Warga Nagari Ampek Koto, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, mempunyai tradisi unik saat menyambut Hari Raya Kurban, mereka tumpah ruah ke rumah-rumah ibadah mengikuti ritual dan tradisi makan “gulai bukek” daging korban secara bersama-sama.
Tradisi makan gulai bukek bersama itu telah berlangsung sejak lama, menurut cerita orang tua-tua setempat, asal tradisi itu dari Kampuang Tanjuang yang merupakan sebuah kampung dalam jorong di Palembayan Tangah.
Munculnya tradisi itu karena waktu dulu hewan korban yang dipotong tidak sebanyak sekarang, sehingga banyak warga yang tidak kebagian dagingnya, agar semua warga dapat mengecap daging korban maka para ninik mamak dan ulama membuat kesepakatan bahwa daging hewan korban sebaiknya dijadikan gulai bukek dan dimakan bersama-sama di rumah ibadah tempat pemotongan hewan dilakukan.
Tradisi itu kemudian berkembang ke seluruh kampung di Nagari Ampek Koto karena dirasakan banyak manfaatnya. Manfaatnya, dengan kegiatan itu seluruh warga dapat makan gulai bukek dan juga dapat bersilaturrahmi dalam suasana gembira. Namun tradisi itu hanya ada di Nagari Ampek Koto, pada nagari lain di Kecamatan Palembayan tidak ditemui.
Penyelenggaraan makan gulai bukek yang paling ramai dilakukan pada dua hari setelah hari Raya Idul Adha, walau sebagian ada yang menyelenggarakannya sesudah Shalat Idul Adha. Siapa saja boleh ikut dalam tradisi makan bersama itu , bahkan warga Palembayan yang merantau di berbagai daerah Sumbar banyak yang pulang kampung untuk mengikuti tradisi makan gulai bukek bersama.
Sampai sekarang tradisi itu masih kental, hampir semua rumah ibadah baik masjid maupun surau menyelenggarakan tradisi makan gulai bukek bersama. Kalau dulu semua daging hewam korban dijadikan gulai bukek, tetapi karena jumlah sapi yang dipotong semakin banyak, maka sekarang sebagian dagingnya dibagi-bagikan ke rumah warga sekitar.
Gulai bukek merupakan gulai khas Palembayan yang wajib disuguhkan pada acara adat seperti helat perkawinan dan batagak pangulu.Bahan gulainya terdiri dari daging, cabai, sedikit santan kelapa, tepung beras dan sejumlah bumbu dapur lainnya, sebagai campuran boleh ditambahkan pisang muda, cubadak dan lain-lain, namun untuk gulai bukek daging korban tidak ada campuran lain, semuanya daging dan isi perut saja. Kuah gulai bukek kental seperti kuah sate.
Tata cara penyelenggaraan makan gulai bukek bersama itu, gulai dibuat oleh panitia penyelenggara korban, nasi dibawa oleh peserta korban, sementara warga yang datang bebas mengambil gulai bukek ke dalam kancah, sehingga boleh makan sepuasnya.
Tradisi ini dipertahankan dan selalu diadakan baik dalam suasa Idul Adha maupun tidak karena makna yang terkandung di dalamnya tentang kebersamaan yang bisa menjalin keakraban hubungan silaturahmi.
Resep:
Bahan
Daging/babat (babek).
Bumbu gulai giling (bawang merah + bawang putih + lengkuas + jahe (sipadeh) + kunyit)
Daun limau purut, daun salam, daun kunyit
Serai
Bumbu kambing
Cabe (lado) merah giling
Garam secukupnya
Santan pekat
Bawang merah yang telah diiris
Santan
Tepung beras
Cara Membuat
Daging direbus dengan sedikit bumbu, 1/2 kg daging, 1/2 sdm cabai, bumbu 1 sdm.
Tumis irisan bawang merah.
Tambahkan bumbu, cabai, bumbu kambing.
Masukkan tumisan ke dalam wadah tempat daging direbus lalu aduk rata.
Tambahkan tepung beras yang telah diaduk bersama santan lalu aduk rata.
Catatan
Untuk acara kenduri/pesta adat (baralek) di Palembayan, dahulunya gulai bukek ini diisi dengan pisang batudan dimakan dengan rendang.
Kuah gulai bukek juga bisa dijadikan kuah dari kerupuk kuah.
Alamat & Kontak Penjual:
Garuda
Jl. Sultan Iskandar Muda No. 79D Pondok Indah, Jakarta Selatan
(021) 7246999
Sumber:
https://raun2nomaden.wordpress.com/tag/gulai-bukek/
https://www.infosumbar.net/minangkabau/tradisi-makan-gulai-bukek-di-palembayan/
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...