Ya sayur lodeh adalah sayur khas yang berasal dari Indonesia. Kekhasan dan kesederhanaannya mampu membuat sayur yang satu ini memiliki ruang tersendiri di hati para penggemarnya. Sayur lodeh ini akan sangat pas jika disajikan di tengah-tengah keluarga anda dalam acara makan siang atau makan malam. Ditambah dengan pelengkap lainnya seperti, sambal terasi atau ikan asin dan kerupuk. Pastinya acara makan anda akan menjadi lebih spesial. Nah, untuk anda yang ingin mencoba menyajikan sayur lodeh ini di meja makan, maka tidak ada salahnya jika anda menyajikan sayur lodeh yang berbeda dari sayur lodeh yang lainnya. Sayur lodeh tersebut adalah sayur lodeh terong. Jika pada umumnya sayur lodeh terdiri dari komposisi bahan yang beragam, namun berbeda dengan sayur yang satu ini. Sesuai dengan namanya ‘Sayur lodeh terong’, maka bahan-bahannya pun hanya memanfaatkan terong saja. Namun meskipun begitu sayur yang satu ini tidak akan kalah nikmat dengan sayur lodeh yang lainnya. Kelebihan dari sayur ini yaitu selain rasanya yang nikmat, cara membuatnya pun sangatlah sederhana dibandingkan dangan sayur lodeh yang lainnya. Untuk itu, ketika membuat sayur yang satu ini anda tidak usah meluangkan banyak waktu. Penasaran seperti apa cara membuatnya? Jika penasaran yuk simak resep dan cara membuatnya seperti di bawah ini. resep sayur lodeh terong Nama Resep Resep dan Cara Membuat Sayur Lodeh Terong yang Sederhana dan Enak Waktu Memasak Persiapan : 8 menit Memasak : 15 menit Total : 23 menit Bahan-Bahan yang Dibutuhkan Untuk Membuat Sayur Lodeh Terong yang Sederhana dan Enak Bahan Utama 4 buah terong ungu 400 ml santan encer 2 cabai hijau besar 2 cabai merah besar 1 cm lengkuas 2 lembar daun salam Minyak untuk menumis Bumbu-Bumbu 4 butir bawang merah 2 siung bawang putih 1/2 sdt ketumbar 2 butir kemiri 1/4 sdt garam 1/4 sdt terasi bakar 1/4 sdt gula merah Cara Membuat Sayur Lodeh Terong yang Sederhana dan Enak Cara Menyiapkan Bahan dan Membuat Bumbu Langkah pertama yaitu, potong terong ungu yang telah disiapkan dengan bentuk dadu. Lalu rendam di dalam air. Iris cabai hijau dan cabai merah besar dengan arah menyerong. Lalu geprek lengkuas. Satukan semua bumbu yang telah disiapkan seperti, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar dan terasi. Lalu haluskan bumbu tersebut hingga benar-benar halus. Cara Memasak Langkah pertama yaitu, panaskan minyak. Lalu tumis bumbu yang telah dihaluskan, lengkuas dan salam hingga tercium baunya. Setelah itu masukan cabai hijau besar, cabai merah besar yang telah diiris. Dan masukan pula terong ungu yang telah dipotong. Lalu aduk-aduk semua bahan hingga merata. Selanjutnya, masukan santan encer dan masak hingga matang. Tambahkan garam dan gula merah. Lalu aduk hingga merata da meresap. Jika sudah, angkat dan sajikan. Itulah resep dan cara membuat sayur lodeh terong yang sederhana dan enak. Sayur lodeh ini akan lebih nikmat jika disajikan dala keadaan hangat bersama nasi hangat pula. Untuk menambah citra rasa dari sayur ini anda bisa menambahkan taburan bawang goreng. Selamat mencoba dan jangan lupa share resep ini untuk berbagi bersama orang terdekat anda.
Sumber: https://selerasa.com/resep-dan-cara-membuat-sayur-lodeh-terong-yang-sederhana-dan-enak | Selerasa.com
Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara