Ada empat orang anak muda kampung yang sekawan. Pertama bernama si Maridun alias si Bungkuk lantaran tubuhnya agak bungkuk sedikit. Wajahnya agak kesat lantaran beberapa jerwat batu bersumburan. Kedua bernama si Pured. Ia tinggi panjang dan agak kurus jika dibandingkan dengan si Bungkuk. Jika berjalan seperti Belanda mabuk lantaran kakinya mengangkang ke kiri dan ke kanan. Ketiga bernama si Magek. Tubuhnya hampi bersamaan dengan si Purel. Hanya saja perbandingan panjang lehernya tidak sebanding dengan mukanya yang kecil. Ke empat si Pendek. Tubuhnya memang pendek jika dibandingkan dengan teman-temannya.
Di antara keempat berteman ini dialah yang paling lucu dan menyebabkan ia sangat disenangi. Ke empat kawanan ini termasuk anak-anak muda kampung yang disegani penduduk lantaran tidak pernah mengganggu siapa saja. Dalam hidup sehari-hari mereka seakan-akan telah merasa bertanggung jawab membantu meringankan beban rumah tangga orang tua masing-masing. Mereka setiap hari pergi ke sawah ataupun ke ladang. Kadang-kadang mereka kelihatan menangkap ikan di danau. Di waktu sengganglah mereka bisa berkumpul untuk bercanda dan bergurau.
Demikianlah pada suatu malam mereka berkumpul pada sebuah rumah pembujangan. Yang mereka bicarakan tidak tentu ujung pangkalnya. Dari satu soal berpindah ke soal yang lain. Tidak ada hal-hal yang mengarah untuk dibicarakan. Walaupun demikian, masing-masing mereka tidak pula lupa menceritakan kelebihan dirinya seorang-seorang.
Si Bungkuk mengatakan bahwa buku tangganyalah yang deras. Siapa saja yang kena pukulannya pasti ke liang lahat atau ke rumah sakit. Jika si Pured lain pula ceritanta. Sepakan kakinyalah yang paling deras.Alang kepalang tahannya orang yang menankis pasti jungkir balik beberapa meter.
Si Magek yang sedari tadi rasa teratasi oleh teman-temannya menyela pula. Dia mengatakan bahwa kaki dan tangannya lebih cepat dari teman-temannya itu. Ia bisa mempergunakan tangan dan kaki sekaligus. Sudah banyak pendekar-pendekar di kampung itu yang dikalahkannya.
Si pendek tersenyum saja mendengar segala ucapan ngaur teman-temannya itu. Sam bil mencemooh ia berkata, "Berapalah keberanian kalian jika dibandingkan dengan gayung yang setiap pagi mandi dengan air mendidih."
Ketiga teman-temannya itu ternganga saja mulutnya mendengarkan cemooh si Pendek. Mereka merasa terpukul.
"Kalian saja jarang mandi pagi dengan air dingin," sambung si Pendek merasa menang. Untuk apa kalian melagakkan diri O, kalian lagakkan badan kalian besara-besar, jangan sombong saudara-saudara. Coba perhatikan kerbau yang berbadan besar, toh diatur orang juga hidungnya. O, soal kaya yang akan kalian lagakkan. Kayalah mandur. Beberapa drom aspal diserak-serakkannya di tengah jalan."
Mendengar pidato si Pendek ini yang lainnya terpksa mengunci mulutnya.
"Oleh karena itu janganlah kalian melagak dekat saya," sambung si Pendek membusungkan dadanya.
"Benar- benar lancang mukutmu, Pendek," menyahut si Bungkuk dengan membelallakkan mata. Jika kau masih saja berpidato, kami tidak segan-segan melemparkan tubuhmu keluar jendela."
Si Pured dan si Magek merasa mendapat pembelaan. Mereka tertawa sepuas-puasnya. Si Pendek tetap juga memperlihatkan lagak-lagak yang mencemooh.
Tiba-tiba si Pured menyela pula, Buat apa kita bertengkar sejak tadi. Hasilnya tidak ada. Lebih baik kita pergunakan kesempatan ini untuk mencuri."
"Betul juga," sambung si Magek berdiri.
"Bagaimana kalau kita mencuri tebu?"
"Saya tidak setuju," potong si Pendek.
"Untuk sekedar mencuri tebu tanggung jelek nama kita."
"Jadi mencuri apa yang baik?" tanya si Bungkuk yang mulai tertarik dengan gagasan itu.
"Bagaimana jika kita mencuri ikan?" jawab si Pendek.
"Jangan," kata si Pured.
"Terlalu banyak resikonya. Menangkap ikan itu susah dan badan kita mati kedinginan."
"Betul juga," sambung si Bungkuk yang telah mendapat rencana baru.
"Bagaimana jika kita mencuri ayam?"
"Setuju," jawab si Pured.
Demikian pula si Magek dan si Pendek menyetujui gagasan si Bungkuk itu. Untuk itu mereka bermufakat lagi mrnentukan siapa-siapa yang akan melaksanakan dan siapa pula yang akan tinggal di rumah dengan tugas memasak dan mempersiapkan sesuatu. Untuk mencuri ayam putuslah mufakat diserahkan pada si Pured dan si Pendek. Sedangkan untuk tinggal di rumah ditetapkan pula si Magek dan si Bungkuk.
Sebenarnya si Pured agak enggan menrima tugas itu. Jantungnya mulai berdebar-debar lantaran takut akan tertangkap basah. Sebaliknya si Magek dan si Bungkuk menerima tugas yang dipikulkan kepada mereka dengtan hati yang senang.Pekerjaan tidak berat dan tetap saja tinggal di rumah dengan tidak berdingin-dingin di malam hari. Di tengah jalan, si Pured berfikir juga kandang ayam siapa yang akan mereka masuki. Tiba-tiba ia bwerkata pada si Pendek, "Bagaimana jika rencana ini kita batalkan saja?"
"Mengapa demikian?" tanya si Pendek.
"Aku takut masuk penjara," jawab si Pured.
"Akupun demikian," ba;as si Pendek pula.
"Kalau demikian kita kembali saja."
"Jangan. Nanti kita dikatakan mereka penakut. Lebih baik kita teruskan saja dan memasuki kandang ayah si Bungkuk. Saya tahu cara masuknya. Dan ayamnya banyak."
Si Pured tersenyum mendengar gagasan si Pendek itu. Ia mengakui dalam hati bahwa temannya itu mempunyai akal yang panjang juga. Mereka terus juga berjalan mendekati rumah orang tua si Bungkuk. Tanpa mengalami kesulitan sebab si Pendek telah juga mengetahui pasak-pasak pintu kandung ayamtersebut, maka mereka bisa menggotong dua ekor ayam. Seekor jantan dan seekor betina.
Bagaimana jika ketauan nanti oleh si Bungkuk perbuatan kita ini?" tanya si Pured.
"Ia tidak akan tahu," jawab si Pendek yang telah mempunyai rencana pula.
"Ayam ini kita sembelih di tengah jalan dan bulu-bulunya segera kita bungjus."
Gagasan si Pendek ini dapat diterima oleh akal si Purad.
"Kau hebat juga, Pendek."
Si Pendek membusungkan dadanya di tengah malam buta itu lantaran menerima pujian temannya.
Sesampai di tempat mereka kembali, si Bungkuk bertanya pada si Pured dan si Pendek, mengapa mereka terlalu cepat kembali di luar dugaannya.
Dengan sombong si Pendek menyedorkan dua ekor ayam yang telah disembelih itu dari bungkusan kain sarungnya.
"Kalian memang orang-orang hebat," terdengar si Bungkuk memuji.
"Cepatlah goreng ayam ini," bentak si Pendek tanpa mengacuhkan pujian temannya itu.
"Perut kita bertambah lapar juga."
Si Bungkuk berlari ke dapur menemui temannya si Magek yang sedang memasak nasi. Sementara itu si Pendek dan si Pured merebahkan badannya seperti orang keletihan.
Setelah selesai si Magek dan si Bungkuk memasak, maka dibangunkanlah kedua temannya yang telah tertidur itu. Mereka bergadang sekenyang-kenyangnya. Masing-masing mereka mendapat pembahagian yang sama. Perut mereka terasa sesak. Hampir-hampir mereka tidak bisa lagi bernafas lantaran menghabiskan ayam yang dua ekor itu.
Menjelang pagi tamatklah riwayat ayam itu berpindah ke dalam perut mereka> Hanya yang tinggal tulang-tulangnya saja. Mereka terlentang kekenyangan di tempat itu juga. Mereka tertidur menjelang matahari sepenggalahan. Dan si Bungkuklah yang paling duluan terbangun sebab ia berniat hendak ke ladang pagi itu.
Sesampai di rumah didapatinya kedua orang tuanya sedang berbincang-bincang memperkatakan bahwa ayam mereka dicuri orang tadi malam. Si Bungkuk yang menerima berita itu melongo saja. Hatinya telah syak terhadap perbuatan kedua temannya si Pendek dan si Pured. Marahnya alang kepalang. Rasakan mau ia memecahkan tengkorak kedua temannya itu. Ia cepat-cepat meninggalkan rumah orang tuanya dan kembali ke rumah pembujangan. Disana didapatinya ketiga teman-temannya masih terlentang kekenyangan. Rumah itu masih kotor, dimana-mana terlihat nasi berserahkan.
Ia mendekati si Pendek dan si Pured.
"Hei setan, ayam siapa yang kalian curi tadi malam?" bentaknya sambil menyepakkan pinggul si Pendek.
Si Pendek yang kena sepak diam saja. Si Bungkuk berpindah pada si Pured.
"Hai anjing bangun. Ayam siapa yang kau santung tadi malam?" Si Pured menggeliat sedikit.
"Ayo bangun, ayam siapa yang kalian sungkahkan tadi malam?"
Sementara itu si Magek terbangun.Sambil mengusap-usap mata ia bertanya, "Apa yang terjadi, Bungkuk? Mengapa pagi-pagi benar telah ribut?"
"Maling-maling ini telah memasuki kandang ayam orang tua saya."
Mata si Magek membesar namun hatinya mulai geli sebab sejak tadi malam ia telah yakin bahwa si Pendek akan marah pada temannya itu.
"Hai maling, bangun," bentak si Bungkuk sekali lagi.
Berbarengan si Pendek dan Pured duduk sambil mengusap matanya.
"Ayam siap yang kalian malingi tadi malam?" tanya si Bungkuk kembali
Sambil melihat tenang-tenang saja pada si Bungkuk, si Pendek menjawab, "Tentu saja ayam-ayam kita-kita ini."
"Mengapa ayam di rumah yang kalian malingi?" tanya si Bungkuk geram.
"Habis ayam siapa lagi?" jawab si Pendek.
"Bukankah sama saja denga ikannya si Magek beberapa bulan yang lalu."
Kembali mata si Magek membesar: "Jadi ikan saya pernah pula kalian santung?"
Si Bungkuk yang terlibat dalam pencurian ikan itu terpaksa diam saja. Amarahnya mulai berkurang lantaran hatinya mulai geli mengingat peristiwa yang lalu.
Tiba-tiba si Magek berdiri: "Awas kalian si Pendek dan si Pured. Kesempatan bagi saya akan tiba juga untuk membalas."
Keempat konco pelangkin itu terbahak-bahak tertawa. Bagi mereka perselisihan sangat dijauhkan.
Sumber : Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera Barat
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...