Ada sebuah ceritera, murah berharga satu mahal berharga dua. Konon diceriterakan tentang I Kambing dan I Bojog I Kambing dan I Bojog bersahabat baik sekali I Kambing baik dan rajin, tetapi I Bojog licik benar akalnya. Kerap kali I Kambing diperdaya. Kerap kali I Kambing kena tipu. I Kambing sakit hati karena terlalu sering kena tipu. Ingin benar ia membalas, agar sama-sama pernah merasa terperdaya. Lalu diajaknya I Bojog bekerja sama.
"Bojog! Mari kita berkerja-sama."
"Bekerja sama membuat apa, Kambing?"
"Ayolah kita bekerja sama menanam kacang"
"Kacang apa?" "Kacang tanah."
"Bagaimana caranya?"
"Kau mencari bibit, aku yang menanamnya."
"Sesudah itu?" I Bojog bertanya.
"Nanti kalau sudag tumbuh, kau yang mengambil umbinya, biarlah aku mendapat daunnya saja."
Bukan main senangnya hati I Bojog mendengar kata-kata I Kambing itu.
"Memang benar-benar I Kambing kawan yang baik hati. Tak ada yang lebih baik daripada kau. Nah, sekarang tunggulah disini, aku akan mencari bibit."
"Baik, cepat-cepat ya." demikian jawab I Kambing.
Lalu I Bojog pergi. I Kambing tersenyum di dalam hatinya, sambil menantikan I Bojog.
Karena telah lama pergi akhirnya datanglah I Bojog membawa bibit kacang tanah lalu diserahkan kepada I Kambing. I Kambing lalu menggali tanah tempat kacang itu akan ditanam karena sudah payah benar I Kambing bekerja, disuruhnyalah I Bojog membantu.
"Bojog! Bantulah aku menaruh bibit di lubang yang tersedia, nanti aku yang merumputnya."
"Mengapa aku yang kau suruh? Tadi kita sudah berjanji,aku yang mencari bibit, kau yang menananm."
"Janganlah seperti itu. Kasihanilah aku, payah sendiri."
"Kan kita tidak boleh mungkir janji. Kita sudah berjanji seperti itu, itulah yang patut kit jalankan."
"Nah, jika demikian baik juga. Kita patut benar berpegang pada perjanjian, tak layak ingkar pada janji."
Lalu I Kambing bersiap untuk menananm sendirian I Bojog tertawa-tawa di pohon kayu. Senang benar hatinya.
Maka telah lama bibit itu ditanam. KIra-kira telah sebulan . Daun kacang itu telah tumbuh subur sekali. Untung benar diikuti oleh musim hujan.
"Nah, sekarang telah tiba waktunya. Biar I Bojog tahu rasanya. Dia mau menang sendiri saja." Lalu dimakannya daun kacang yang masih muda itu. Hingga kenyang benarperutnya. Keesokan harinya dimakannya lagi daun kacang yang masih muda.
Demikianlah setiap hari sehingga habis daun kacang itu. Setiap ada yang tumbuh segera dimakannya.
Akhirnya hal itu diketahui oleh I Bojog.
"Kambing, beh demikian licik engkau. Mengapa kau habiskan daunnya. Kalu demikian kapankah kacang itu akan berumbi. Jangan kau habiskan daunnya."
"Dulu kan kita sudah berjanji. Aku mendapat daunnya, engkau mendapat umbinya. Sekarang silakan cari umbinya."
"Mana bisa berumbi jika daunnya setiap hari kau makan."
"Aku tidak tahu, pokoknya kita sudah berjanji aku mendapat daunnya. Bagianmu umbinya. Kalau kacang itu tak mauberumbi, itu bukan salahku."
"Baik kalau demikian. Nanti kau akan tahu rasa."
"Demikianlah kata I Bojog dengan marahnya, lalu pergi. Baru ia mengetahui tipu I Kambing.Perjalanan I Bojog menunju ke hutan mencari harimau. Akhirnya ia menjumpai seekor harimau sedang mencari makanan.
"Nah ini I macan."
"Ada apa Bojog? Tumben benar kau kemari?"
"Lama benar aku mencarimu. Baru sekarang bertemu."
"Apa keperluanmu?"
"Begini macan. Dongkol benar aku kepada I Kambing. Kerap kali aku diperdayanya. Bohong saja kerjanya. Lagi pula angkuh benar hatinya. Sombongnya luar biasa. Ia mengaku tak takut kepada macan. Kalau..... kalau ada macan, akan dimakannya, katanya. Katanya ia sudah biasa makan macan."
Mendengara kata I Bojog seperti itu marah benar I Macan. "Dimana tempat I Kambing? Ayo kita cari. Akan ku makan segera. Tapi, tidakkah kau bohong? Tidak ada adat kambing memakan macan. Jika kau bohong bagaimana? Apa buktinya kau tidak berbohong?"
"Kalau aku bohong, bunuhlah aku. Ikat ekormu dengan ekorku. Kalau aku bohong, kau makan aku." "Baiklah kalau begitu."
Lalu diikatnta ekor I Bojog dengan ekornya sendiri. Setelah itu mereka berjalan menunju ke tampat I Kambing, I Bojog duduk di atas punggungnya, karea tidak mungkin berjalan berpisah.
Setelah tempat I Kambing dekat, tampaklah I Kambing. MUlutnya peneuh bekas darah. Demikian juga janggutnya. Biasanya I Kambing kalau melihat macan, segera ia lari. Tetapi kambing ini nampak mendongak. Ekornya naik. Daun telinganya mengibas-ngibas. Matanya menyala seperti akan menyambar musuh, dan lagi berkata dengan kasar.
"Eh Bojog. Mengapa lama benar kau datang dan membawa macan, ha? Sampai lapar benar perutku menunggumu. Untunglah baru saja seekor macan datang ke mari. Seketika kuselesaikan, hingga kenyang benar perutku. Ikatlah dahulu macan itu. Sebentar lagi akan kuselesaikan."
"Ah, tak ada adat I Kambing memakan macan."
"Kalau kau tidak percaya dekatlah ke mari. Lihatlah penggalan kepalanya di sumur, baru saja ku buang. Dekatkanlah dirimu. Akan kupaksakan diriku menyelesaikanmu seketika."
Takut hati I Macan. Berdebar jantungnya. Lalu ia berjalan menuju ke sumur mencoba membuktikan kata I Kambing. I Bojog tak dapat berkata apa-apa. Begitu I Macan menjengukkan kepalanya ke sumur, ia pun terkejut. Sebab di dalam sumur tampak penggalan kepala macan. Tanpa berpikir panjang lebar, larilah ia karena takut akan dimakan oleh I Kambing. Tak diketahuinya bahwa kepala di dalam sumur itu bayangan kepalanya sendiri.
Diikatnya benar penggalan kepala macan lain. Apalagi ketika itu digertak oleh I Kambing. Larinya semakin cepat. Ia lari tunggang-langgang. I Bojog mati terbanting karena terbawa lari.
Sesudah itu diceritakan bahwa I Macan terlunta-lunta karena payah. Akhirnya dijumpainya sepasang sapi sedang dipasang pada ayuga, ditepi sebuah kolam. Sapi itu sedang dipergunakan untuk membajak oleh yang empunya. Yang empunya berada diatas pohon enau sedang mengiris-iris batang bunga enau.
"He sapi, mengapa engkau diikat seperti itu? Tak ada gunanya badanmu besar. Kau biarkan dirimu terikat seperti itu. Tak ada gunanya kau kuat."
"O, aku diikat oleh I Manusia. Memang sudah diadatkan demikian. Bangsa sapi memang layak diperlakukan seperti ini oleh manusia."
"Ah, kau bodoh. Tak ada gunanya tenagamu besar. Tak beranikah kau melawan?"
"Beh, tidak mungkin I Sapi akan melawan I Manusia. Ia memang pintar."
"Beh, seberapakah kesaktiannya? Mari, biar dia tahu rasa. Beri tahu aku dimana tempatnya."
"O, dia sedang mengiris batang bunga enau di pohon enau itu."
"Mari akan kucari dia." Lalu I Macan berjalan mencari I Manusia, yang sedang mengiris-iris batang bunga enau itu. Setelah tiba di sana lalu I Macan berkata.
"Eh, manusia, kabarnya kau amat pintar. Mengapa kepandaianmu kau pergunakan untuk menyiksa I Sapi? Memang benar kau kejam."
"E, macan seolah-olah kau tidak mengetahui bahwa memang demikianlah adatnya hubungan antara I Manusia dengan I Sapi."
"Ah, jangan kau banyak bicara. Turunlah dan perlihatkan kesaktianmu kalau memang benar kau sakti. Inilah I Macan akan menghadapimu."
"Meh, bagaimana aku akan turun. Aku berani sebab kesaktianku ada di rumah."
"Carilah."
"Aku tak berani turun. Nanti aku kaubunuh. Tetapi jika kau inginkan kesaktianku, akan kuberikan kepadamu. Tetapi ikatlah dulu badanmu agar tak dapat lepas. Kalau sudah demikian barulah aku mau turun lalu mengambilkan kesaktianku di rumah."
"Baiklah kalau begitu."
Lalu diikatlah I Macan dengan tali bun.
"Nah, aku sudah terikat, turunlah."
"Coba bantingkan dirimu dulu."
"Baiklah." Lalu I Macan membanting dirinya. Terlepas ikatannya.
"Nah, itu Licik engkau. Cabalah ikat lagi dengan kuat sekali."
Kembali I Macan mengikat dirinya hingga erat sekali. Lebih erat dari yang tadi.
"Ya, sudah. Turunlah."
"Cobalah banting dirimu."
Lalu I Macan membanting dirinya kuat sekali. Tak dapat terlepas. Maka turunlah I Manusia. Dihunusnya goloknya.
"Nah, sekarang tibalah ajalmu". Lalu ia mengambil batu yang lempeng. "Inilah yang akan kepergunakan sebagai landasan tempatmu mati." Gerak-gerik I Manusia seolah-olah hendak menyembelih I Macan, sehingga gemetarlah I Macan. Takut benar ia akan mati. Menyesal benar ia. Sekarang barulah ia sadar, bahwa ia diperdaya oleh I Manusia.
"Eh manusia! Mengapakah engkau begitu? Mengapa engkau berbohong? Tidak setia engkau kepada janjimu. Tak layak I Manusia berlaku demikian."
"Ah engkau, dasar memang hewan, apakah yang engkau ketahui.Engkau kan Macan. Kalau aku lengah pasti kau makan aku. Karena I Macan memang musuh I Manusia. Karena engkau musuh layaklah kalau aku memperdayakan kau. Seperti kata orang, musuh layak diperdaya. Demikianlah bunyi nasehat yang sudah biasa dijalankan. Nah, sekarang terimalah, nasibmu memang kau akan mati, si bodoh berlagak pintar."
"Beh ampunilah aku Manusia! Janganlah kau bunuh aku. Sebab aku mempunyai anak kecil, di dalam gua tempatnya. Belum bisa berbuat sesuatu. Bila kau bunuh, berarti kau menyiksa anakku yang belum mengerti apa-apa."
"Benarkah kau mempunyai anak?"
"Benar."
"Kalau demikian benar juga kau. Tetapi dasarmu memang hewan. Sulit aku untuk mempercayai kata-katamu. Bangsa hewan tak layak untuk dipegang kata-katanya, karena memang biasa berdusta. Kalau sekarang engkau kulepaskan, nanti pasti kau akan makan aku."
"Janganlah begitu dalam keadaan seperti ini. Percayalah aku. Aku berhutang nyawa, masakan aku akan memakanmu. Sejelek-jelek hewan, aku juga masih memiliki perasaan. Karena itu sekarang aku bersumpah jika kau tak jadi membunuhku, dan mau melepaskan aku, itu berarti kau menyelamatkan aku dan juga anakku. Karena itu sekarang aku bersumpah, seluruh keturunanku tak akan menerkam manusia... tak akan menerkam dari depan. Itulah sumpahku." pengikat I Macan. Sesudah itu segera I Macan berlari belari menuju ke hutan.
Sekarang diceritakan perjalanan I Macan terlunta-lunta, karena terkejut akan dibunuh oleh I Manusia. Akhirnya sampauilah I Macan di tepi sebuah kebun dekat sawah. Di sana terdapt sebuah rumpun bambu. Pada rumpun bambu itu banyak benar terdapat kadal sedang memanaskan badan di sinar matahari dan mencari makanan. Mengalir air liur I Macan melihat kadal itu.
Lalu ia mengintip. Kadal itu tahu dan siap siaga. Baru saja I Macan siap menerkam, kadal itu cepat mengelak masuk ke bawah sembilu, ada juga yang ke bawah pangkal bambu, ada juga yang ke dalam lubangnya. I Macan terluka-luka. Darahnya muncrat memerciki pohon bambu banyak sekali. Berbintik-bintik darah I Macan melekat di pohon bambu.
Baru saja I Macan menjauh, tampak lagi kadal-kadal itu. Diterkamnya lagi, dan darah I Macan muncrat lagi, memerciki pohon bambu itu. Panas benar hati I Macan. Tak dirasanya badannya banyak mengalami luka-luka, darahnya banyak benar yang keluar. Akhirnya habis tenaganya. Lalu ia pergi karena kepayahan.
Karena percikan darah I Macan lalu bambu -bambu itu berganti rupa berbintik-bintuk merah tua, menjadi "BAMBU TUTUL" sampai sekarang ini . Demikianlah ceritanya.
sumber:
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...