Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Barito
Cerita Legenda Sungai Barito
- 12 Februari 2015

Pada zaman dahulu, di sebuah tumpung (desa sangat kecil, hanya dihuni beberapa kepala keluarga) di daerah ngaju, tinggal seorang janda dengan dua orang anaknya. Anak yang tertua bernama Patih Laluntur, sedang yang seorang lagi bernama Patih Sasanggan.

Dikarenakan usia yang telah lapuk dimakan waktu, sang ibu meninggal dunia, sehingga tingga...llah dua orang kakak beradik yang sudah menginjak usia remaja. Keduanya hidup rukun, sampai tumbuh menjadi pemuda dewasa.

Beranjak dari keinginan untuk mengubah pola hidup mereka yang sangat sederhana di tumpung, disertai keinginan untuk memperbaiki taraf kehidupan, serta keinginan menimba pengalaman di daerah luar, Patih Laluntur dan Patih Sasanggan sepakat untuk meninggalkan gubug mereka di tumpung.

Dengan bekal seadanya, kedua kakak beradik itu berangkat mengembara, tanpa tahu arah yang mesti dituju.

Mereka mengembara keluar masuk hutan belantara, dan berharap agar segera bertemu dengan pemukiman penduduk. Sekian lama mereka berkelana, tak jua ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan di daerah yang mereka lewati. Hanya semak belukar, pepohonan besar, dan berbagai satwa liar yang mereka jumpai. Bekal yang mereka bawa pun semakin menipis, tidaklah cukup untuk menempuh perjalanan tanpa batas. Untuk mengisi perut, mereka memakan hewan buruan yang dibakar, buah- buahan, umbi-umbian, dan pucuk-pucukan yang mereka temui sepanjang perjalanan.

Suatu hari, karena terlalu lelah dengan perjalanan panjang itu, mereka istirahat di bawah sebuah batang pohon besar yang rindang. Patih Laluntur dan Patih Sasanggan tidur-tiduran sambil menatap langit, melihat burung-burung beterbangan menari riang.

Untuk mengusir rangit (nyamuk hutan), mereka membuat api unggun kecil (perapian). Agar api unggun yang dibuat dapat bertahan lama, sang adik, Sasanggan, mengambil ranting-ranting kecil dari pohon dimana mereka berteduh, untuk sekadar menambah bara.

Asap yang mengepul dari perapian itu mengeluarkan bau yang sangat sedap, seperti bau daging yang terbakar. Sasanggan segera mencari sumber bau tersebut, yang ternyata berasal dari ranting dan potongan kayu dari pohon yang rindang itu. Laluntur juga mencium aroma yang sama. Karenanya, ia segera menebang salah satu dahan pohon tersebut, yang kemudian dipotong-potong, dan diletakkan ke dalam api unggun. Asap yang keluar dari api unggun itu tampak menebal, dan kembali menebar aroma yang sangat sedap, membangkitkan rasa lapar. Dan yang aneh, potongan kayu itu tidak berubah menjadi arang, melainkan terbentuk keratan-keratan daging-daging yang dibakar.

Patih Laluntur tidak sabar untuk tidak mencicipinya. Ternyata potongan kayu itu begitu empuk dan lezat, melebihi kenikmatan dari daging bakar biasa. Sasanggan pun segera melakukan hal yang sama.

Akhirnya, mereka berdua menebang pohon yang rindang itu dan dipotong-potong kecil untuk dijadikan santapan, dan sisanya sebagai bekal perjalanan mereka.

Belum lagi habis santapan di hadapan mereka, sang kakak sangat terperanjat menyaksikan perubahan yang terjadi pada tubuh adiknya. Tubuh Patih Sasanggan mulai ditumbuhi sisik- sisik tebal. Laluntur tertawa terbahak-bahak dan menganggap perubahan tubuh adiknya sebagai sesuatu yang lucu, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya keadaannya pun tak berbeda dengan sang adik.

Sasanggan tidak menyadari bahwa yang ditertawakan adalah dirinya. Ia pun tak kalah terkejutnya menyaksikan tubuh Laluntur telah ditumbuhi sisik-sisik tebal.

Konon, kedua kakak beradik itu telah memotong dan memakan tubuh seseorang yang tengah bertapa di situ. Tubuh itu telah berubah menjadi sebatang pohon sehingga tidak dapat dikenali lagi.

Akan halnya Patih Laluntur dan Patih Sasanggan yang telah termakan tubuh seorang pertapa itu, seluruh tubuhnya telah dipenuhi sisik tebal, ekornya yang keras telah muncul, kedua kaki dan tangannya telah berubah menjadi kaki tangan buaya dengan kuku-kuku yang runcing, dan kepalanya pun telah berubah menjadi kepala buaya. Jadilah, dua ekor buaya putih.

Kedua ekor buaya putih itu merangkak menjelajahi hutan dan rimba belantara untuk mencari laut sebagai tempat kediaman mereka. Kedunya terus merayap hingga bertemu dengan laut.

Ketika hujan turun, titik-titik air yang telah menyatu mengalir melewati jalan yang dilalui kedua buaya tersebut. Semakin sering hujan turun, terjadi pengikisan tebing sungai, kemudian erosi vertikal yang kuat. Dari aliran yang kecil, kemudian bertemu dengan aliran di tempat lain. Lama-lama aliran itu menjadi besar, hingga terbentuklah sungai Barito seperti yang dilihat sekarang ini.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Soto Bancar Purbalingga
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Tengah

Soto adalah salah satu masakan Indonesia yang sangat populer dan bisa ditemukan hampir di setiap daerah, masing-masing dengan ciri khas dan keunikannya. Setiap kota memiliki versi soto yang berbeda, tergantung pada budaya dan selera lokal. Salah satunya adalah Soto Bancar , sebuah kuliner khas dari Purbalingga , Jawa Tengah, yang memiliki rasa manis sebagai ciri utamanya. Soto ini sangat digemari oleh warga lokal dan menjadi pilihan favorit para wisatawan yang ingin mencicipi keunikan masakan khas Banyumasan. Asal Usul Soto Bancar Purbalingga, yang terletak di Jawa Tengah, terkenal dengan kuliner khasnya yang beragam dan menggugah selera. Salah satu hidangan yang sangat terkenal di daerah ini adalah Soto Bancar. Nama “Bancar” sendiri berasal dari daerah tempat soto ini pertama kali dijual, yaitu di sekitar perempatan Bancar , Kecamatan Purbalingga. Soto Bancar mulai dikenal dan berkembang sejak beberapa dekade yang lalu, dan hingga kini tetap menjadi favorit...

avatar
Netizen Budiman
Gambar Entri
Kuntulan: Kesenian Atraksi Khas Dari Semangkung, Banjarnegara
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Jawa Tengah

Kuntulan Semangkung merupakan sebuah Kesenian asal Banjarnegara, lebih tepatnya dari dusun Semangkung, Kecamatan Punggelan. Warisan budaya yang memikat dengan ciri khasnya yang unik dan memukau. Kuntulan Semangkung tidak hanya sekedar seni pertunjukan, tetapi juga sarat dengan nilai filosofis dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam setiap penampilannya, kesenian ini menghadirkan harmoni antara alat musik terbangan (rebana) yang dimainkan oleh sesepuh dusun dan gerakan tarian yang sarat makna. Melalui atraksi seperti "gigit meja" dan "bolang baling," Kuntulan Semangkung tidak hanya menciptakan hiburan visual yang menakjubkan, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan kearifan lokal yang meleburkan keindahan seni dan kearifan budaya. Apa Itu Kuntulan Semangkung? Kuntulan, atau yang disebut Kuntulan Semangkung ini, merupakan salah satu bentuk seni tradisional khas bagi masyarakat Dusun Semangkung. Seni ini telah diwariskan secara turun temurun sejak...

avatar
Netizen Budiman
Gambar Entri
Rampak Gendang
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Jawa Barat

Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Sesuai dengan namanya, Rampak Gendang merupakan kesenian yang menggunakan gendang atau kendang sebagai media utamanya. Selain gendang, pertunjukan Rampak Gendang ini juga ditemani dengan berbagai macam alat musik seperti bonang, gong, rebab, kenong, demung, peking, saron I dan II, serta rincik. Rampak berasal dari bahasa Sunda yang berarti serempak atau bersama-sama, sehingga Rampak Gendang dapat dikatakan bermain gendang bersama-sama. Rampak Gendang dimainkan oleh lebih dari dua orang dan semua pemain menggunakan kostum yang sama. Mereka mengenakan pakaian tradisi Sunda, yaitu takwa, sinjang dan udeng (ikat kepala). Tetapi untuk penabuh gendang, mereka mengenakan pakaian khusus yang berbeda, yaitu terdapat motif Sunda dengan warna menarik yang seragam. Pada saat pertunjukan dimulai, para pemain akan naik ke panggung dan menempati posisinya masing-masing sesuai dengan alat musik yang dimainkan. Begitu aba-aba dari salah...

avatar
Andhika
Gambar Entri
Aksara Lampung
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Lampung

Aksara Lampung merupakan sistem tulisan tradisional yang digunakan oleh masyarakat Lampung sejak berabad-abad lalu. Aksara ini termasuk dalam rumpun aksara Brahmi dari India dan memiliki kemiripan dengan aksara Pallawa, Rejang, serta aksara-aksara kuno lain di Sumatra. Dalam masyarakat Lampung, aksara ini dikenal dengan sebutan Had Lampung atau Kaganga, yang diambil dari tiga huruf pertamanya, yaitu ka, ga, dan nga. Pada masa lalu, aksara Lampung digunakan untuk menulis berbagai naskah adat, sastra, hukum, serta catatan kehidupan masyarakat. Tulisan tersebut biasanya ditorehkan pada media seperti kulit kayu, bambu, tanduk, maupun daun lontar. Meskipun penggunaannya sempat menurun akibat pengaruh modernisasi dan penggunaan huruf Latin, aksara Lampung kini terus dilestarikan melalui pendidikan dan berbagai kegiatan kebudayaan sebagai bagian dari identitas masyarakat Lampung. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Lampung

avatar
Ghinai
Gambar Entri
Tari Jauk
Tarian Tarian
Bali

Tari Jauk adalah salah satu tari tradisional khas Bali yang terkenal karena gerakannya yang enerjik, ekspresif, dan penuh karakter. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang penari laki-laki dengan mengenakan kostum berwarna cerah, kain khas Bali, hiasan kepala, serta topeng yang memiliki mata besar dan ekspresi tajam. Nama “Jauk” sendiri sering dikaitkan dengan sosok makhluk penjaga atau tokoh yang memiliki sifat gagah, kuat, dan kadang terlihat menyeramkan. Oleh karena itu, penampilan Tari Jauk mampu memberikan kesan dramatis sekaligus memikat bagi penonton. Gerakan dalam Tari Jauk sangat khas karena menonjolkan penggunaan topeng berwarna merah atau putih, gerakan tangan, dan langkah kaki yang cepat. Penari harus mampu menggerakkan wajah topeng ke kanan dan kiri dengan lincah, lalu menggabungkannya dengan posisi tubuh yang tegas dan dinamis. Gerakan tersebut mencerminkan karakter tokoh Jauk yang selalu waspada, berani, dan memiliki kekuatan batin. Iringan gamelan Bali yang cepat...

avatar
Budayawan