Ikan cupang telah banyak diminati oleh orang-orang. Dengan bentuk ekor, warna, dan corak ekor ikan cupang yang bervariasi tentu saja dapat menarik perhatian banyak orang. Perawatannya dibandingkan dengan ikan lain tidak jauh berbeda dan relatif mudah dibandingkan dengan binatang-binatang lainnnya. Namun, ada kalanya ketika hewan peliharaan kita terkena penyakit, tak terkecuali untuk ikan cupang. Orang-orang di Pulau Jawa, khususnya untuk Pulau Jawa bagian barat (Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dsb.) seringkali mengobati dan mengantisipasi penyakit pada ikan cupang dengan cara memberi ikan tersebut air rendaman daun ketapang.
Metode pengobatan ikan cupang ini memang relatif sederhana, karena hanya membutuhkan daun ketapang dan air. Tetapi, tentu saja daun ketapang yang dipilih harus daun yang baik untuk digunakan. Berikut ciri-ciri daun yang buruk digunakan setelah direndam ke dalam air (dikutip dari http://www.bettahunter.com/artikel/cara-pengolahan-daun-ketapang/) :
Sebenarnya, cara pembuatannya bervariasi, tergantung masing-masing orang. Dilansir dari website http://www.bettahunter.com/artikel/cara-pengolahan-daun-ketapang/, langkah-langkah pembuatan air obat untuk ikan cupang ini relatif mudah, berikut adalah cara membuat air rendaman daun ketapang tersebut:1
Dengan metode di atas, daun ketapang yang sudah diolah bisa digunakan dengan jangka waktu yang lebih panjang. Namun, bila Anda ingin alternatif lain, sebenarnya sudah cukup langsung merendam daun ketapang dalam air, tetapi tentu saja dibutuhkan daun ketapang yang lebih banyak. Perlu diketahui bahwa untuk menghindari daun ketapang yang buruk ada baiknya jika dibuat penampungan terpisah untuk air daun ketapang tersebut.
Sekarang, mengapa daun ketapang bisa berkhasiat untuk ikan cupang? Karena biasanya orang-orang memelihara ikan cupang dengan air ledeng/PAM, seringkali masih terdapat zat-zat besi yang terkandung dalam air yang kurang baik untuk kesehatan ikan. Daun ketapang yang dikenal dengan nama spesiesnya Catappa sp. dapat menetralkan zat-zat besi yang terkandung dalam air. Selain itu, daun ketapang ini dapat menetralkan pH air. Tidak hanya itu, namun daun ketapang juga dikatakan dapat mencegah pertumbuhan bakteri.2
Sumber :

(Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-hoIFet0wneY/UiP3lM42YbI/AAAAAAAAC2I/3YEqTwnjP8c/s1600/daun+ketapang+untuk+ikan+cupang2.jpeg)
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara