Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
cerita rakyat Bali Bali
Cerita Rakyat Kisah Pan Kasim Dan Ular Sakti di Provinsi Bali
- 5 Januari 2019

Pada dahulu kala, di sebuah desa di Bali, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Pan Kasim dan Men Kasim (Pan = Pak ; Men = Ibu , dalam bahasa Bali). Pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak itu hidup serba kekurangan alias miskin. Mereka hanya tinggal di sebuah gubuk reyot di pinggir hutan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Pan Kasim setiap hari mencari kayu bakar di hutan untuk dijual ke pasar atau ditukar dengan kebutuhan hidup sehari-hari lainnya.

Suatu hari, pagi-pagi sekali Pan Kasim sudah berangkat ke hutan karena mendapat banyak pesanan kayu bakar dari beberapa pedagang. Ia berangkat seorang diri dengan berbekal sebilah parang yang tajam dan seutas tali rotan. Sementara itu, istrinya Men Kasim tinggal di rumah sambil mengurus pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Setiba di hutan, Pan Kasim segera mengumpulkan ranting-ranting kayu kering dengan penuh semangat. Tak terasa, hari telah menjelang siang. Kayu bakar yang telah dikumpulkannya pun sudah cukup banyak. Sebelum membawa pulang kayu bakar, ia beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon yang rindang karena kecapaian. Angin semilir yang menerpa wajahnya membuat laki-laki separuh baya itu tertidur. Namun, baru saja matanya terpenjam tiba-tiba ia mendengar suara teriakan yang meminta tolong.“Tolong… tolong… tolong singkirkan kayu yang menutupi lubangku!” teriak suara itu.

Pan Kasim pun langsung terbangun seraya celingukan mencari sumber suara itu. Beberapa saat kemudian, ia melihat sebuah batang kayu besar yang sudah rapuh tumbang di depan sebuah lubang besar. Ia pun beranjak dari tempatnya lalu berjalan mendekati kayu yang menutupi lubang itu. Alangkah terkejutnya ia saat berada di dekat kayu. Ia melihat seekor ular raksasa yang sedang menjulur-julurkan kepala di mulut lubang yang tertutupi kayu besar. Begitu melihat ular itu, Pan Kasim pun ketakutan dan bermaksud melarikan diri. Namun, ular raksasa itu justru berkata kepada Pan Kasim.

“Jangan takut!” seru ular raksasa itu, “Tolong keluarkan aku dari lubang ini!” Pan Kasim amat heran karena ular itu dapat berbicara layaknya manusia.

“Hai, ular raksasa! Apakah kamu tadi yang berteriak meminta tolong?” tanya Pan Kasim.

“Benar. Meskipun wujudku seperti ular, tapi aku bisa berbicara seperti kamu,” jawab ular raksasa itu,

“Jika kamu menolongku menyingkirkan kayu ini, apa pun yang kamu minta akan kukabulkan.”

Mendengar imbalan yang menggiurkan itu, Pan Kasim pun segera menolong ular raksasa dengan menyingkirkan batang kayu besar tersebut. Ular raksasa itu pun akhirnya dapat keluar dari lubangnya.

“Terima kasih,,” ucap ular itu, “Sesuai dengan janjiku tadi, sekarang katakan apa yang kamu inginkan dariku, aku pasti mengabulkannya.” Pan Kasim tidak langsung menjawab. Sejenak ia berpikir bahwa selama ini dirinya selalu hidup menderita karena didera kemiskinan. Oleh karena itu, ia menginginkan agar dijadikan orang kaya.

“Jadikanlah aku dan istriku orang kaya!” pintanya,

“Kami sudah bosan terus hidup menderita seperti ini.”

“Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Pulanglah karena semua keinginanmu sudah terwujud saat kamu sampai di rumah!” ujar ular raksasa itu.

Mendengar perkataan ular itu, Pan Kasim pun cepat-cepat pulang. Saking gembiranya, sampai- sampai ia lupa membawa kayu bakar yang telah dikumpulkannya. Di sepanjang perjalanan, raut wajahnya tampak berseri-seri dan selalu tersenyum gembira. Begitu tiba di rumahnya, ia amat terkejut dan terheran-heran. Gubuk reyotnya telah berubah menjadi rumah megah bagai istana raja yang dikelilingi oleh taman yang luas dengan dihiasi berbagai macam kembang warna-warni. Hatinya pun tiba-tiba menjadi berbunga-bunga saat melihat istri tercintanya sedang menunggu di depan rumah mewah itu dengan mengenakan pakaian yang bagus dan perhiasan yang indah.

“Oh, istriku. Kamu cantik sekali dan mempesona,” puji Pan Kasim dengan kagum. Men Kasim hanya tersenyum malu-malu bercampur rasa heran.

“Bagaimana semua keajaiban ini bisa terjadi, Pak?” tanya istrinya dengan heran. Pan Kasim pun menceritakan perihal pertemuannya dengan ular raksasa yang sakti itu.

“Semua ini berkat bantuan seekor ular raksasa yang aku tolong di hutan tadi,” jelas Pan Kasim. Setelah mendengar penjelasan itu, Men Kasim pun mengajak suaminya masuk ke dalam rumah untuk menikmati berbagai makanan lezat yang telah ia hidangkan. Sejak itulah Pan Kasim dan Men Kasim hidup serba mewah. Namun, kemewahan yang mereka rasakan secara tiba-tiba tersebut membuat para tetangga mereka bertanya-tanya dan merasa iri. Men Kasim yang merasa risi terhadap bisik-bisik para tetangga tersebut kemudian mengadu kepada suaminya.

“Pak, para tetangga sudah mulai berbisik-bisik mengenai diri kita. Mereka mengira harta kekayaan yang kita miliki adalah hasil rampokan,” keluh Men Kasim.

“Sudahlah, Bu. Tidak usah kamu risaukan tuduhan para tetangga itu. Mereka itu iri melihat kita,” ujar Pan Kasim. Men Kasim pun berusaha menepis perasaan risi itu.

Namun, semakin hari iri hati para tetangga semakin menjadi-jadi. Ia pun tidak tahan setiap hari menjadi buah bibir para tetangganya.

“Pak, walaupun kita kaya raya, tapi hidupku terasa tidak tenang karena bisikan para tetangga. Bahkan mereka kerap menghina kita,” keluh Men Kasim,

“Mintalah kepada ular itu agar orang-orang menghormati kita!” Pan Kasim yang sangat menyayangi istrinya segera berangkat ke hutan untuk menemui ular itu. Di hadapan ular itu, ia pun menyampaikan keinginan istrinya.

“Baiklah, akan kujadikan kalian raja dan permaisuri. Pulanglah, saat kamu tiba di rumah kamu akan berubah menjadi seorang raja,” ujar ular itu,

“Tapi, ingat! Kamu harus menjadi raja yang adil dan bijaksana.” Setelah mendengar pesan itu, Pan Kasim segera pulang. Sebelum tiba di rumah, ia sudah dijemput oleh beberapa orang pengawal dan langsung diantar ke istana. Rupanya, raja di negeri itu mengundurkan diri karena ingin bertapa di puncak gunung. Pan Kasim pun diminta untuk menggantikan kedudukannya. Maka, pada hari itu juga, Pan Kasim dinobatkan sebagai raja dan Men Kasim menjadi permasuri.

Sebagai seorang raja, Pan Kasim memiliki kekuasaan penuh di dalam istana. Mereka sangat dihormati sehingga apa pun yang perintah mereka pasti dituruti oleh para pengawal dan seluruh rakyatnya.

Suatu hari, Permaisuri Men Kasim ingin memakai kebaya kesayangannya. Ketika ia meminta kepada dayang untuk menyiapkan, kebaya itu ternyata belum kering karena hari sering hujan. Selang beberapa hari kemudian, cuaca kembali terang. Sang Permaisuri pun merasa gerah walaupun beberapa dayang telah mengipasinya.

“Aduh, kenapa seluruh badanku terasa gerah begini?” keluh Men Kasim.

“Ampun, Permaisuri! Hari ini matahari bersinar dengan amat terik,” jawab seorang dayang. Permaisuri Men Kasim yang sudah tidak tahan menahan rasa gerah tersebut kemudian mengajak para dayangnya untuk mandi di taman. Saat sedang mandi, terik matahari yang begitu panas membakar kulit sang Permaisuri sehingga menjadi hitam. Dengan geram, Permaisuri Pan Kasim itu memurkai matahari yang telah membakar kulitnya.

“Dasar, matahari sialan! Beberapa hari yang lalu ia tidak muncul-muncul hingga kebaya kesayanganku tidak kering-kering. Setelah muncul, teriknya malah membakar kulitku,” gerutu Men Kasim. Tidak terima kulitnya terbakar terik matahari, Permaisuri Men Kasim meminta kepada suaminya agar pergi menemui ular itu.

“Kanda, lihat kulitku jadi hitam begini gara-gara terik matahari!” hardik Permaisuri Men Kasim,

“Temuilah ular itu, Kanda! Mintalah kepadanya agar kita diubah menjadi matahari yang lebih berkuasa!” Raja Pan Kasim pun memenuhi permintaan permaisurinya. Ia segera menemui ular itu di hutan. Setelah menyampaikan permintaanya, ular raksasa itu menolak untuk mengambulkannya karena menganggap bahwa permintaan mereka terlalu berlebihan.

“Hai, kamu seorang yang serakah. Pulanglah, ada ganjaran yang menunggumu di rumah!” ujar ular itu. Dengan perasaan kecewa, Pan Kasim bergegas pulang. Setiba di istana, ia melihat raja negeri itu telah kembali dari bertapa. Pada saat itu pula, kedudukan Pan Kasim sebagai raja pun langsung dicopot. Ia dan istrinya kemudian diantar kembali ke rumahnya di desa. Mereka amat terkejut saat melihat rumah mereka yang megah kembali berubah menjadi gubur reyot. Akhirnya, Raja Pan Kasim dan Permaisuri Men Kasim yang serakah itu kembali menjadi rakyat biasa dan hidup miskin.

Itulah upah dari keserakahan dan tak tahu bersyukur, manusia memang dicipta memiliki ambisi untuk hidup lebih baik/layak, tetapi bukan dicipta untuk menjadi ambisius yang menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya dengan lupa bersyukur.

Sumber : https://www.reinha.com/2018/07/cerita-rakyat-bali-kisah-pan-kasim-dan-ular-sakti/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu