Ritual
Ritual
Suku Jawa Barat Karimun, kec. Losarang, kab. Indramayu
Dayak Losarang - SUKU DAYAK HINDU BUDHA BUMI SEGANDU INDRAMAYU
Dayak Losarang adalah  sebuah komunitas independent yang terbentuk di wilayah kabupaten Indramayu, tepatnya di desa Karimun kecamatan Losarang, yang tidak mau terkait pada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa , tidak mau terkait dengan partai-partai politik maupun organisasi-organisasi kemasyarakatan.
 
Bertempat di Desa Karimun Kecamatan Losarang Kabupaten Indramayu. Komunitas ini di perkirakan mulai muncul sekitar 13 tahun yang lalu. Belum ada keterangan yang pasti berapa jumlah dari anggota komunitas ini sekarang, akan tetapi,menurut sebuah sumber yang bisa di percaya, warga Desa karimun saja yang sudah masuk jadi anggota komunitas ini sekitar 400 orang , belum di tambah dengan warga desa lainnya.
 
Komunitas ini di pimpin oleh Pangeran Takmad Diningrat Gusti Alam atau biasa di sebut Ki Takmad, yang mengajarkan sebuah ajaran yang di sebut Sajarah Alam Ngaji Rasa. Inti dari ajaran ini adalah pencarian kebenaran dengan menyatukan diri dengan alam semesta, Pemuliaan terhadap lingkungan alam sekitar, pengabdian kepada keluarga dan mengedepankan perilaku jujur dan sabar.
Ritual-ritual rutin yang di ajarkan oleh Pangeran Takmad Diningrat Gusti Alam, diantaranya :
 
- Ritual Pepe, yaitu ritual berjemur rutin tiap hari di bawah matahari pagi sambil menikmati udara pagi yang segar menyehatkan.
 
- Ritual Kumkum, yaitu ritual berendam  di air sebatas leher dari jam 9 pagi sampai tengah hari, di lakukan sesudah Ritual Pepe
 
- Ritual Ngidung, yaitu ritual pelantunan syair pujian terhadap alam.
 
- Ritual Mender, yaitu penceritaan kisah-kisah pewayangan.
 
- Pangeran Takmad Diningrat Gusti Alam juga mengajarkan untuk tidak memakan telur dan makanan apa saja yang barasal dari hewan atau ajaran vegetarian.  
 
Takmad Diningrat sebagai pemimpin komunitas ini telah mengalami beberapa kekecewaan hidup sehingga menumbuhkan sikap apatis terhadap aturan-aturan formal pemerintah ataupun hak-hak sipilnya. Hal ini ditularkan kepada pengikut setianya. Komunitas ini dibentuk lebih mengarah kepada suatu aliran kepercayaan dari pada kelompok suku bangsa. Mereka menyebut komunitas mereka dengan sebutan  SUKU DAYAK HINDU BUDHA BUMI SEGANDU INDRAMAYU . Kesatuan dan kebersamaan mereka lebih didasari oleh keyakinan akan kebenaran dari ajaran yang telah di ajarkan oleh Takmad Diningrat sebagai pemimpin dari komunitas ini.
 
#OSKM18
#OSKM2018
#OSKMITB2018
 
Sumber-sumber :
1. http://www.kompasiana.com/ntatita/suku-dayak-losarang-indramayu_552bec436ea834905f8b4592
2. https://dayaklosarang.wordpress.com/
3. http://lontaraproject.com/galigo-ku/cikal-bakal-suku-dayak-hindu-budha-bumi-segandu-indramayu/
 
 
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker