Haul—seperti definisinya—adalah acara peringatan hari wafat seseorang yang diadakan setahun sekali. Haul Mbah Sholeh Desa Prasung ini dilaksanakan untuk mengenang jasa-jasa Mbah Sholeh yang pertama kali membuka desa. Haul, berkaitan dengan definisi yang telah dijelaskan, identic dengan kajian yang berkaitan dengan keislaman. Acara ini diperingati oleh masyarakat desa Prasung itu sendiri.
Desa Prasung terletak di Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Berlokasi di utara Desa Banjarsari, Desa Dukuh Tengah dan Desa Damarsi; sebelah selatan dari Desa Siwalan Panji dan Desa Kemiri; serta berada di sebelah barat dari Desa Wadung Asih. Jarak Desa Prasung adalah sekitar empat sampai lima kilometer dari pusat pemerintahan otonomi daerah—alun-alun—Kabupaten Sidoarjo. Wilayah ini berada di lokasi yang cukup strategis. Untuk mengunjungi desa ini, bisa dicapai menggunakan akses jalur lingkar timur dari pusat kota, jalan-jalan kampung yang terhubung maupun jalur-jalur tikus yang bisa ditempuh sepeda motor.
Pada awalnya, wilayah desa ini merupakan daerah hutan yang berada di pinggir laut. Sebab banyak orang yang menggunakan perahu dari lesung pada saat banjir, maka wilayah pemukiman baru itu dinamakan Desa Prasung.
Mbah Sholeh—atau yang juga dikenal dengan nama Mbah Lebih adalah orang yang pertama kali babat alas (membabat hutan) untuk dijadikan pemukiman warga. Desa ini dulunya adalah hutan (alas). Islamisasi di daerah ini dilakukan oleh beliau. Oleh sebab itu, beliau kemudian dijadikan sebagai sesepuh desa. Mbah Sholeh juga merupakan salahsatu murid dari Raden Rahmat atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Ampel, yaitu salahsatu dari Walisongo—penyebar Islam di pulau Jawa.
Acara Haul Mbah Sholeh di Desa Prasung ini biasa dilaksanakan pada bulan September. Pada Jum’at Wage di bulan September, diadakan acara bernama “Jantiko Mantab” yaitu simak al-Qur’an se-Kabupaten Sidoarjo. Tidak hanya Jantiko Mantab, setiap musholla juga menyelenggarakan khataman al-Qur’an. Kemudian puncak dari haul ini adalah tahlil akbar dan pengajian yang dilakukan di makam Mbah Sholeh setelah Maghrib. Akhirnya sebagai bagian dari acara, dilaksanakan Hadrah dan Ishari setelah selang seminggu semenjak tahlil akbar dan pengajian di makam Mbah Sholeh.
Daftar pustaka:
A’ Dhom, Syuyukhil. “Sejarah Desa”. 9 Agustus 2018. http://sid.sidoarjokab.go.id/buduran-Prasung/index.php/first/artikel/57
Ucapan terimakasih:
Ustadzah saya, Roisatun Nahdliyyah.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara