Jaarbeurs sendiri artinya tempat pameran. Kira-kira sekarang seperti Gedung Landmark di Jalan Braga yang sering digunakan untuk pameran, atau Bandung Convention Center di Jalan Soekarno Hatta yang juga sering dijadikan tempat pameran.

Gedung Jaarbeurs Jalan Aceh 50 , Bandung. | Foto serbabandung.com #serbabandung
Gedung ini dibangun atas prakarsa Wali Kota Bandung B. Coops dan Bandoeng Vooruit, pada 1920-1941. Gedung utama Jaarbeurs adalah hasil rancangan arsitek bersaudara C.P Wolff Schomaker dan R.L.A Schomaker.
Awalnya pameran diselenggarakan di sebuah lapangan olahraga Nederland Indie Athletiek Unie – NIAU , sekarang Lapangan Saparua. Pameran yang berlangsung pada 1920 sampai 1924 itu menggunakan bangunan semipermanen, seperti stan di pameran yang diselenggarakan sekarang.
Pada 1925 gedung utama Jaarbeurs berdiri. Pameran dan tempat hiburan pun pindah ke kompleks yang berada di sebrang lapangan tersebut. Acara bursa dagang tahunan ini berakhir setelah Jepang masuk ke Indonesia pada 1942.
Di gedung bergaya art deco ini terdapat tiga patung torso di atas bagian depan gedung itu. Adapun di bawahnya terdapat tulisan Jaarbeurs. Ketiga patung pernah ini ditutup dalam jangka waktu yang lama.
Gedung yang berada Jalan Aceh, No. 50, itu sekarang menjadi Gedung Komando Pembina Doktrin Pendidika dan Latihan TNI AD (Kodiklat TNI) AD. Masyarakat sering menyebut gedung ini gedung Kologdam.
Di gedung yang bernama Gedung Moh Toha yang berada di Kompleks Kologdam kerap digunakan untuk resepsi pernikahan oleh warga Bandung. Masih di Kompleks Kologdam terdapat masjid bernama Junudurrahman yang juga kerap digunakan untuk akad nikah. *
sumber :https://www.serbabandung.com/gedung-jaarbeurs/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara