Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Sejarah Arsitektur Jawa Timur Surabaya
Cerita dibalik Taman Bungkul
- 11 Agustus 2018
Sekarang ini, Taman Bungkul merupakan tempat rekreasi yang sering dikunjungin masyarakat Surabaya. Di Taman Bungkul terdapat banyak penjual makanan kaki lima, seperti tahu campur, rujak cingur, bakso, dan sebagainya. Selain terdapat penjual makanan, Taman Bungkul juga dilengkapi dengan taman bermain untuk anak-anak.  Lokasinya berada di Jalan Darmo. Pada hari minggu, Jalan Darmo menjadi lokasi diadakannya car free day, sehingga pada hari itu Taman Bungkul ramai dikunjungi masyarakat Surabaya dari berbagai usia. 
 
Di Taman Bungkul juga terdapat makam tokoh masyarakat yang disebut sebagai Mbah Bungkul. Mbah Bungkul memiliki nama asli Mpu Supa. Beliau Hidup pada zaman Walisongo. Dahulu kala Mpu Supa memiliki anak perempuan bernama Wardah. Mpu supa ingin menikahkan anaknya tetapi Wardah belum memiliki calon suami. Akhirnya Mpu supa bernazar, Beliau akan menghanyutkan buah delima yang dipetik dari kebunnya. Lalu dihanyutkan di sungai Kalimas. Laki-laki yang menemukan delimanya nanti akan dikawinkan dengan putrinya. Maka dihanyutkanlah Delima itu. Keesokan harinya Mpu supa berjalan di pinggir Sungai. Untuk melihat siapa yang menemukan delima itu. Di ujung sungai Kalimas Mpu Supa menemui sebuah pesantren. Beliau mendatangi pesantren itu. Ternyata pesantren itu merupakan milik Sunan Ampel. Lalu Mpu Supa menanyakan delimanya itu, dan ternyata Sunan Ampel adalah orang yang menemukan delimanya dan menyimpannya.
 
 Lalu Mpu Supa menikahkan Wardah dengan Sunan Ampel. Selanjutnya Mpu Supa dan Sunan Ampel menyebarkan agama Islam di Surabaya dan sekitarnya. Tempat tinggal Mpu Supa itu adalah Desa Bungkul. Setelah meninggal Mpu Supa dimakamkan di desa Bungkul. Makam itu dirawat oleh penduduk sekitarnyaa hingga saat ini. Lalu pemerintah membuat Taman disekitar makam Mpu Supa itu. 
 
#OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker