Makanan Minuman
Makanan Minuman
Kue Jawa Barat Bandung
Cilung
- 3 Juli 2015
 

                                              opt_ABB-sa01-copy_cilung_keju_peluang_290-14.jpg

      Cilung adalah salah satu makanan yang terbuat dari bahan dasar aci atau tepung sagu. Cilung ini makanan yang hampir sejenis dengan cilok namun bentuknya yang dapat membedaka antara cilung dengan cilok. Cilung biasanya memiliki bentuk lembaran aci yang kemudian diberi berbagai jenis isi pada bagian dalamnya lalu digulung memanjang. Sedangkan cilok biasanya berbentuk bulat-bulat kecil dan biasa dibumbu dengan bumbu sambal kacang.

    Seiring dengan perkembangan zaman, cilung kini sudah mulai banyak terkenal dimana-mana dengan berbagai varian rasa yang digunakan dalam membuat cilung. Nah, disini kami kami akan membuat cilung dengan isi keju. Tentunya makanan ini sangat nikmat dan kenyal juga sedikit asing gurih enak karena terdapat keju pada bagian dalamnya. Tidak hanya bagian dalamnya saja, namun bagian luar cilung ini biasanya diberi taburan yang sangat lezat. Mau tau lebih lanjut, yuk kita simak proses pembuatannya dibawah ini.

Bahan adonan biang:

  • 200 gr tepung sagu
  • 1500 ml air bersih

Bahan kulit:

  • 750 gr tepung sagu
  • 1 liter air bersih
  • garam secukupnya
  • penyedap rasa 1 sendok teh
  • 20 butir telur ayam ( kocok lepas )
  • minyak untuk olesan secukupnya
  • tusuk sate secukupnya

Bahan taburan:

  • kacang kedelai 500 gr
  • bawang putih 10 siung ( iris tipis lalu digoreng )
  • cabe merah keriting 5 buah ( potong-potong )
  • 50 gr keju bubuk

Bahan isi:

  • 350 gr keju cheddar parut

Cara membuat Cilung Keju:

  1. Sangrai kacang kedelai dengan cabe merah sampai benar-benar kering, dinginkan
  2. Campurkan kacang dan cabe dengan bawang putih lalu dihlauskan dengan cara diblender
  3. Campurkan dengan keju bubuk, aduk rata, sisihkan sejenak
  4. Rebus tepung sagu dengan air sampai mendidih dan kental untuk membuat adonan biang sambil diaduk-aduk, sisihkan
  5. Campurkan tepung sagu dan air sambil diaduk rata lalu campurkan kedalam adonan biang
  6. Tambahkan, telur, garam dan penyedap rasa, aduk hingga merata
  7. Tuang setiap satu sendok sayur kedalam wajan panas anti lengket yang sudah dioles dengan minyak dan masak sampai matang
  8. Taburi keju parut pada bagian atasnya lalu letakkan tusuk sate dibagiab tepi sambil digulung
  9. Gulingkan kedalam bahan taburan bubuk kedelai hingga merata dan siap disajikan

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat

Sumber: http://www.resepnasional.com/cara-membuat-cilung-isi-keju-enak-dan-kenyal/

 
 
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker