Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Timur Kalimantan Timur
Dayak Abal
- 13 November 2018

Salah satu Sub Suku Dayak yang sudah dianggap punah adalah Dayak Abal. Suku Dayak ini berada di Kalimantan Selatan menurut data sensus pada tahun 1990 masih terdapat 21.948 jiwa yang tersebar di tiga desa yaitu Desa Aong, Desa Suput & Desa Halong.

Secara tradisi Dayak Abal ini mirip dengan Dayak Ngaju, sebab mengenal Dohong dan upacara seperti Tiwah tetapi ada juga yang mengaitkan Dayak Abal ini dengan rumpun Dayak Paser yaitu paser Abba. Sampai sekarang belum penulis ketahui pasti bagaiamana bahasa Dayak Abal. Ini mengingatkan penulis mengenai tulisan perjalanan Kapten Beeckman 1714 yang melakukan pelayaran pada tanggal 12 Oktober 1713 dengan kapal East India Company “Eagle Galle” dengan tujuan melakukan misi perdagangan ke kalimantan bagian tenggara (Banjarmasin) – menurut catatan Kapten Daniel penduduk pribumi di Banjarmasin ini ada dua kelompok, yang pertama ialah kelompok yang menetap di area dermaga (umumnya terdiri dari orang banjar) dan kelompok lain ialah yang tinggal di perkampungan berciri tinggi sedang bentuk badan proporsional dan bersih warna kulitnya agak lebih gelap dari Ras Mullato (campuran antara negro dan kulit putih) pada masa itu mereka sudah menjadi Mohamettan / muslim namun masih mempraktekan beberapa budaya pra melayunisasi. Didalam catatan lain juga disebutkan rombongan mereka pernah diserang oleh sekolompok dayak di daerah Kalimantan Selatan yang bercirikan badan diwarnai biru dan menggunakan panah. Apakah yang dimaksud ini adalah Dayak Abal ini atau Dayak lain yang mungkin keberadaanya juga sudah punah di Kalimantan Selatan akibat teramalgamasikan – kita juga masih tidak tahu.

Kembali ke Dayak Abal informasi lain yang penulis dapatkan adalah catatan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah Unlam – Banjarmasin, ketika salah seorang anggotanya melakukan wawancara dengan salah satu tokoh desa Halong – yang konon dahulu memang adalah tempat bermukimnya Dayak Abal. Berikut sisa-sisa artifak Dayak Abal di Desa Halong:

  1. Adanya bekas penggalan patung dari kayu ulin yang berada dibawah jembatan Halong.
  2. Timbuk Usang / jalan lama yang menghubungkan daerah pinggir Sungai Tabalong – Halong – Buruk Nyiur, jalan tersebut sekarang digunakan masyarakat sekitar sebagai sarana untuk ke kebun karet.
  3. Masih ada penutur Bahasa Abal, walaupun sedikit.
  4. Peninggalan budaya, seperti menggantung bendera Tapih Bahalai pada saat acara perkawinan, yang artinya pemberitahuan kepada roh-roh gaib, bahwa ada acara perkawinan, masih seputar perkawinan yaitu tentang mandi batatai (konon mandi batatai ini hanya boleh dilakukan dan dimandikan kepada keturunan Dayak Abal), dan juga penggunaan Piduduk ketika membangun rumah.
  5. Peninggalan barang-barang sesembahan di hutan Kapin, konon hutan ini bekas penyembahan.
  6. Tanah perkebunan, di Hutan Bingkuang.

Menurut catatan HIMASE UNLAM juga nama daerah/hutan sangat awam dengan penamaan dalam bahasa Banjar/Melayu. Contoh Kapin, Suput, Matarang, Lonte, Pangkual, Sanitong, dan lain sebagainya,  penamaan ini lebih condong ke arah bahasa Dayak. Mengenai kepercayaan, sebelum Islam masuk mereka menganut Kaharingan, hal ini dubuktikan dengan adanya bekas tanah balai adat yang kini menjadi kebun masyarakat sekitar, dan adanya seorang Balian Kaharingan yang rumahnya berbentuk rumah lamin berukiran dayak, serta dulu adanya patung/tiang pengikat sapi untuk ditombaki atau dalam budaya Dayak Ngaju disebut SAPUNDU.

Penggunaan kata Balai sampai saat ini masih digunakan, yang artinya tempat sembahyang, seiring dengan Islam masuk Balai juga berarti langgar atau mushalla, sedangkan yang besar namanya tetap mesjid. Islam masuk ke daerah ini sekitar tahun 1920an, dibawa oleh mubaligh yang bernama Muhammad Sunan, kemudian beberapa tahun kemudian datang lagi seorang mubaligh dari Amuntai, atas jasanya mengislamkan Suput, maka mubaligh tersebut dikawinkan dengan anak kepala kampung dan keturunan ketiga dari mubaligh tersebut adalah bapak Nawardi (narasumber HIMASE), yang menolak dengan Islam kemudian berpindah dengan sendirinya, diantaranya ke Nawin/Juin, Upau dan Kembang Kuning.

Informasi lain yang penulis dapatkan Dayak Abal yang menolak masuk islam kemudian menggabungkan diri dengan Dayak Deah sebagain berpindah ke Upau, ada juga yang mengatakan masih ada sekolompok komunitas kecil Dayak Abal di Gunung Rindu Menangis perbatasan Kalteng di hulu sungai Ayoe namun mereka sukar ditemui karena hidup berpindah-pindah.

Penyebab kepunahan Dayak Abal adalah tergerusnya budaya dan bahasanya akibat teramalgamasikan dengan budaya Melayu Banjar ketika komunitas Dayak Abal masuk Islam, disamping itu generasi mudanya sudah tidak lagi menggunakan Bahasa Ibunya dan menggantikan dengan bahasa Banjar sehingga kemungkinan generasi muda di kampung Dayak Abal ini sudah tidak mengetahui kalau mereka adalah keturunan Dayak yang disebut Dayak Abal dan mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Banjar.

Saat ini ada beberapa sub suku Dayak yang menuju ke kepunahan baik dari segi bahasa maupun kebudayaannya. Oleh sebab itu Folks – jangan sampai kita kehilangan identitas kita sebagai orang Dayak! Kiwww…

sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2014/03/09/dayak-abal-sub-suku-dayak-yang-sudah-punah/

#SBJ

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu