Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Sumatera Barat Pariaman
Gulai Paku
- 11 September 2017

Selamat Makan siang Netizen Kuliner.

Gulai paku adalah gulai yang menggunakan batang dan daun paku/pakis yang masih muda, sayur gulai paku biasanya dimakan bersama dengan ketupat atau orang minang biasa menyebutnya dengan ketupek. Cita rasa katupek ini tidak bisa dipalsukan oleh bahan apapun, begitu pula teksturnya. Katupek yang baik adalah katupek yang padat dan tidak lembek. Biasanya bila di buka daun kelapanya, warna katupek pada bagian luar akan menjadi sedikit kehijauan, warna ini pun tidak bisa dijiplak dengan bahan lain.

Gulai paku adalah makanan yang cukup populer di Sumatera Barat terutama di daerah pesisir barat. Gulai ini berbahan dasar daun pakis (paku), dengan bumbu santan, laos (lengkuas), cabe rawit hijau, asam kandis, dan kunyit. Gulai paku ini biasa disajikan dengan ketupat. Ketupat gulai paku adalah makanan khass daerah Pariaman.

Kuah gulai paku terbuat dari kaldu udang rebus yang dicampur dengan santan sehingga makanan katupek gulai paku memiliki rasa yang gurih dan nikmat.
 
 
 Resep  Gulai Paku
 
Bahan Dasar
 
•1atau 2 ikat pakis yang sudah ada daunnya tentunya yang masih muda,lalu potong potong 1/4 santan cair
•3 sampai 5 lembar daun jeruk purut
•1 lbr daun kunyit
•1 batang seri digeprek
•2 buah asam kandis
•garam dan penyedap sesuai selera
Bumbu Halus
•4 bh bawang merah
•3 siung bawang putih
•10 bh cabai rawit
•1 cm kunyit
•2 cm lengkuas
•2 cm jahe
Pelengkap
•Ketupat, Kerupuk merah, bawang goreng, telur rebus.
 
Cara Membuat :
 
1.Bersihkan pakis. Potong-potong pakis 4 cm.
2.Campur santan, bersama bumbu halus, daun jeruk, serai, dan daun kunyit hingga mendidih dan harum. Jaga agar santan tidak pecah dengan diaduk terus.
3.Masukkan daun pakis, asam kandis, garam dan penyedap. Masak dengan api sedang hingga pakis lunak dan matang. Angkat, hidangkan bersama pelengkap.
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker