Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Jawa Tengah Solo
Galantin
- 25 Agustus 2017

Galantin atau galantine merupakan makanan yang berasal dari Perancis. Proses pengolahannya cukup sulit sehingga saat itu galantin termasuk ke dalam makanan mewah yang hanya disajikan pada acara-acara khusus saja. Bahan utama pembuatan galantin adalah ikan dan juga berbagai daging ternak seperti sapi, kambing, ayam, babi, bebek, dan lainnya. Di Indonesia sendiri, galantin yang paling populer biasanya dibuat dari bahan daging sapi dan daging ayam. Meskipun berasal dari Perancis, namun di Indonesia galantin cukup identik dengan kota Solo dan biasanya dijadikan sebagai hidangan utama di berbagai acara hajatan seperti pernikahan, sunatan, dan acara besar lainnya. Galantin biasanya disajikan satu piring dengan bahan pelengkapnya seperti wortel, buncis, kentang, dan sayuran lainnya.

 

Bahan-bahan untuk memasak galantine adalah sebagai berikut :

  • 500    gram daging sapi cincang 
  • 50      gram suun, potong 10 cm, lalu rendam sampai lunak 
  • 2        potong roti tawar, direndam air panas, kemudian diperas 
  • 2        butir telur, kocok sebentar 
  • 1        sendok tehh kecap manis 
  • ½       sendok tehh merica bubuk 
  • ¼       sendok tehh pala bubuk 
  • 1        sendok tehh garam

Saus :

  • 1        buah bawang putih, dicincang halus 
  • 4        buah bawang merah, dicincang halus 
  • 1        sendok makan margarin, (untuk menumis) 
  • 150    cc kaldu
  •  2       sendok makan kecap manis 
  • 1        sendok makan saus tomat 
  • ½       sendok tehh merica bubuk 
  • ¼       sendok tehh pala bubuk 
  • ½       sendok tehh garam 
  • 1        sendok tehh tepung maizena, yang dicairkan dengan sedikit air

 

Cara membuat:

  1. Langkah awal, campur daging dengan bahan lainnya, kemudian aduk sampai rata. Ambil kaleng bekas susu kental manis, cuci bersih, alasi dengan daun pisang/ plastik setinggi 2 cm. 
  2. Selanjutnya, masukkan adonan ke dalam kaleng, kukus sampai matang. Angkat, keluarkan dari dandang, dinginkan. Keluarkan dari cetakan, lalu digoreng dengan margarin. Iris setebal 1 cm. Hidangkan dengan saus, kentang goreng, dan sayuran rebus.

 

Cara membuat saus :

Pertama, kita tumis bawang putih dan bawang merah sampai layu, tuangi kaldu, kemudian masukkan bahan lainnya, kentalkan dengan tepung maizena.

 

Catatan :

Bila tidak ada kaleng, bisa digulung dengan daun pisang, semat kedua ujungnya dengan tusuk gigi, lalu dikukus.

 

 

Sumber:

http://www.kuliner123.com/wp-content/uploads/2016/02/Cara-Buat-Galantin-Daging-Sapi-Kuliner-Solo-Enak.jpg

https://kulinercorner.blogspot.co.id/2016/09/resep-galantin-daging-sapi-khas-solo.html?m=0

https://bacaterus.com/resep-galantin-daging-sapi/

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker