Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Hantu Jawa Tengah Jawa
Hantu Wewe Gombel
- 16 Juli 2018

 Di Semarang dan Jawa Tengah berkembang mitos adanya hantu dengan sebutan Wewe Gombel. Di daerah lain dikenal dengan nama Kolong Wewe. Menilik namanya, Wewe Gombel adalah hantu "pribumi" Semarang.

Kita mulai pencarian sejarah lahirnya mitologi itu dengan mengunjungi sebuah bukit di Semarang bernama Gombel. Kawasan ini sangat dikenal. Jika kita menuju Semarang atas dari kota bawah, dipastikan kita melewati Jalan Setiabudi atau Gombel Baru dari arah Pasar Jatingaleh dan dari Jalan Setiabudi, menuju Jatingaleh melintasi Jalan Gombel Lama.

Jalan itu sesungguhnya adalah lereng bukit bernama Gombel. Di puncak bukit itu, berdiri sebuah bangunan besar yang sekarang kosong. Bangunan itu adalah bekas Hotel Sky Garden. Begitu rimbunnya pepohonan, bangunan itu tak bisa dilihat. Untuk menuju ke bangunan itu, kita bisa melewati sebuah gapura berbentuk Candi. Hingga menemukan palang besi sebagai akses masuk.

Saat ini bangunan dua lantai itu terkesan kurang terawat. Selain karena berukuran besar, penghuninya juga hanya penjaga. Adalah Kiswanto (51), salah satu penghuni bekas hotel yang tinggal di salah satu ruangan bekas hotel itu.

Hotel Sky Garden dibangun pada 1970-an dan sempat jaya pada era 1980-an kemudian ditutup pada akhir 1982 karena terjadi sengketa antara pemilik dengan bank.

”Luas lahan sekitar 12 hektare. Hotel ini memiliki 24 kamar, bar, meeting room, kolam renang, tempat parkir dan 20-an kamar yang berdiri terpisah di dekat kolam renang," kata Kiswanto.

Setelah ditutup, bekas hotel itu dijaga dan menjadi tempat tinggal keluarga Rohadi, salah satu satpam hotel sejak belum dibangun. Rohadi meninggal di tempat itu pada 2013. Istri dan anaknya, hingga kini masih tetap tinggal di salah satu kamar di lantai dua.

Secara kasat mata, bangunan itu sudah rusak dan menimbulkan kesan angker. Mereka yang tinggal di tempat itu, rata-rata memiliki ikatan sejarah, yakni sebagai bekas karyawan. Mereka patungan untuk membayar listrik dan lain-lain.

Tempat ini merupakan hotel yang mengusung konsep sebagai hotel taman. Hingga kini masih terasa sisa-sisa suasananya. Misalnya dari teras kamar, pemandangan langsung tertuju ke Kota Semarang bawah.

Tanaman penisium yang dulu hanya diletakkan dalam sebuah pot pun kini sudah menjadi besar. Pohon munggur di depan pintu gerbang pun ukurannya juga cukup besar.

”Dulu kalau ada pejabat yang datang menginap, datangnya naik helikopter. Di bagian rooftop ada helipad-nya. Tapi sekarang ya kondisinya seperti ini. Kami bersama penghuni lain hanya menjaga dan membersihkan mana yang terlihat kotor melalui kerja bakti,” kata Sigit, penghuni lainnya.

Tapi benarkah tempat ini menjadi markas hantu legendaris bernama Wewe Gombel? Dalam "666 Misteri Paling Heboh: Indonesia & Dunia" yang ditulis Tim Pustaka Horor diceritakan bahwa Wewe Gombel atau di tempat lain disebut Kolong Wewe, merupakan jelmaan seorang wanita yang rohnya gentayangan. Itu disebabkan karena ia mati bunuh diri di sebuah pohon, di kawasan Bukit Gombel.

Sebelum bunuh diri, perempuan itu memergoki suaminya sedang meniduri perempuan lain. Karena marah, sang suami itupun dibunuh. Warga Gombel mengetahui hal itu, maka wanita itu dikejar-kejar agar bertanggung jawab. Tak kuasa bertahan dan menjaga harga dirinya sebagai istri, perempuan itupun akhirnya bunuh diri.

Sementara itu penyebab selingkuhnya sang suami, karena perempuan itu tak mampu memberikan keturunan. Selain ditinggal selingkuh, perempuan itu juga diasingkan sampai menjadi gila. Ia menjadi olok-olok warga juga.

Mitos yang hidup di masyarakat, perwujudan Wewe Gombel adalah perempuan yang bisa berubah wujud menjadi siapa saja, dengan ukuran payudara yang luar biasa besarnya. Ia jahil karena sering menculik anak-anak kecil dan menyembunyikannya.

"Biasanya sebelum menculik, ia akan menakut-nakuti orang tuanya dulu. Wewe Gombel itu menculik anak-anak karena membela mereka, kalau orang tuanya sudah menyesal, Wewe Gombel akan menunjukkan tempat disembunyikannya," kata Suryono, warga Tandang.

Namun jika si anak yang diculik akan diberi makan kotoran manusia. Kotoran itu diubah menjadi terlihat seperti makanan lezat yang paling ia sukai. Tujuannya memberikan kotoran manusia tersebut adalah membuat anak menjadi bisu agar tidak bisa menceritakan apa yang telah ia alami ataupun bentuk dari wewe gombel yang menyeramkan tersebut.

 

Sosok Wewe Gombel diabadikan menjadi salah satu motif Batik Semarang oleh Sanggar Batik Semarang 16, dan mendapat hak paten. (foto : Liputan6.com / Edhie Prayitno Ige)


Cerita hantu wewe gombel ini juga sering digunakan oleh orangtua untuk menakut-nakuti anak agar tidak keluyuran keluar rumah sendirian. Untuk dapat menemukan anak yang diculik Wewe Gombel, keluarga harus berkeliling dan membunyikan bunyi-bunyian dari peralatan dapur.

Bunyi itu sebagai musik mengiringi nyanyian dengan syair statis namun ritmis "blek-blek ting, blek-blek ting (menyebut nama anak yang hilang) metuo". Nyanyian itu menjadi sebuah mantera mengelilingi kampung. Nantinya sang anak akan muncul dengan sendirinya.

Lalu benarkah Gombel ini sebagai markas sang hantu legendaris? Tak ada satupun yang bisa menjelaskan, termasuk para penghuni bangunan kuno bekas hotel itu. Tak satupun yang bersedia menceritakan pengalaman mistisnya menjadi penjaga "markas Wewe Gombel".

Yang jelas mitos Wewe Gombel itu persebarannya sangat luas. Bukan hanya ngetop di Semarang, namun juga sampai wilayah Wonogiri, Sragen, Klaten, Yogyakarta, Purworejo, dan beberapa kota lain di Jawa Tengah. Wewe Gombel adalah salah satu hantu seleb yang popularitasnya tak lekang oleh jaman, termasuk oleh teknologi.

 

Sumber: https://www.liputan6.com/regional/read/2869163/melacak-jejak-mitos-hantu-wewe-gombel

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu