Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan
kesenian tradisonal DKI Jakarta jakarta
Fenomena Pengamen Seni Tradisional yang Terlupakan #DaftarSB19
- 14 Februari 2019

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sebuah kebudayaan dalam perkembangannya menyangkut masyarakat dan pelestariannya, dapat berubah seiring berjalannya waktu. Kebudayaan akan berkembang jika masyarakat memperlakukan kebudayaan seperti barang berharga yang harus dijaga. Namun, kebudayaan yang hanya tertera dalam catatan sejarah lama kelamaan akan pudar bahkan hilang.

Dulunya, masyarakat sangat cinta dengan kesenian yang merupakan salah satu kebudayaan warisan dari nenek moyang bangsa Indonesia. Kesenian merupakan bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Selain mengekspresikan rasa keindahan, kesenian juga dapat mempererat tali persaudaraan dan rasa solidaritas masyarakat.

Namun, dewasa ini, kebudayaan Indonesia terutama pada bidang seni tradisional sudah mulai terasingkan. Peranannya di hati masyarakat khususnya anak muda sudah tergantikan oleh kesenian dan kebudayaan dari luar. Mulai dari anak-anak hingga masyarakat dewasa pasti tahu jika ditanya perihal kesenian luar yang mereka sukai, dibandingkan dengan kesenian tradisional negara sendiri.

Meskipun masih ada beberapa masyarakat yang melestarikan kebudayaan Indonesia, tetapi tidak sedikit pula masyarakat yang merasa tak acuh. Masuknya budaya baru yang dirasa menarik membuat kecintaan masyarakat terhadap kebudayaannya sendiri menjadi pudar. Sehingga peranan kesenian dan kebudayan tradisional sedikit demi sedikit mulai memudar, bahkan dapat kandas apabila benar-benar diabaikan.

Fenomena seperti inilah yang membuat beberapa masyarakat⸺yang masih mempunyai rasa kepemilikan atas kesenian daerahnya⸺berinisiatif untuk terus menerapkan dan  melestarikannya melalui pertunjukan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Berbicara mengenai pertunjukan kesenian, memang tidak sepenuhnya terlupakan oleh masyarakat. Masih ingatkah kalian dengan penampilan kesenian musik angklung dan kolintang yang ditampilkan di sekitar jalan Gelora Bung Karno (GBK) belum lama ini?

Sekilas tentang kesenian yang sempat ditampilkan di Asian Games 2018. Dikutip dari poskotanews.com, Penonton yang hendak masuk ke stadion saat itu dijamu dengan kesenian musik menggunakan lagu dan alat musik khas Indonesia. Bahkan beberapa lagu barat sempat dinyanyikan. Diikuti ratusan seniman termasuk anak-anak, penonton khususnya warga asing dibuat kagum dengan penampilan mereka yang menyanyikan lagu-lagu kebangsaan diiringi musik dari angklung, kolintang dan kecapi dengan dipimpin delapan penyanyi. Tidak hanya menggunakan alat tradisional, seniman itu juga mengenakan busana tradisional dari seluruh provinsi di Indonesia. Sembari bernyanyi dan menari mereka nampak asyik serta kompak memainkan alat musik.

Tidak hanya tiga kesenian tersebut yang membuat masyarakat kagum melihatnya, masih ada lagi kesenian dari budaya Indonesia yang sempat membuat siapapun yang melihatnya terkagum-kagum. Salah satunya adalah penampilan tari ratoh jaroe⸺warisan budaya dari Aceh, pulau Sumatera⸺pada saat pembukaan Asian Games 2018.

Dikutip dari kumparan.com, “Aksi 1600 penari sukses mencuri perhatian dalam gelaran malam pembukaan Asian Games 2018. Aksi heroik yang ditampilkan para penari menjadi klimaks pembukaan perhelatan olah raga terbesar di Benua Asia. Mulai dari kekompakan, keindahan, hingga formasi tarian membuat penonton terkagum-kagum. Tidak hanya heran dengan kekompakan dan formasi yang ditampilkan, banyak masyarakat yang heran dengan cepatnya para penari berganti baju sebanyak 4 kali saat tampil. Putih, merah, oranye, dan ungu ketiga warna itu muncul bergantian dalam waktu hampir bersamaan. Penonton disuguhkan dengan formasi warna baju yang berubah-ubah tempat.”

Dan masih banyak lagi kesenian-kesenian yang ditampilkan pada saat itu. Semua memuji keindahan dari seni yang ditampilkan, bahkan dengan bangga mengakui bahwa itu merupakan kesenian dari daerah asal mereka.

Kembali pada fenomena kesenian tradisional yang mulai tersisihkan. Di luar dari seni yang ditampilkan saat ajang-ajang tertentu, masih banyak kesenian tradisional Indonesia yang tak terjamah oleh masyarakat kebanyakan. Kalau saja kesenian Indonesia hanya dapat dinikmati di suatu pagelaran yang besar, Lalu bagaimana dengan para seniman jalanan yang hanya dapat memberi pertunjukan yang ala kadarnya, dari satu tempat ke tempat lainnya atau bahkan layaknya seorang pengamen yang meminta dari satu rumah ke rumah lainnya? Miris sekali bukan?. Mereka seakan terlupakan dan tak dipedulikan.

Di era modern ini, sudah tidak jarang lagi kita melihat beberapa kesenian tradisional yang dipagelarkan di sisi jalan, atau ada juga yang dari rumah ke rumah. Seperti halnya kesenian ondel-ondel dari Jakarta, kuda lumping dari Pulau Jawa, jaran kepang dari Ponorogo dan kesenian-kesenian lainnya.

Ondel-ondel (dahulu lebih dikenal dengan nama Barongan) telah menjadi salah satu ikon budaya yang paling terkenal dalam kebudayaan Betawi. Bentuknya yang khas telah menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat Jakarta maupun Indonesia. Ondel-ondel dulu biasanya lekat dan selalu hadir dalam pesta-pesta rakyat Betawi. Saat ini, ondel-ondel lebih umum digunakan sebagai penyemarak acara-acara rakyat maupun budaya. Tidak jarang pula kita melihat ondel-ondel ini diarak mengitari pinggiran jalan, bahkan masuk ke dalam gang-gang sempit yang sekiranya hanya memuat satu tubuh ondel-ondel tersebut. Begitupun dengan kesenian tradisional lainnya, mereka semua mulai terabaikan. Masyarakat seakan-akan sudah tidak memiliki rasa ketertarikan pada hal-hal yang berbau tradisional, seperti kesenian itu sendiri.

Kurangnya rasa minat masyarakat dan mulai berpindahnya kecintaan mereka kepada kesenian modern, maka tidak aneh lagi jika kesenian tradisional mulai tersisihkan. Maka dari itu, tongkat estafet inilah yang akhirnya dilanjutkan oleh para pengamen jalanan yang masih ingin melestarikan kebudayaan tradisional negaranya. Walau tidak menutup kemungkinan juga karena mereka butuh uang untuk tetap melanjutkan hidup mereka.

Pengamen sering dikonotasikan negatif karena mengganggu ketertiban dan membuat suara bising yang tidak jelas sehingga menganggu masyarakat dan hal ini sangat bertentangan dengan etika masyarakat dimana nilai nilai kemanusiaan harus dijunjung tinggi demi terciptanya kemakmuran antar bangsa. Pengamen itu sendiri diartikan sebagai penari, penyanyi, atau pemain musik yg tidak tetap tempat pertunjukannya, biasanya mengadakan pertunjukan di tempat umum dengan berpindah-pindah.

Dimata masyarakat Indonesia saat ini, peran pengamen adalah suatu hal yang memalukan dan mungkin ada beberapa yang berpendapat bahwa hal itu tak layak dilakukan. Namun, bagi mereka yang sudah tidak tahu harus bekerja apa di zaman yang kata orang sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang berkualitas, dan ditambah dengan keahlian mereka dalam berseni, maka menjadi pengamen seni tradisional adalah satu-satunya pilihan yang dapat mereka lakukan. Walaupun, banyak pula yang melakukannya atas dasar keinginan dari hatinya karena rasa cinta terhadap kesenian daerahnya.

Uang yang mereka hasilkan dari mengamen mungkin tidak seberapa, jika dibandingkan dengan jerih payah mereka yang harus menyusuri jalan setiap harinya. Masyarakat memang mulai tak acuh, tidak hanya dengan kesenian yang ditampilkan, melainkan juga dengan pengamen itu sendiri. Tidak sedikit masyarakat yang malas jika harus mengeluarkan sedikit uangnya untuk sekedar memberikannya kepada para pengamen seperti mereka. Antara pengamen dengan kesenian yang ditampilkannya sama-sama tidak dipedulikan. Seperti itulah gambaran nasib para seniman jalanan saat ini.

Akan tetapi, ada hal yang mungkin menjadi perdebatan perihal kesenian tradisional dan pengamen yang membawakannya. Melihat kondisi kesenian tradisional era sekarang, pantaskah semua itu dipagelarkan dengan cara yang demikian? Yang ditampikan dari satu rumah ke rumah lainnya dengan keadaan lusuh, dekil, bau karena terkena banyak asap dan hal-hal lainnya yang dapat merusak nilai estetika dari kesenian itu sendiri. Pantaskah seperti itu? Bahkan para seniman jalanan ini pun tidak digubris sedikitpun oleh masyarakat setempat. Lalu bagaimana nasib mereka ke depannya dan bagaimana pula nasib kesenian tradisional yang sudah mereka upayakan untuk tetap dilestarikan?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu dapat kita resapi dan kita renungkan kembali. Salahkah para ‘pengamen’ ini karena sudah menggunakan kesenian daerah sebagai alasan untuk mencari uang? Tentu tidak. Alasan mereka untuk melanjutkan hidup ini tidak bisa dikambinghitamkan dan begitupun niat baik mereka untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan tradisional saat ini patut diapresiasi.

Semoga dengan dipertontonkannya kesenian tradisional oleh para pengamen seni tradisional tersebut, dapat membuat masyarakat yang buta akan kekayaan budaya di Indonesia dapat membuka matanya lebar-lebar, bahwa mereka diwariskan oleh para leluhur bangsanya berbagai anugerah berupa kesenian yang amat eloknya. Dan alangkah baiknya kalau mereka diberikan wadah atau tempat yang pantas untuk mengadakan pagelaran seni tradisional, agar kebudayaan negara kita ini tidak kalah dengan budaya luar yang semakin hari semakin diminati.

 

 

Bahan bacaan :

http://www.artikelsiana.com/2015/08/pengertian-kebudayaan-menurut-para-ahli.html#

https://kumparan.com/aulia-aminda-dhianti1510048024397/beda-ondel-ondel-dulu-dan-sekarang

https://www.kamusbesar.com/pengamen

http://poskotanews.com/2018/08/18/bikin-merinding-angklung-dan-kolintang-sambut-penonton-pembukaan-asian-games/

https://kumparan.com/@kumparannews/mengenal-ratoh-jaroe-tarian-asal-aceh-pembuka-asian-games-2018-1534730548213236689

https://www.kompasiana.com/shindy/55294a97f17e61735a8b45ab/implementasi-nilainilai-budaya-sudah-berjalankah

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum