ES PODENG
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas Es Podeng. Es Podeng sebenarnya sama dengan Es Puter, nama podeng berasal dari bahasa madura yang mempunyai arti sama, yaitu puter. Es Podeng menjadi kuliner khas Jakarta meski banyak yang mengatakan kalau es krim khas Indonesia ini dibawa oleh pedagang asal Garut ke Jakarta. Banyaknya penjual es Podeng dimana-mana, membuat jajanan yang satu ini semakin tenar. Tak heran jika dalam berbagai acara makan, masyarakat Jakarta kerap menjadikan Es Podeng sebagai salah satu sajian pencuci mulut.
Sejarah kemunculan Es Podeng ini unik. Ketika sajian es krim hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas saja saat jaman kolonial , masyarakat Indonesia membuat modifikasi es krim dengan mengganti susu dengan santan kelapa, yang kemudian menghasilkan es krim khas Indonesia yang disebut dengan nama es podeng.
Meski sudah tercipta sejak zaman kolonial, masih banyak pedagang es podeng yang masih menggunakan cara tradisional untuk memproduksinya. Alat yang digunakan untuk memproduksi es podeng adalah mesin yang diputar secara manual. Untuk menghasilkan satu tabung es podeng kira-kira dibutuhkan waktu satu jam untuk terus memutar es secara manual di dalam mesin.
Untuk menghasilkan es podeng dengan rasa yang nikmat, para penjual biasanya juga memasukkan bahan pelengkap yang lain, seperti alpukat atau potongan nangka. Selain itu, untuk mendapatkan tampilan menarik, penjual Es Podeng juga memasukkan campuran lain berupa agar-agar, roti, kacang tanah yang disangrai, dan susu kental manis di atasnya.
Ketenaran es podeng terbukti mampu menyaingi es krim karena dijual dengan harga yang sangat terjangkau di kisaran 5000-10000 rupiah. Di tengah gempuran banyaknya produksi es krim luar negeri, Es podeng masih mempunyai penggemar setianya sendiri. Bahkan Es Podeng pun dijadikan rasa/essence di merk es krim luar negri. Ini membuktikan bahwa Es Podeng pun termasuk makanan Indonesia yang mendunia.
#OSKMITB2018
<!DOCTYPE html> Hacked By Raxor404 Santiago 404 Team Website Locked By Raxor404 PLEASE PAY THE RANSOM AT indonesiacyberteamid@gmail.com
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la`` <pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><p></code></pre></code></pre></li> </ol> </code></pre></li> </ol> <p> <p> <p> </p></li> </ol> Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao"...