Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sumatera Barat Sumatera Barat
Cerita Sarinam Kandung
- 28 Desember 2018

Tersebutlah negeri telah aman. Padi masak, jagung maupiah, ternak berkembang biak, orang kampung bersukaria, sanak saudara bersenang hati. Pasar ramai dikunjungi, mesjid penuh didatangi, tidak terganggu beribadah. Tiudak terndengar lagi kata yang meningkah,tidak ada kusut yang tak selesai, tidak ada keruh yang tidak akan jernih. Oang-orang tua sepakat hendak memperbaiki negeri, yang mudapun seiya hendak memperindah kampung.

Demikianlah keadaan di kampung Pandeka Lompong. Semua penduduk kamung mersa perutnya kenyang lantaran padi di sawah telah pulang. Banyak di antara penduduk di sat ini berniat melepaskan nasarnya. Dan dalam hal ini tidak ketinggalan nasar orang tua Pandeka Lompong. Mereka berniat hendak mencarikan teman hidup anaknya itu.

Pada ketika yang baik sesudah makan, berkatalah ibu Pandeka Lompong kepadanya. "Kami bermaksud hendak memperkatakan sesuatu enganmu sekarang."

Entah apa sebabnya tersirap juga darah Pandeka Lompon mendengar ucapan ibunya itu. Bermacam dugaan bersaranf di hatinya. Adakah sesuatu yang buruk disampaikan orang mengenai dirinya?

"Kau dengarlah apa yang hendak kami sampaikan padamu," sela ayah nya lantaran dilihatnya Pandeka Lompon menekurkan kepala.

"Kami perhatikan denganmu ada bertambah baik juga dari hari ke hari berkat doa kita bersama," ibunya menyambung.

Jantung Pandeka Lompong berdebar-debar. Sementara itu ayahnya menggulung tembakau dengan daun enau sambil melihat juga pada anaknya. Dan Pandeka Lompong tampak mencurikan pandangannya pada orang itu.

"Sungguhpun daganganmu bertambah baik juga dan uangmu banyak ada sesuatu yang merusuhkan kami."

Wajah Panedeka Lompong menjadei pucat. Kepalanya terangkat. Ia menduga sudah pasti orabg tuanya menerima pengaduan yang buruk-burukdari orag kampung mengenai dirinya. Hatinya kecut lantaran mengingatkan penilaian dirinya akan jatuh dalam pandangan orang tua yang dicintainya itu. Ia berfikir, kemanakah kealanya akan disurukkan?

Ayah Pandeka Lompong, selaku orang tua yang arif, cepat mengetahui kecemasan anaknya itu. Ia menyadari bahwa isterinya bersalah dalam menyampaikan kalimat.

"Yang kami rusuhkan, bukanlah lantaran mendengar namamu cemar dakam kampung," oang tua itu menyela.
Bukan main senangnya hati Pandeka Lompong mendengar ucapan ayahnya itu.

"Yang kami rusuhkan selama ini ialah lantaran hutang kami ke negeri belum lagi terbayat."

Kembali ternganga mulut Pandeka Lompong, Kekhawatirannya kembali datang. Ia bertanya dalam hati, sejak bilakah kedua orang tuanya itu berhutang pada orang kampung? I tahu benar bahwa orang tuanya itu cukup mempunyai sawah ladang. Dan untukl belanja harian ia selaku anak tidak pula lupa membantu.

"Bukannya kami berhutang dalam bentuk emas dan perak," sambung ayahnya melirik pada ibu Pandeka Lompong.

Untuk kedua kalinya hati anak muda ini menjadi senang.

"Hutang kami berbentuk adat dam kewajiban. Berhutang adat terhadap kampung dan berhutang kewajiban terhadap dirimu. Jika hutang -hutang ini belum juga lunasiakan bderakibat kami mendapat malu dari orang kampung. Dan jika kami mati, maka  mayat kami akan tertungkup terlentang di dalam kubur."

Kata-kata orang tua ini mendatangkan pertanyaan yang baru pula dalam fikiran pandeka Lompong.

"Kami bermaksud hendak mencarikan engkau seorang isteri yang bisa mengurus hidupmu setiap hari."

Tanpa disadari kepala Pandeka Lompong tertekur. Mukanya merah padam mendengar jawaban yang tidak diduga-duganya itu.

"Tidak ada bujang yang tidak akan berbini dan tidak ada pula gadis yang tidak akan bersuami," ayahnya meneruskan.

"Selaku umat manusia syarat-syarat ini harus ditempuh. Kami telah sepakat hendak menerima pinangan kemenakan St.Diateh yang bernama si Sarinam."

Bagaikan di langit yang ketujuh Pandeka Lompong mendengar ucapan ayahnya yang terakhir itu. Sebab baginya, pucuk dicinta ulam yang tiba. Gadis ini memang telah lama dicintainya. Mau ia rasanya merangkul orang tua itu lantaran kegirangan. Namun selaku anak yang sopan hal itu tidak dilaksanakannya. Ia hanya berpura-pura berfikir sesuatu.

"Jawablah,nak kandung," terdengar suara ibunya yang sedari tadi melihat padanya dengan harap-harap cemas.

"Seandainya kau tidak menyetujui pilihan kami ini, akan kami tolak dengan baik," sambung orang tua itu. "kami tidak memaksa."

Pandeka Lompong terkejut dari lamunannya membayangkan gadis yang dirindukannya itu.

"Jawablah," sekali lagi ibunya berharap.

"Jika kau tidak menyukai gadis itu cepat-cepat pula kami tolak jangan sampai orang menunggu lama."

Keluh lidah Pandeka Lompong karenannya. Akan diiyakannya pada saat itu juga ada hal-hal yang memberatkan. Ia takut kalau-kalau rahasia hatinya selama ini akan terbongkar. Dan jika tidak diiyakannya pada saat itu pula alamat ia akan makan hati berulam jantung.

"Hamba menurut saja," kata Pandeka Lompong terputus-putus dengan perasaan malu.

Bagaikan dikendalikan kedua orang tua Panedeka Lompong berpandang-pandangan. Masing-masing tersenyum.

"Tentu saja kau setuju karena gadis itu yang kau gandai selama ini," sahut ibunya pada Pandeka Lompong sambil melirikan matanya dengan tujuan bergurau.

Merah padam muka Pendeka Lompong. Ia menekurkan kepalanya Tahulah ia sekarang bahwa enah karenanya selama ini telah juga diketahui oleh orang tuanya.

Ayah Pendeka Lompong mendeham-deham karena ada sesuatu yang hendak dikatakannya pada anaknya itu.

"Mulai sekarang, karena kau hendak kami pertunangankan, kau harus lebih berhati-hati menjaga kelakuanmu di hadapan orang banyak. Pergaulansesama besar agak dikurangi sedikit sebab bisa memungkinkan terjadi hala-hala yang tercela. Maklumlah anakpanak muda zaman sekarang kurang memperhatikan batas-batas kesopanan."

Demikian orang tua itu mengajari dengan anaknya. Kepala Pandeka Lompong tetap saja tertekur.

"Dimana saja kau bertemu dengan famili si Sarinam harus kau sapa dengan mulut yang manis. Itu tandanya kau anak yang ditunjuk diajari oleh orang tuanya".

Pandeka Lompong menganggukkan kepalanya bagai burung balam. Ia bertambah segan menantang wajah ayahnya.

Beberapa hari kemudian paecahlah khabar dalam kampung bahwa Pandeka Lompong telah bertunangan  dengan si Sarinam. Di mana-mana orang  memperkatakan hal itu sebab Pandeka Lompong termasuk anak muda kampung yang disenangi masyarakat. Mulutnya manis kucintannya murah. Ia pandai menghormati yang tua-tua dan menghargai yang sesama besarnya.

Begitu pula si Sarinam seorang gadis yang disukai lantaran budinya yang baik. Ia bersifat lurus pergi dan lurus pula datang. Ia tidak seperti gadis lain yang suka bertandang ke ruamah orang.

Dalam mempekatakan si Sarinam dan Pandeka Lompong ini tidak ketinggalan wanita-wanita yang sedang mandi di pancuran. Ada di antara mereka yang mengatakan dengan pantunnya:

Seekor ikan, seekor kulari, sama bersedai keduanya.

Seorang sutan seorang saidi, sama rancak keduanya.

Begitu juga teman-teman sesama besar Pandeka Lompong tidak ketinggalan mempegarahkannya dengan rasa iri lantaran memperdapatkan gadis yang kamek. Pandeka Lompong menerima gurauan itu dengan rasa bangga.

Pada hari yang ditentukan di mana Pandeka Lompong harus mengucapkan akad nikah di hadapan khadi, sejak paginya anak muda in i telah bersiap-siap dengan pakaiannya yang serba baru. Ia merasakan waktu itu berjalan terlalu lambat. Baginya bagaikan di bibir pinggir cawan. Terbayang di matanya lesung pipik gadis yang akan dipersuntingnya itu. Dibayangkannya pyla berbagai kesenangan yang akan diperolehnya dari Sarinam jika mereka telah serumah tangga. Angannya telah melampaui langit yang ketujuh.

Demikianlah disaat Pandeka Lompong telah berhadapan dengan engku khadi, tampak ia bagaikan menggigil.
"Pandeka Lompong, benarkah engkau bersungguh-sungguh hendak kami nikahkan dengan kemenakan St. Diateh yang bernama Sarinam?" engku khadi memulai.

"Ada engku," jawab Pandeka Lompong bagaikan tergegas.

"Mengapa engkau enggigil?" tanya engku khadi keheranan.

"Entahlah, engku," jawab Pandeka Lompong kemalu-maluan.

"Tenang saja," sambung engku khadi pula.

"Jangan takut tidak akan lepas burung di tanganmu."

Kepala Pandeka Lompong tertekur mendengar garah engku khadi itu. Orang yang menyaksikan pernikahan itu turut pula tertawa.

"Engkau mesti menyimakkan apa yang saya katakan," engku khadi memasuki acara yang sebenarnya.

Pandeka Lompng menganggukkan kepalanya. Fikirannya mulai menjalar ke sana - ke mari. Peluh dinginnya mulai bercucuran.

"Sesudah akad nikah saya sebutkan, engkau harus segera menjawab dengan kalimat, hamba terima menikahi si Sarinam anak Malin Pajuah dengan uang mahar lima ratus rupaiah," sambung engkau khadi dengan tujuan memberi petunjuk.

Sekali lagi kepala Pandeka Lompong terangguk.

"Jika engkau tidak cepat menyahuti apa yang saya ucapkan, alamat iblis akan masuk dalam pernikahan ini. Berarti pula iblis yang berhak menikahi isterimu itu."

Takut juga Pandeka Lompong mendengar nasehat engku khadi. Ia lebih berhati-hati mendengarkan apa yang dikatakan orang tua itu. Ia tidak mau si Iblis akan menikahi si Sarinam.

Suasana agak tenang terasa di waktu itu. Engku khadi tampak membaca sesuatu dalam mulutnya yang komat- kamit.

"Saya nikahkan engkau dengan si Sarinam, anak kandung engku Malin Pajuah dengan uang mahar sebanyak lima ratus rupaih," engku khadi memulai.

Di mulai dengan mulut ternganga menyahutlah Pandeka Lompong. "Hamba terima menikahi engku khadi anak Malin Pajuah dengan uang mahar lima ratus rupiah."

Terbelalak mata engku khadi mendengarkan sahutan Pandeka Lompong itu. Berhamburan tertawa orang yang mendengarkan. Sedangkan wajah ayah Pandeka Lompong menjadi merah padam. Ia malu melihat anaknya yang bengong itu.

"Mengapa harus menyahut dengan kalimat, aku terima menikahi si Sarinam anak kandung Malin Pajuah dengan uang mahar lima ratus rupiah."

Kepala si Pandeka Lompong kembali mengangguk.

Sekali lagi engkau khadi menyampaikan akad nikah itu: "Saya nikahkan engkau dengan si Sarinam anak kandung Malin Pajuah dengan uang mahar lima ratus rupaiah."

"Hamba terima menikahkan engku khadi dengan si Sarinam anak kandung Malin Pajuah dengan uang mahar lima ratius rupiah," sahut Pandeka Lompong tergegas.

Hiruk- pikuk orang mendengarkan jawaban Pandeka Lompong. Engkau khadi yang terbilang sabar itu terpaksa menggeleng-nggelengkan kepalanya. Ayah Pandeka Lom[ong mengalihkan mukanya ke arah lain lantaran malu. Rasakan mau ia menyepakkan anaknya itu.

"Mengapa saya pula yang hendak engkau nikahkan dengan gadis itu?" terdengar suara engku khadi dengan geram.

"Anak saya saja sudah besar-besar dan tidak akan laku lagi oleh gadis-gadis."

Pandeka Lompong sendiri merasa terheran-heran mengingatkan mengapa lidajnya itu menyeleweng dengan jawaban yang tidak tepat.

"Cobalah engkau renungkan benar apa yang saya katakan," engku khadi meneruskan kata-katanya.

"Engkau menjawabnya dengan hati-hati. Jangan terburu-buru sebab tidak akan lepas juga ke tangan orang."

"Baiklah engku khadi," balas Pandeka Lompong memberanikan diri."

"Memang fikiran hamba entah kemana saja tadi perginya."

Sejurus engku khadi yang tampak berusaha mengendalikan fikirannya. Kemudian ia kembali menyampaikan lafad nikah itu sekali lagi. Pendeka Lompong menyahut dengan kalimat, menikahkan Sarinam dengan Malin Pajuah dengan mahar laima ratus rupiah.

Mendengarkan jawaban ini, engku khadi benar-benar terberang pada Pandeka Lompong.

"Ondeh yuang, mengapa bengong benar engkau ini." Pandeka Lompong terkejut.

"Barangkali otakmu telah kemasukan setan," sambung engku khadi."Lebih baik kau mandi dahulu sebelum brhadapan dengan saya."

Maka terpaksalah Pandeka Lompong dimandikan oleh ayahnya dengan hati yang sangat geram. Sementara itu engku khadi yang menunggu menyampaikan fatwa-fatwanya pada orang yang mendengarkan. Ia mengatakan nasib Pandeka Lompong itu diakibatkan karena jarang sekali mendekatkan diri pada Tuhan sehingga setan sempat memasuki dirinya.

 

 

Sumber : Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera Barat

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Resep Ayam Ungkep Bumbu Kuning Cepat, Praktis untuk Masakan Harian
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...

avatar
Apitsupriatna