Maluku Utara seakan tak pernah habis dengan kekhasan kulinernya. Ada banyak sekali kuliner yang beraroma rempah, tak hanya makanan “besar”, tapi juga cemilan. Seperti Halua Kenari misalnya.
Halua Kenari adalah salah satu cemilan khas Maluku Utara, makanan ringan ini terbuat dari kenari dan juga gula merah Tentu saja sudah bisa dibayangkan bagaimana legitnya.
Sebenarnya cemilan ini juga terdapat di daerah lain, seperti Manado atau Ambon. Namun rasanya makanan ini lebih identik dengan Maluku Utara. Sebab ada satu daerah di Maluku Utara yang merupakan daerah berpenghasilan kenari, yakni Makian, berada di kabupaten Halmahera Selatan.
Orang Makian sendiri awalnya tidak memelihara pohon kenari, seperti tetangganya Ternate atau Tidore. Orang Makian awalnya menanam Cengkeh dan Pala. Namun ketika ada kebijakan dari pemerintah kolonial yang mengharuskan kedua komoditas unggulan tersebut dibumi hanguskan guna melancarkan proyek monopoli mereka.
Maka sejak itulah masyarakat Makian beralih menanam pohon kenari, dan mulai saat itu kenari menjadi dekat dengan kehidupan masyarakat Maluku Utara.
Makanan ini tak hanya enak namun juga bermanfaat bagi kesehatan, berbahan dasar kacang kenari yang sarat akan manfaat. Keistimewaan kenari bagi kesehatan antara lain dapat mendukung program diet kamu. Sebab kenari memiliki kadar lemak yang rendah, tak seperti kacang-kacang umumnya, kenari juga kaya akan protein.
Tempat yang menyediakan:
Pasar Mardika
Pantai, Kel Rijali, Sirimau, Kel Rijali, Ambon, Kota Ambon, Maluku
Sumber : http://onweekend.co/halua-kenari-cemilan-khas-maluku-utara/
Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara