Tetapi sebenarnya Bojonegara mendapat bantuan dari Raden Patah yang menjadi raja Demak. Putra Majapahit Bondan Gugur diusir dari kerajaan, tidak boleh bertempat tinggal di Majapahit. Bondan Gugur melarikan diri sampai ke daerah Sragen. Sebenarnya Bondan Gugur masih anak-anak. Ia baru berumur 15 tahun. Sampai di Sragen ia kebingungan, tidak tahu lagi kemana harus pergi. Karena dikepung oleh musuh, yakni prajurit-prajurit dari Bojonegara, dan ia sudah merasa lelah dan kebingungan, lalu ia bertekad berjalan mendekati lereng gunung Lawu sebelah utara yang masih menjadi wilayah Sragen.
Ia naik terus dan akhirnya sampai di Banyu Urip yakni lereng gunung Lawu sebelah timur. Di daerah inilah si bocah Bondan Gugur merasa sangat lelah. Akhirnya ia menjatuhkan diri, beristirahat di bawah sebuah pohon. Ketika itu, di Penggik, di bawah gunung Lawu sebelah timur, termasuk daerah Cemara Lawang, adalah seorang Kyai yang sangat hebat tapanya. Di situ ia selalu meminta anugerah dan perlindungan. Ketika sang begawan menyaksikan ada seorang anak pingsan di bawah pohon, maka anak tersebut segera ditolongnya. Anak tersebut diberi minuman air yang berasal dari sebuah sumber dekat tempat tersebut. Oleh karena itu sang anak segera sadar dari pingsannya.
Itulah sebabnya sendang tersebut, kemudian diberi nama Sendang Kauripan (sendang kahidupan) atau Banyu Urip. Demikian juga Penggik tadi lalu disebut Penggik Caya (cahaya) sebab si anak yang pingsan yang sudah tidak mempunyai wujud (caya) tersebut setelah minum air tambah segar dan berseri-seri. Kemudian Sang Begawan Jamba Loka bertanya kepada anak tersebut, “Namamu siapa Nak?”. “Saya bernama Bondan Gugur, putera Raja Brawijaya yang nomor lima”, jawab anak itu. Bondan Gugur pun lalu berceritera mengapa ia sampai tersesat di daerah Gunung Lawu, tidak lain karena terus dikejar-kejar oleh prajurit dari Bojonegara. Sang Begawan Jamba Loka sangatlah tersentuh hatinya mendengar cerita Bondan Gugur. Sang Begawan sudah mendapat firasat dari Dewata bahwa memang Majapahit sudah saatnya untuk tenggelam dari percaturan dunia. Namun demikian kerajaan yang tenggelam itu masih akan muncul dalam suatu dunia yang terasing dan sepi yakni di puncak gunung Lawu.
Dan sekarang si bocah kecil yang ditolongnya, yang tidak lain adalah keturunan langsung Raja Brawijaya telah berada di gunung Lawu. Bukan kah wangsit Dewa yang diterimanya itu bakal menjadi kenyataan?. Di puncak Lawu ini Begawan Jemba Loka mengajar Bondan Gugur dengan segala macam ilmu, baik ilmu keduniaan maupun ilmu tentang kesempurnaan batin. Ilmu itu diharapkan dapat dipakai untuk beramal di dunia ini.
Demikianlah Begawan Jamba Loka mengajar sang Bondan Gugur sampai tuntas. Bondan Gugur berusaha dengan sepenuh hati untuk menyerap ilmu sang begawan. Bondan Gugur merasa sangat berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas segala karuniaNya, dan ia sangat berterima kasih pula pada gurunya, Begawan Jamba Loka. Setelah sang Begawan tuntas mengajarkan ilmunya berkatalah ia “Bondan Gugur, hendaknya engkau mengerti, bahwa segala macam ilmu yang saya miliki telah saya turunkan secara tuntas kepadamu. Sudah ditakdirkan Yang Maha Kuasa, bahwa saya tidak dapat bersamamu lebih lama lagi. Oleh karena itu perkenankanlah saya menyatu dengan dirimu, melebur ke dalam jiwamu.
Oleh sebab itu sebelumnya segala apa yang hendak saya pesankan kepada mu, hendaknya benar-benar engkau perhatikan” Bondan Gugur menjawab, “Iya Kek, lalu bagaimana kalau saya engkau tinggalkan Kek? Siapakah yang akan menemani saya?”. “Engkau tidak usah khawatir, karena aku akan menjadi satu dengan dirimu. Engkau akan tetap berada di sini dan bergelar Hyang Sunan Lawu. Kelak engkau akan dipuja dan dihormati oleh semua orang. Kelak engkau adalah pelindung rakyat. Segala kehendak rakyat yang baik harus engkau kabulkan dan kau layani dengan baik. Jangan sampai engkau bertindak yang dapat merugikan rakyat”, pesan Begawan tua itu.
“Terima kasih Kek, lalu di mana saya harus menetap Kek?” Tanya Bondan.
“Engkau harus bersemayam di puncak gunung ini. Di puncak gunung ini ada sebuah kerajaan, engkau harus bertahta di sana.
Engkaulah yang memimpin kerajaan ini dengan gelar Hyang Sunan Lawu. Engkaulah penerus kerajaan Majapahit yang kini telah musnah. Engkaulah yang menjadi penerus darah orang tuamu”, jawab sang Begawan. “Teman saya siapa Kek?” Tanya Bondan Gugur lagi. “Soal teman jangan khawatir. Kalau telah berada di sana, engkau akan mendapat teman yang cukup. Sebuah kerajaan yang lengkap dengan patih dan prajurit – prajurit serta para pengawalnya. Engkau harus menuruti perintahku ini”, ujar sang Begawan pula.
“Jika saya menjadi raja, kek, dan memerintah sebuah kerajaan, segera seharusnya saya mempunyai seorang pendamping, yakni seorang permaisuri”, Bondan berkata lagi.
“Pasti, engkau akan kucarikan seorang permaisuri. Tetapi seorang permaisuri dalam bayangan”, jawab Begawan pula.
“Siapa Kek?”, tanya Bondan lagi.
“Permaisuri itu tidak lain ialah …..ah, itu nanti saja. Seorang permaisuri yang akan dapat kau ajak berbincang-bincang dengan bijaksana”, kata sang Begawan.
“0, Iya Kek, terima kasih”, sambut Bondan Gugur akhirnya.
Siapakah gerangan permaisuri Bondan Gugur seperti yang dijanjikan oleh kakek tersebut. Permaisuri tersebut tidak lain ialah penjelmaan almarhum Ratu Putri yang mendirikan kerajaan Majapahit, yakni yang sering disebut sebagai Dewi Angin-angin. Sekarang disebut sebagai Nyai Rara Kidul, yang menguasai laut selatan. Beliaulah yang bakal menjadi permaisuri Hyang Sunan Lawu. Karena masih berdarah bangsawan, meskipun sudah beberapa keturunan namun kecantikannya tidak berubah sama sekali, bagaikan masih seorang perawan. Setelah menjadi permaisuri Bondan Gugur atau Hyang Sunan Lawu, sang permaisuri tidak selalu berada di Puncak Lawu. Sebab sebenarnya sang puteri ini kadang-kadang nampak dan kadang-kadang tidak. Sang Raja Bondan Gugur bisa bersama sang permaisuri hanya dalam waktu yang sangat pendek saja. Itupun hanya kalau memang benar-benar ada keperluan yang sangat penting. Selain itu sang permaisuri tetap berada dan memerintah di laut selatan, sebuah kerajaan yang berada di alam halus. Sang permaisuri selalu siap untuk sewaktu-waktu datang ke puncak gunung Lawu kalau memang Bondan Gugur sangat memerlukannya. Terutama kalau ada marabahaya atau hal-hal yang tidak dapat diatasi secara pribadi oleh Hyang Sunan Lawu.
Terkisahlah, konon sang Hyang Sunan Lawu mempunyai senapati yang telah diciptakan oleh Begawan Jemba Loka, yakni bernama Hyang Turanggajati dan Kyai Pradhah. Hyang Turanggajati berada di gunung Tiling. Beliau ditugasi oleh Hyang Sunan Lawu menerima semua tamu terlebih dahulu sebelum menghadap Hyang Sunan Lawu. Kalau sudah dapat diselesaikan pada tingkatan ini, tamu tersebut tak perlu lagi dibawa menghadap Hyang Sunan Lawu. Hanya jika ternyata tamu tersebut benar-benar seorang yang sangat penting baru dihadapkan kepada Hyang Sunan Lawu. Sedangkan Kyai Pradhah bertempat tinggal di sebelah timur di dekat kawah. Kyai Pradhah bertugas untuk menjaga ketenteraman daerah puncak Lawu, juga menjaga dan mengawasi ketenteraman dan keamanan para rakyat kecil. Juga menjaga keamanan setiap orang yang akan menghadap Hyang Sunan Lawu.
Maka pada waktu itu daerah tersebut disebut gunung Tiling sebab untuk memperhatikan keadaan alam atau keadaan kaki puncak Lawu, apakah alam sekitar tersebut tenang, tenteram dan damai, ataukah alam sekitar gelisah. Situasi semacam ini dapat diperhatikan, diamati dengan baik dari gunung Tiling. Jelasnya, pengamatan yang dilakukan dari gunung Tiling kemudian dikaji lagi dengan cermat di gunung Temiling. Kalau keadaan benar-benar telah teramati dengan baik, baru dilaporkan kepada Hyang Sunan Lawu. Maka menurut kabar, sampai sekarang bila ada orang dari daerah Cepu yang ingin naik ke puncak gunung Lawu tidak akan berhasil. Bahkan kadang-kadang mereka mendapat halangan dan rintangan. Apakah sebabnya! Hal ini memang ada hubungannya dengan sejarah dari jaman dulu. Tidak lain adalah, karena pada jaman dulu Bondan Gugur selalu dikejar-kejar oleh para punggawa Adipati Cepu dan Bojonegara sampai akhirnya melarikan diri ke puncak gunung Lawu. Jadi sebenarnya peristiwa tersebut merupakan pembalasan dari Bondan Gugur terhadap orang-orang Cepu.
“Maka, orang-orang Cepu mulai sekarang ini, yang mempunyai tindak angkara murka pada saya kelak kalau mau naik ke puncak gunung Lawu, pasti akan terbalas”, demikianlah sabda Bondan Gugur yang bergelar Hyang Sunan Lawu.
Meskipun demikian, sekarang ini, tidaklah semuanya benar terjadi seperti kabar buruk diatas. Tidak semua orang Cepu akan mendapat halangan bila mendaki puncak Lawu. Konon kabarnya hanya orang-orang yang masih merupakan keturunan langsung dari Bupati Bojonegara sajalah yang terkena sabda Sang Bondan Gugur tersebut. Sedangkan orang-orang yang bukan keturunan Adipati Bojonegara tidak akan dimusuhi oleh Bondan Gugur. Maka sekarang ini tak perlulah orang Cepu merasa khawatir untuk mendaki puncak Lawu. Tidak akan terjadi apa-apa. Mereka akan tetap selamat. Karena mungkin sekali sekarang- ini keturunan langsung Adipati Bojanegara kira-kira sudah habis.
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. Drs. Leo Indra Ardiana, Jakarta, 1984, hlm. 56-62.
Sumber: http://wartadesainfo.blogspot.com/2013/05/dongeng-puncak-lawu-dari-cerita-bahasa.html
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...