Permainan Tradisional
Permainan Tradisional
Permainan Betawi DKI Jakarta Betawi
Gasing
- 23 Oktober 2015

Gasing  adalah salah satu jenis permainan tradisional betawi yang menggunakan alat yang bisa berputar pada  porosnya. Pada umumnya alat yang digunakan dalam permainan  gasing ini terbuat dari kayu, namun ada juga yang dibuat dari plastik atau bahan lainnya. Tali gasing sendiri dibuat dari nilon, namun untuk tali gasing tradisional umumnya dibuat dari kulit pohon. Permainan ini dimainkan di tanah lapang dengan lingkaran berdiameter 0.5-1 meter.

 

Jenis Permainan Gasing

di betawi dikenal  tiga jenis permainan gasing.

  • Gasing Ambilan

Setiap pemain memasang satu gasing dalam lingkaran. Setelah pengundian dalam permainan ini, peserta yang berhak bisa lebih dulu memukulkan gasingnya ke gasing lain ke lingkaran. Jika gasing yang menjadi target bisa keluar lingkaran, maka pemilik gasing tersebut akan menjadi pemukul.

  • Gasing Cocongan

Setiap peserta menaruh gasing pasangannya dalam lingkaran dan ia harus mengeluarkan gasing pasangannya itu.  Setiap pemain yang memasang akan dipukul secara cocog oleh pemukul, dan jika bisa mematahkan gasing lawan maka ia akan menjadi pemenang. Sementara pemain yang tidak bisa mengeluarkan atau paling belakangan mengeluarkan gasing pasangannya, maka ia dinyatakan kalah dan harus rela dicocog dari gasing pemain lainnya. Gasing yang tidak keluar atau paling akhir keluar lingkaran dinyatakan kalah.

  • Gasing Angonan

Dalam permainan gasing ini, gasing yang berputar dan berhenti di dekat garis lingkaran maka akan dianggap kalah. Maka para peserta lainnya boleh memukul gasing yang kalah tersebut secara bergiliran agar keluar lingkaran. Bagi pemain yang gasingnya kalah, ia harus berusaha memasukkan gasingnya ke dalam lingkaran dan jika ia berhasil maka permainan akan diulang.

Pola Permainan Gasing

Pada awalnya, gangsing dimainkan dengan cara melilitkan tali pada paku yang ada pada gasing. Kemudian tali gasing ditarik hingga membuat gasing berputar di arena yang sudah disiapkan.Tidak ada batasan waktu yang tetap untuk bermain gangsing tergantung kapan gasing tersebut akan berhenti berputar.

Organisasi Pemain Gasing

Permainan ini juga sudah mempunyai organisasi yang menaunginya, yaitu PERGASI (Persatuan Gasing Seluruh Indonesia), dan sudah ada pengurusnya di setiap propinsi. Tidak ada batasan umur dan jumlah peserta dalam permainan ini, bahkan semakin banyak yang bermain, semakin seru.

 

 

source : http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Gasing

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker