Sewaktu kalian kecil pasti pernah merasakan es yang satu ini, yaitu es gabus. Es gabus adalah es yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Es ini terbuat dari tepung hunkwe yang berwarna putih dan biasa dikemas dengan kertas yang berbentuk silinder. Pada saat tepung ini dimasak maka akan beraroma harum dan bertekstur kenyal. Es gabus memiliki bentuk persegi dan berwarna warni.
Bahan:
1 bungkus (120 gram) tepung hunkwe
1200 ml santan, dimasak dahulu (bisa diganti dengan susu atau campuran susu dan santan)
150 gram gula pasir
Pasta sesuai selera
Cara Membuat :
1. Aduk rata tepung hunkwe, santan, dan gula pasir di dalam gelas ukur.
2. Tuang 300 ml adonan ke dalam panci, beri pasta sesuai selera, masak diatas api kecil sambil terus diaduk-aduk hingga mengental dan meletup letup. Angkat dari api, tuang di loyang sambil diratakan.
3. Aduk rata adonan yang ada di gelas ukur, Tuang 300 ml adonan ke dalam panci, beri pasta sesuai selera, masak diatas api kecil sambil terus diaduk-aduk hingga mengental dan meletup letup Angkat dari api, tuang di atas adonan pertama sambil diratakan.
4. Masak bagian lain, tuang diatas adonan kedua, begitu seterusnya sampai habis, dinginkan.
5. Keluarkan dari loyang, potong sesuai selera, bungkus dengan plastik, simpan di frezer sampai beku.
Catatan :
1. Sebelum menuangkan adonan tepung hunkwe ke dalam panci, adonan yang ada di gelas ukur harus diaduk. Hal ini untuk mencegah tepung hunkwenya mengendap di dasar gelas, dan kita hanya menuang airnya saja.
2. Jangan lupa loyang harus dibasahi dulu dengan air. Boleh juga menggunakan wadah dari tupperware.
Sumber :
http://cetakankue.blogspot.co.id/2013/09/es-hunkwe.html
http://info-pasar.com/harga-tepung-hunkwe-dan-cara-membuat-es-gabus/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara