Makanan Minuman
Makanan Minuman
kuliner Jambi Jambi
Gulai Tapek Ikan
- 2 Desember 2017

Jika Sumatera Selatan punya pempek dan Sumatera Barat punya gulai, maka Jambi punya gulai tepek ikan. Ikan tenggiri atau gabus diadon bersama tepung sagu dan bawang putih, kemudian dibentuk seperti pempek lenjer dan dimasak hingga matang. Adonan ini lalu dicampurkan ke dalam kuah santan gulai yang gurih asam. Gulai tepek ikan jadi suguhan khas saat pernikahan, kenduri, atau acara adat di Jambi. Sajian berkuah santan ini berisi potongan ikan tenggiri atau gabus yang diolah mirip pempek.

Bahan-bahan:

  • 1 1/2 kg ikan gabus/tenggiri/belido giling
  • 500 gr Tepung Sagu
  • 8 siung Bawang Putih
  • Garam halus secukupnya
  • 2 Ltr Air untuk merebus

Cara Membuat Masakan Gulai Tepek Ikan yang Lezat:

  1. Haluskan bawang putih,tambahkan garam, sisihkan.
  2. Campur ikan gabus giling, tepung sagu dan bawang putih yang sudah dihaluskan
  3. Uleni hingga adonan bisa di bentuk bulat memanjang (seperti bentuk pempek lenjer)
  4. Rebuslah adonan Tepek dalam air mendidih hingga masak/terapung
  5. setelah agak dingin, potong serong menjadi beberapa bagian

Bahan Kuah Gulai :

  • 8 butir kemiri
  • 10 siung bawang merah
  • 9 siung bawang putih
  • 2 batang serai
  • 2 ruas jari kunyit
  • 3ruas jari lengkuas
  • 3 ruas jari jahe
  • 17buah Cabai merah
  • 1 sdt Adas Manis
  • Garam secukupnya
  • gula secukupnya
  • 5 sdm Minyak untuk menumis
  • 900 ml Santan Kental dr 1,5 Kelapa
  • 1 buah Nanas ( potong-potong spt utk potongan rujak )

Cara Membuat kuah Gulai Tepek Ikan yang Lezat:

  1. Potong kecil-kecil lengkuas,kunyit,jahe,serai dan cabe merah
  2. Panaskan minyak untuk menumis, masukan bawang merah, bawang putih, kemiri, dan potongan lengkuas,kunyit,serai,cabe merah. Setelah harum masukan Adas manis,lalu angkat dan haluskan semua bahan yang ditumis tadi
  3.  Masak santan, masukan bahan-bahan  bumbu yang sudah dihaluskan, aduk pelan-pelan agar santan tidak pecah.
  4. Setelah santan mendidih, masukan potongan-potongan tepek ikan hingga santan sedikit mengental
  5.  Masukan potongan nanas,tambah garam & gula secukupnya sesuai dengan selera.
  6. Angkat dan hidangkan Gulai Tepek Ikan,taburi dengan irisan kecil-kecil daun kunyit.

 

 

Alamat Penjual:

Resto Kajang Lako

Jalan MT Haryono nomor 4 Telanai Pura, Jambi (Depan RSUD Raden Mattaher)

 

http://widhiaanugrah.com/resep-masakan-gulai-tepek-ikan-yang-lezat/

http://www.resepbangsa.com/makanan/detail/gulai-tepek-ikan

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu