” ujar Dang Gedunai.

Setiba di rumah, Dang Gedunai disambut oleh emaknya. “Telur apakah itu, Dang Gedunai?” tanya Emak Dang Gedunai. “Telur badak, Mak,” jawab Dang Gedunai. “Badak tidak bertelur, anakku. Badak itu beranak satu,” jelas Emak Gedunai. Karena telur raksasa itu bentuknya unik, Emak Gedunai penasaran ingin mengetahuinya. Ia pun memerhatikan telur itu dengan seksama. Tiba-tiba Emak Gedunai tersentak kaget. “Astaga, ini telur naga! Kau jangan sekali-sekali bermain-main dengan telur ini, apalagi memakannya. Kau bisa celaka, Annakku! Kembalikan telur naga itu ke sungai,” perintah Emak Gedunai.

“Mana mungkin naga datang ke sungai itu? Ini bukan telur naga, Mak. Saya tidak mau mengembalikan telur ini ke sungai. Saya akan memakannya,” bantah Dang Gedunai. Ia pun menyimpan telur itu baik-baik. Setiap hari Emak Gedunai selalu memperingatkan anaknya agar tidak memakan telur itu, setiap hari pula Dang Gudanai bertekad akan menyantap telur itu suatu saat nanti.

Suatu pagi, Emak Gedunai mengajak Dang Gedunai pergi ke ladang, tetapi Dang Gedunai menolak dengan alasan sakit. Sebenarnya ia tidak sakit, ia hanya mencari kesempatan agar bisa memakan telur tanpa diketahui emaknya. Ketika emaknya berangkat ke ladang, Dang Gedunai segera merebus telur itu dan memakannya. Ia tampak lahap sekali, sehingga telur itu habis semua ditelannya. “Mmm…enak sekali rasanya,” kata Dang Gedunai dengan perasaan puas. “Besok aku akan ke sungai mencari telur lagi,” gumam Dang Gedunai.

Beberapa saat setelah memakan telur itu, tiba-tiba Dang Gedunai merasa sangat mengantuk. Maka, ia pun merebahkan tubuhnya di balai-balai. Dalam sekejap, ia sudah tertidur pulas. Dalam tidurnya, Dang Gedunai bermimpi didatangi seekor naga betina yang sangat besar sedang mencari telurnya yang hilang di sungai. “Hai, Anak Muda! Kamu telah mengambil telurku di sungai dan memakannya. Siapapun yang memakan telurku, maka ia akan menjelma naga sebagai pengganti anakku”. Setelah mendengar suara itu, Dang Gedunai terbangun ketakutan. Tubuhnya bermandikan keringat dan tenggorokannya kering. Dia merasa sangat haus.

Menjelang sore, Emak Dang Gedunai pulang dari ladang. Dia melihat anaknya sedang gelisah. Dang Gedunai hilir mudik ke sana ke mari mencari air. Tampaknya dia sangat kehausan. Lidahnya terjulur-julur. Semua air dalam dandang dan tempayan telah diminumnya, tetapi dia masih kehausan. Kerongkongannya bagaikan terbakar.

“Tolong ambilkan air, Mak! Saya haus sekali,” pinta Dang Gedunai pada emaknya. “Apa yang terjadi denganmu, Anakku!” tanya emaknya penasaran. “Sudahlah, Mak!” Cepatlah ambilkan air, kerongkonganku terasa panas sekali,” desak Dang Gedunai kepada emaknya. Sekarang emaknya sudah tahu kalau Dang Gedunai telah memakan telur naga itu. Segera diberinya segayung air kepada anaknya. Sekali teguk, air itupun langsung habis. Lalu, diberinya setempayan, habis pula ditenggak Dang Gedunai. Emaknya sudah kehabisan akal. Semua air telah habis di rumahnya.

Dang Gedunai masih saja kehausan. Dia pun berlari keluar dari rumahnya dan berteriak-teriak meminta air. “Ambilkan saya air! Saya haus sekali!” ratap Dang Gedunai pada orang-orang yang lewat di depan rumahnya. Orang-orang membantu memberikan air yang mereka punya. Tapi rasa haus Dang Gedunai tak reda juga. Dang Gedunai kemudian pergi ke perigi (telaga) meminum habis airnya. Emaknya yang kebingungan lalu membawa Dang Gedunai ke danau. Kering pula air danau dihirupnya. Akhirnya emaknya membawa Dang Gedunai ke sungai.

Sesampai di sungai, Dang Gedunai berkata kepada emaknya, “Mak, saya akan menghiliri sungai ini hingga ke laut lepas. Saya akan menjelma menjadi naga, Dang Gedunai namanya.” Itulah kata-kata terakhir Dang Gedunai kepada emaknya. “Dang Gedunai, Anakku? Bukankah emak telah melarangmu, Nak? Kau langgar tegahanku, dan inilah akibatnya,” kata Emak Dang Gedunai meratap, menyesali perbuatan anaknya.

Dang Gedunai telah hilang di laut lepas. Emak Dang Gedunai tak mau beranjak dari tepi laut. Dia terus menangis dan meratapi anaknya itu siang dan malam hingga airmatanya kering. Dia terus menunggu dan berharap Dang Gedunai muncul kembali.

Beberapa waktu kemudian, tampak air laut bergelombang datang memecah pantai. Seekor naga muncul ke permukaan air, mengeluarkan suara yang mirip dengan suara Dang Gedunai, “Mak, saya sudah menjadi naga. Tempat tinggalku sekarang di laut. Kalau Mak rindu kepadaku, pandanglah laut lepas. Gelombang yang datang ke pantai itu adalah jejak langkahku. Jika laut tenang, berarti saya sedang tidur. Tetapi jika laut bergelombang besar, berarti saya sedang mencari makan.”

“Dang Gedunai, Anakku …. Mohon ampunlah pada Tuhan karena telah membantah kata-kata emakmu ini. Walaupun kau telah menjadi naga, emakmu tetap menyayangimu, Nak,” Emak Dang Gedunai berseru sambil berusaha menggapai naga itu. Namun, dalam sekejap naga itu lenyap, tinggal gelombang-gelombang kecil yang memecah pantai.

Sejak peritiwa itu, para nelayan tidak berani turun melaut jika gelombang bergulung-gulung besar, karena itu berarti Dang Gedunai sedang mencari makan. Karena tubuhnya yang besar, dia memerlukan banyak makanan dan akan melahap apa saja yang ada di laut. Jika air tenang, para nelayan dapat melaut dengan aman, dan menangkap sisa-sisa ikan yang tidak termakan oleh Dang Gedunai.

* * *

Dalam cerita di atas, terdapat nilai-nilai moral yang patut dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai moral tersebut di antaranya sifat keras kepala dan sifat kasih sayang. Sifat keras kepala tercermin pada sifat Dang Gedunai yang tidak mau mendengar nasihat ibunya, agar tidak memakan telur naga yang didapatnya di sungai. Karena sifat keras kepalanya itu, Dang Gedunai mendapat ganjaran atas perbuatannya yaitu menjadi seekor naga.

Sifat keras kepala adalah sifat tidak mau menerima kebenaran. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat keras kepala adalah sangat dipantangkan. Meskipun demikian, orang tua-tua Melayu tidak serta-merta menegur dan menasihati anggota masyarakatnya dengan kata-kata yang kasar. Dalam memberikan nasihat, petuah atau “tunjuk ajar‘, orang tua-tua Melayu melakukannya dengan arif dan bijaksana, agar tidak menyinggung perasaan yang mendengarnya. Biasanya, mereka menggunakan sindiran-sindiran dengan bahasa yang terpilih, halus, dan mengandung nilai-nilai luhur yang dapat menyadarkan orang dari kekeliruannya tanpa melukai perasaannya. Tennas Effendy dalam bukunya “Ejekan” terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau, menyebutkan sejumlah sindiran-sindiran mengenai sifat keras kepala dalam bentuk ungkapan-ungkapan seperti berikut:

kalau tak mau mendengar nasehat,
alamat celaka dunia akhirat

kalau tak mau mendengar petuah orang,
martabat habis, marwah pun hilang

tanda orang tidak semenggah,
diberi nasihat menyanggah

Selain itu, dalam ajaran Islam juga disebutkan bahwa sifat keras kepala merupakan sifat yang tercela. Sifat keras kepala dapat diartikan sebagai orang yang tidak mau mendengar nasihat orang lain, termasuk nasihat orang tua. Bagi orang yang tidak mau mendengar nasihat orang tua, ia adalah anak yang durhaka. Sebagaimana yang terjadi pada Dang Gedunai dalam cerita di atas. Karena keras kepala, ia tidak menghiraukan nasihat emaknya untuk tidak memakan telur naga itu, maka akibatnya, ia menjelma menjadi naga. Karena besarnya akibat yang ditimbulkan dari sifat keras kepala, yakni membuat seseorang menjadi durhaka, maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan dalam sebuah hadisnya yang berbunyi, “Bukankah aku telah memberitahu kamu tentang ahli-ahli neraka? Mereka itu ialah orang-orang yang keras kepala, sombong, suka mengumpul harta, tetapi tidak suka membelanjakannya untuk kebaikan” (H.R.Bukhari Muslim). Karena sifat keras kepala ini adalah sifat tercela dan dipantangkan oleh tua-tua Melayu, sifat ini tidak dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai moral lain yang terkandung di dalam cerita di atas adalah sifat kasih sayang. Sifat ini tercermin pada sifat Emak Dang Gedunai yang sangat sayang terhadap Dang Gedunai, meskipun anaknya itu telah menjadi seekor naga. Kasih sayang adalah sifat terpuji yang dijunjung tinggi dalam kehidupan orang Melayu. Bagi mereka, berkasih sayang tidak hanya terbatas dalam ruang lingkup keluarga dan kaum kerabat, tetapi juga dalam bersahabat dan bermasyarakat. Orang tua-tua Melayu memberi petunjuk bahwa hidup terpuji dan hidup mulia adalah hidup dengan berkasih sayang antar sesama, tanpa membedakan suku, bangsa, kedudukan, pangkat, kekayaan, dan sebagainya. Oleh karena itu, sejak dini mereka mulai menanamkan rasa kasih sayang di dalam lingkungan keluarga, handai taulan, saudara-mara, masyarakat dan bangsa. Mereka mengajarkan anak-anaknya tentang kelebihan hidup berkasih sayang dengan menunjukkan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Keutamaan sifat berkasih sayang ini banyak dipaparkan oleh Tennas Effendy dalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” baik dalam bentuk ungkapan, syair maupun untaian pantun Melayu.

Sumber: https://histori.id/hikayat-dang-gedunai-asal-mula-naga-di-laut-lepas/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum