Permainan Tradisional
Permainan Tradisional
Permainan Tradisional Jawa Barat Karawang
Gobak Sodor
- 28 September 2013

Gobak sodor, permainan tradisional tempo dulu, merupakan jenis permainan anak-anak yang kerap dimainkan oleh anak-anak Indonesia terutama pada malam hari sewaktu bulan purnama. laki-laki perempuan semua bisa mengikuti permainan ini. Permainan ini meriah sebagai bentuk perayaan bulan purnama dimana sinarnya menerangi bumi Indonesia seperti di siang hari. Dulu memang belum ada listrik masuk. Sehingga satu hal yang sangat istimewa bila bulan sedang purnama. Permainan gobak sodor ini diramaikan anak-anak sekitar jam 19.00-21.00. Waktu ini disesuaikan dengan jam belajar yang sudah selesai dan jam tidur mereka selanjutnya. Hampir seluruh penduduk desa keluar rumah hanya untuk sekedar menikmati terangnya sinar bulan purnama yang dulu terasa lebih indah. Gobak sodor dimainkan dengan cara berkelompok. 10 orang dibagi menjadi 2 kelompok. pembagian kelompok harus secara adil. Ada laki-laki ada perempuan. Ada anak yang umurnya masih muda ada yang sudah senior. Semua dibagi rata. kemudian terbentuklah 2 kelompok, satu kelompok penyerang, satu kelompok bertahan.

Untuk menentukan kelompok mana dulu yang main digunakan teknik pingsut yang dilakukan oleh kapten/ketua kelompok. Yang menang menjadi penyerang dan menempatkan posisidi depan “rumah” yang harus dijaga oleh kelompok bertahan. Rumah ini terdiri dari 6 ruangan imajiner yang semuanya dipetak-petak di sebidang tanah yang di gambar menyerupai ruangan rumah. sayap kanan kiri diisahkan oleh garis tengah yang memanjang dari depan hingga belakang yang nantinya ditunggu oleh satu orang tim bertahan. Di garis inilah dia bebas berlari menguasai garisnya yang harus dipertahankan jangan sampai dilewati oleh tim penyerang. Kemudian masing-masing sayap kanan dan kiri dibagi 3 bagian yang sama menjadi kamar depan, tengah dan belakang kanan dan kiri. Dimana masing-masing garis yang membatasi kamar depan dengan tengah dan garis yang membatasi kamar tengah dan belakang serta garis depan dan belakang ditempati oleh anggota tim bertahan lainnya. sehingga dalam satu episode main masing-masing tim harus mempunyai 5 orang anggota. Untuk garis “rumah” nya digunakan abu dapur. Digunakan abu dapur supaya di malam hari lebih terlihat nyata garisnya dengan bantuan sinar bulan purnama.

Selain itu abu dapur ini juga bisa didapatkan secara gratis. Teknik permainan ini sangat sederhana. Bagi kelompok penyerang yang menempatkan diri di depan rumah harus bisa berhasil masuk menyusup ke seluruh bagian rumah dan harus berhasil sampai di belakang rumah dengan selamat tanpa terpegang oleh anggota kelompok yang bertahan. Sedangkan untuk kelompok bertahan harus bisa mempertahankan rumahnya supaya tidak terbobol kemasukan lawan. Mereka mempertahankan rumahnya dengan cara menempati garis-garis rumah dan diperbolehkan lari-jalan menguasai garisnya agar jangan sampai terelewati oleh lawan. Mereka menggunakan tangan maupun kaki untuk menyentuh salah satu anggota tim penyerang. 

Jika ada salah satu anggota tim penyerang yang tersentuh di garis manapun, depan tengah atau belakang maka posisi kelompok harus bergantian. Tim penyerang berganti menjadi tim bertahan dan tim bertahan berubah menjadi tim penyerang. pada permainan ini, yang paling jadi target operasi adalah anak-anak yang masih junior, yang tekniknya masih lemah dan kurang gesit. Biasanya untuk anak yang muda ini harus mengandalkan seniornya untuk membantunya melewati rintangan-rintangan tim bertahan. Kesulitan untuk menang bagi tim dengan salah satu anggotanya masih junior. Menariknya permainan ini dituntut untuk kerjasama saling membantu melewati rintangan yang dijaga oleh tim bertahan. tidak hanya mengandalkan kemampuan lari dan mengerem kecepatan, permainan ini juga syarat dengan taktiknya yang harus jeli dan gesit. Permainan ini selain menguras pikiran dengan taktik yang jitu juga menguras tenaga karena harus lari menyusup sekaligus menghindar dari tangkapan lawan, sedang bagi tim bertahan harus lari sepanjang garis yang mereka jaga agar tidak sampai kebobolan. Indahnya nostalgia masa kecil. Hampir puluhan tahun yang lalu hal ini menjadi favorit bagi semua anak Indonesia. Sekarang mungkin sudah tidak pernah bisa kita temui lagi permainan ini. Permainan yang bila dijalankan begitu mudah namun menguras tenaga juga untuk menguraikannya. Bermain tidak sesulit menjelaskannya, kita hanya perlu lari, berhenti, dan menghindar atau kita harus lari, berusaha menangkap lawan itu saja.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu