Goal Cup adalah permainan sederhana namun seru dilakukan dan tidak perlu mengeluarkan dana yang berarti. Cukup berbekal bola plastik berdiameter kurang lebih 20 cm dan jalan berupa tanah, paving maupun cor-coran sekitar rumah pedesaan yang relatif sepi sebagai tempatnya, sudah bisa dilakukan dengan mudahnya. Permainan ini biasanya dilakukan oleh laki-laki bocah hingga remaja. Semakin banyak yang ikut bermain semakin asyik pula untuk memainkannya. Goal Cup dimainkan dengan mencari atau membuat tempat cekung untuk bola tersebut diletakkan, lalu semua pemain akan menentukan siapa yang akan berjaga untuk bola itu dengan cara hompimpah. Setelah tersisa satu pemain untuk berjaga, pemain lainnya akan segera mencari tempat sembunyi di sekitar area bermain itu dengan cara penjaga menghitung 1 sampai 20 tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat dilakukan dengan berjongkok dan mendekap bola di bawahnya dengan mata tertutup oleh kedua tangannya pandangan ke arah bola. Setelah hitungan selesai, dipastikan semuanya sudah bersembunyi menyisakan penjaga bola. Lalu si penjaga mencari semua pemain lainnya dengan cara menyebut nama temannya kemudian lari secepat mungkin untuk menginjak pelan bolanya dan berkata "Goal Cup". Pemain yang sudah terkena "Goal Cup" akan berhenti di sekitar tempat bola tersebut guna menunggu penyelamatnya . Penyelamat itu adalah pemain yang belum terkena "Goal Cup" dan lari ke tempat bola untuk menendang sekencang-kencangnya supaya jauh dari tempat bola, lalu semua pemain kecuali penjaga langsung berhamburan untuk mencari tempat bersembunyi lagi sembari penjaga mengambil bola untuk meletakkan pada tempatnya. Demikian seterusnya si penjaga mematikan para pemain sampai semuanya terkena "Goal Cup". Apabila di tengah permainan mungkin kurang satu atau beberapa anak yang belum terkena "Goal Cup" ada hal yang membuat bola keluar dari cekungannya(mungkin karena angin), pemain yang mati terkena "Goal Cup" pun boleh bersembunyi lagi sampai penjaga meletakkan bola itu kembali ke tempatnya.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara