Makanan Minuman
Makanan Minuman
Minuman khas DKI Jakarta Jakarta
Es Kolang-kaling
- 7 Maret 2017
Bahan: 2 kg buah atap/kolang-kaling 2 liter air cucian beras *) 1, 5 liter air 4 lembar daun jeruk purut 2 lembar daun pandan, potong-potong 600 g gula pasir pewarna makanan (Merah atau Hijau) Kalau ditambahkan vanili 1 sdt untuk membuatnya lebih wangi Cara membuat: Cuci bersih kolang-kaling. Rendam kolang-kaling dalam air cucian beras selama 4 jam atau lebih agar lendir dan aroma asamnya hilang. Tiriskan. Bilas dengan air bersih, tiriskan kembali. Rebus kolang-kaling bersama air, daun jeruk, dan daun pandan hingga mendidih. Masukkan gula dan beri beberapa tetes pewarna merah. Masak terus hingga air berkurang dan kolang-kaling menjadi merah. Tiriskan kolang-kaling. Jerangkan air siropnya hingga agak kental. Masukkan kembali kolang-kaling dan masak dengan api kecil hingga air siropnya habis atau hampir kering. Angkat. Dinginkan. Taruh dalam wadah tertutup. Simpan dalam lemari es. Sumber: https://cuek.wordpress.com/2010/07/21/es-kolang-kaling/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cerita rakyat adalah cerita yang diturun-temurunkan dalam budaya suatu daerah
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita rakyat adalah cerita yang diturun-temurunkan dalam budaya suatu daerah Lead Kisah Di balik rimbunnya tradisi lisan Jawa Tengah, terselip sebuah narasi yang terus hidup melintasi zaman: kisah tentang seorang gadis bernama Timun Mas dan raksasa pemangsa bernama Buto Ijo [S1], [C2]. Cerita ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi sebagai cermin nilai-nilai kehidupan [C1], [C12]. Dalam setiap tutur katanya, tersimpan ketegangan antara keberanian seorang anak manusia melawan ancaman yang jauh lebih besar [S1], [C3]. Kisah ini menjadi bagian dari khazanah cerita rakyat Indonesia yang sarat akan makna dan etika [S3], [C11]. Melalui perjuangan Timun Mas, pendengar atau pembaca diajak untuk merenungkan pentingnya keberanian dan usaha keras dalam menghadapi rintangan hidup yang tak terduga [S1], [C5]. Nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai kompas bagi generasi muda dalam memahami etika dan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Terletak di kawasan tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, Kutai dikenal bukan hanya karena kejayaannya, tetap
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Kalimantan Timur

Terletak di kawasan tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, Kutai dikenal bukan hanya karena kejayaannya, tetap Identitas dan Asal-Usul Kerajaan Kutai Martadipura diakui sebagai entitas kerajaan bercorak Hindu tertua di Nusantara yang diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-4 Masehi [S1], [S4]. Pusat peradaban kerajaan ini secara geografis terletak di sepanjang aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, yang menjadi lokasi ditemukannya berbagai artefak peninggalan sejarah penting [S1], [S4]. Bukti material paling signifikan dari keberadaan kerajaan ini adalah prasasti Yupa, yaitu tiang batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan [S1], [S4]. Prasasti ini merupakan tonggak awal dimulainya era sejarah tertulis di Indonesia, yang memberikan informasi otentik mengenai silsilah raja dan aktivitas keagamaan pada masa tersebut [S1], [S3]. Peninggalan sejarah dari masa Kerajaan Kutai dikategorikan sebagai bagian dari kekayaan artefak kuno Nusantara yang mencakup berbagai bentuk peninggal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Sampul buku "Ringkasan Centini , karya R
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Aceh

Sampul buku "Ringkasan Centini , karya R Identitas dan Asal-Usul Serat Centhini, yang juga dikenal dengan sebutan Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan karya sastra monumental dalam khazanah kesusastraan Jawa Baru [S1]. Naskah ini dikategorikan sebagai salah satu karya sastra terbesar dalam sejarah budaya Jawa yang berfungsi sebagai ensiklopedi karena memuat cakupan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang sangat luas [S1], [S2]. Secara historis, naskah ini berasal dari lingkungan Keraton Surakarta dan ditulis pada abad ke-19 [S2]. Proses penyusunannya melibatkan tiga orang pujangga dan menghasilkan enam versi naskah yang berbeda [S2]. Penulisan karya ini membutuhkan waktu pengerjaan sekitar sembilan tahun hingga akhirnya rampung pada tahun 1823 [S2]. Karya ini disampaikan melalui bentuk tembang atau suluk, yang mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari filsafat, agama, adat istiadat, hingga ilmu praktis sehari-hari [S1], [S2]. Is...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Museum Passport jadi cara baru buat menikmati museum yang gak biasa bagi Gen Z
Alat Musik Alat Musik
Aceh

Museum Passport jadi cara baru buat menikmati museum yang gak biasa bagi Gen Z Identitas dan Asal-Usul Museum Passport merupakan sebuah inisiatif strategis yang diluncurkan oleh Museum dan Cagar Budaya (MCB) bertepatan dengan peringatan Hari Museum Internasional pada tahun 2026 [S1]. Program ini dirancang sebagai metode baru bagi publik, khususnya generasi muda atau Gen Z, untuk berinteraksi dengan koleksi museum di Indonesia melalui sistem pengumpulan stempel [S1]. Aktivasi ini secara resmi dapat diakses oleh masyarakat mulai tanggal 16 Juli 2026 di 18 museum yang berada di bawah naungan MCB [S1]. Tujuan utama dari peluncuran program ini adalah untuk meningkatkan partisipasi publik dalam pelestarian budaya serta mendorong minat generasi muda agar lebih aktif mengunjungi museum [S1]. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa Museum Passport berfungsi sebagai instrumen untuk menggerakkan keterlibatan generasi muda dalam ekosistem museum di Indonesia [S1]. Inisiatif ini m...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pempek merupakan kuliner khas Palembang yang berbahan dasar daging ikan dan sagu
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Selatan

Pempek merupakan kuliner khas Palembang yang berbahan dasar daging ikan dan sagu Identitas Kuliner Pempek merupakan produk kuliner tradisional yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, dengan komposisi utama berupa daging ikan dan tepung sagu [S1]. Makanan ini telah berkembang menjadi warisan budaya kuliner yang merepresentasikan identitas masyarakat setempat serta dikenal luas hingga ke mancanegara [S1], [S2]. Secara terminologi, penelusuran asal-usul pempek merujuk pada upaya memahami pangkal permulaan atau wujud semula dari objek budaya tersebut dalam konteks sejarah masyarakat [S3]. Secara historis, kemunculan pempek diyakini berakar pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, tepatnya sekitar abad ke-16. Perkembangan kuliner ini tidak terlepas dari proses akulturasi budaya yang melibatkan interaksi antara masyarakat lokal dengan pendatang dari Tionghoa yang menetap dan berdagang di wilayah Palembang [S1], [S2]. Narasi sejarah mencatat bahwa pemanfaatan ikan sebagai baha...

avatar
Kianasarayu