Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Bengkulu Bengkulu
Cerita Bujang Awang Tabuang, Bengkulu
- 25 Maret 2016

Cerita rakyat daerah Bengkulu, Bujang Awang Tabuang, menceritakan tentang seorang pemuda tampan lagi sakti mandraguna. Ia merupakan putra Raja Kramo Kratu Agung dan permaisurinya Putri Rimas Bangesu. Karena dianggap tidak mampu memberikan keturunan, Putri Rimas Bangesu diasingkan ke tengah hutan oleh suaminya sendiri atas nasehat penasehat kerajaan.

Pada dahulu kala di daerah Bengkulu, terdapat sebuah kerajaan bernama Peremban Panas. Kerajaan peremban Panas dipimpin oleh Raja Kramo Kratu Agung. Sang Permaisuri bernama Putri Rimas Bangesu. Sang Raja memerintah secara adil bijaksana. Rakyat Kerajaan Peremban Panas sangat menghormati dan mencintai raja mereka.

Namun kebahagiaan Raja Kramo Kratu Agung sedikit terganggu, karena setelah menikah selama enam tahun dengan Permasuri Putri Rimas Bangesu, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Sang Raja merasa khawatir, siapa akan meneruskan tahta kerajaannya nanti. Kerabat kerajaan kemudian berembug untuk membicarakan masalah ini. Setelah mereka berembug, hasil dari rembug kerabat kerajaan tersebut mengejutkan Putri Rimas Bangesu. Mereka memutuskan bahwa Sang Raja harus menikahi wanita lain. Sedangkan Putri Rimas Bangesu harus diasingkan ke tengah hutan rimba.

Kelahiran Bujang Awang Tabuang

Tidak lama kemudian, Putri Rimas Bangesu diasingkan ke tengah hutan. Ia ditemani oleh seekor harimau dan sepasang kera. Kerajaan membuatkan sebuah gubug di tengah hutan rimba sebagai tempat pengasingan Sang Permaisuri. Sebenarnya saat diasingkan, Sang Permaisuri tengah mengandung, hanya saja Raja Kramo Kratu Agung tak mengetahuinya. Setelah sekian lama tinggal di pengasingan, lahirlah dari rahim Sang Permaisuri, seorang anak laki-laki tampan lagi sehat. Sang permaisuri memberinya nama Bujang Awang Tabuang.

Di bawah pengasuhan ibunya, ditemani oleh harimau dan sepasang kera, Bujang Awang Tabuang tumbuh menjadi seorang pemuda gagah, tampan, tangguh lagi sakti. Waktu terus bergulir hingga Bujang Awang Tabuang mencapai umur tujuh belas tahun. Ibunya selalu berdusta padanya, setiap kali Bujang bertanya perihal siapa ayahnya. Ibunya akan mengatakan bahwa ayahanda Bujang adalah seorang Dewa.

Namun kini Bujang telah menjadi seorang pemuda dewasa. Sang Permaisuri merasa sudah waktunya Bujang mengetahui siapa ayah kandungnya. Putri Rimas Bangesu akhirnya mengatakan bahwa Raja Kramo Kratu Agung adalah ayah kandungya. Ia juga menceritakan kejadian yang menimpa dirinya diasingkan dari istana.

Mengetahui hal tersebut, Bujang meminta izin ibunya untuk pergi ke istana Kerajaan peremban Panas mencari ayahandanya. Walaupun merasa berat hati, namun Putri Rimas Bangesu tetap mengizinkan. “Berhati-hatilah engkau Bujang. Sebisa mungkin hindari pertengkaran atau perkelahian dalam perjalanmu nanti. Ibu akan terus mendoakanmu.” kata Sang Ibunda.

Bujang Berangkat Ke Istana Mencari Ayahandanya

Keesokan harinya Bujang Awang Tabuang berangkat menuju istana Kerajaan Peremban Panas. Dari hutan rimba ia berjalan kaki seorang diri selama berhari-hari. Setiap bertemu penduduk, ia akan bertanya kemana arah istana Kerajaan Peremban Panas. Akhirnya Bujang tiba juga di istana Kerajaan Peremban Panas.

Setibanya di gerbang istana, Bujang langsung masuk begitu saja ke dalam istana. Tingkah lakunya membuat penjaga istana berusaha menghentikannya. “Saya ingin menemui Raja Kramo Kratu Agung.” kata Bujang kepada para penjaga gerbang istana.

“Tidak bisa kau seenak perutmu masuk ke istana begitu saja. Yang Mulia Raja Kramo Kratu Agung tidak bisa diganggu. Beliau hendak menikahi Putri Rambut Perak dari Kerajaan Pinang Jarang.” kata para penjaga.

Bujang Membuat Kekacauan Di Istana Kerajaan Peremban Panas

Namun Bujang tetap memaksa masuk sehingga membuat para penjaga terpaksa mengusirnya. Tidak terima diusir, Bujang melawan para penjaga. Akibatnya tejadi perkelahian diantara mereka. Bujang Awang Tabuang nampaknya terlalu tangguh bagi para penjaga gerbang istana. Ketika datang prajurit lainnya untuk mengeroyok Bujang, dengan mudahnya Bujang mengalahkan mereka semua. Para prajurit akhirnya berlarian menjauhi Bujang. Sebagian diantara prajurit segera melaporkannya pada Patih Kerajaan.

Karena merasa kelelahan setelah perjalanan jauh, Bujang kemudian tidur di bawah pohon alun-alun istana. Suara dengkurnya terdengar begitu keras hingga membuat istana kerajaan bergetar bagaikan terkena gempa bumi. Getaran seperti gempa bumi, membuat seisi istana gempar.

Raden Tumenggung, Patih Kerajaan Peremban Panas segera keluar mencari biang keladi kekacauan tersebut. Ia mendapati Bujang Awang Tabuang sedang tidur mendengkur di bawah pohon alun-alun istana. “Hai gembel bangun! Jangan buat kekacauan di istana Kerajaan. Apa maksudmu membuat kekacauan!” teriak Raden Tumenggung kasar.

Bujang terbangun, kemudian ia berjalan ke dalam istana mencari Raja Kramo Kratu Agung. Ia sama sekali tak memperdulikan Raden Tumenggung. Melihat sikap kurang ajarnya, Raden Tumenggung tanpa basa-basi langsung menyerang Bujang. Terjadilah perkelahian diantara keduanya. Lagi-lagi Bujang menunjukkan ketangguhannya dalam bertarung. Dalam waktu singkat ia mampu mengalahkan Raden Tumenggung.

Bujang Awang Tabuang lantas memasuki istana. Di dalam istana ia mengamuk menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Para prajurit istana dibuat kocar-kacir tidak mampu menghadapinya. Raja Kramo Kratu Agung akhirnya turun tangan langsung menghadapi sang pemuda pengacau. Keduanya bertarung sengit selama satu hari satu malam. Keduanya belum mengetahui bahwa mereka berdua adalah ayah dan anak. Karena tidak ada tanda-tanda siapa akan menang dan siapa akan kalah, Raja Kramo Kratu Agung akhirnya meminta Bujang untuk menghentikan pertarungan tersebut.

“Sudahlah hai anak muda. Nampaknya pertarungan kita tidak akan pernah selesai. Siapakah dirimu berani membuat kekacauan di istana? Aku Raja Kramo Kratu Agung. Katakan apa keperluanmu?” kata Sang Raja.

Bujang Akhirnya Bertemu Ayahandanya

Bujang merasa kaget bahwa ternyata lawan tarungnya adalah ayahanda yang ia cari. “Maaf Paduka Raja. Hamba adalah Bujang Awang Tabuang, putra dari Putri Rimas Bangesu. Sewaktu ibunda diasingkan ke hutan rimba, sebenarnya ibunda tengah mengandung Hamba.” kata Bujang.

“Jadi engkau adalah anakku wahai anak muda?” kata Sang Raja.

“Benar ayahanda. Sekarang ibunda masih di hutan.” kata Bujang.

Raja Kramo Kratu Agung segera memeluk anaknya. Ia meminta maaf telah mengasingkan dan menyiakan-nyiakan ibunya. Raja mengaku tidak tahu bahwa Putri Rimas Bangesu saat diasingkan tengah mengandung. Sang Raja kemudian membatalkan pernikahannya dengan Putri Rambut Perak.

Putri Rimas Bangesu Kembali Ke Istana

Keesokan harinya, Sang Raja bersama Bujang Awang Tabuang beserta para prajurit pergi ke hutan tempat pengasingan Putri Rimas Bangesu untuk menjemputnya. Maka bertemulah kembali Raja Karmo Kratu Agung dengan istrinya Putri Rimas Bangesu. Keduanya berpelukan sambil menangis. Sang Raja kemudian membawa kembali istrinya ke istana Kerajaan Peremban Panas, menaiki kereta indah.

Akhirnya Bujang Awang Tabuang hidup berbahagia bersama kedua orang tuanya di istana Kerajaan Peremban Panas. Meski sudah tinggal di istana, Bujang Awang Tabuang tidak melupakan harimau dan kera yang telah menemaninya sejak kecil. Bujang kerap mengunjungi mereka dihutan. Ia biasa bercengkrama dengan mereka seperti saat ia kecil dahulu.

***

 

source: Indofabel.com

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Sekaten adalah Upacara Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan sejarah serta fungsi,
Ritual Ritual
Daerah Istimewa Yogyakarta

Sekaten adalah Upacara Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan sejarah serta fungsi, makna, dan nilai budaya Identitas Ritual Sekaten adalah rangkaian upacara tahunan yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi) [S1][S3]. Ritual ini berlangsung selama delapan hari, dimulai pada tanggal 5 Rabi'ul Awal (Mulud dalam kalender Jawa) dan berakhir pada tanggal 12 Rabi'ul Awal dengan upacara penutup bernama Garebeg Mulud [S3]. Nama "Sekaten" sendiri berasal dari adaptasi istilah Arab syahadatain , yang merujuk pada dua persaksian (syahadat) dalam Islam [S1]. Komunitas pelaksana Sekaten adalah institusi keraton sebagai pusat ritual, dengan melibatkan masyarakat luas dalam prosesi dan perayaan [S2]. Lokasi utama penyelenggaraan adalah Yogyakarta, meskipun tradisi serupa juga dilaksanakan di Surakarta [S1]. Upacara ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan laku budaya-religius...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur
Motif Kain Motif Kain
Nusa Tenggara Timur

Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur Identitas dan Asal-Usul Tradisi tenun yang paling populer di Indonesia merujuk pada Tenun Ikat , khususnya varian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Popularitas ini tidak terlepas dari keunikan teknik, motif, dan makna filosofisnya yang kuat dalam budaya masyarakat setempat [S1]. Tenun ikat di NTT merupakan warisan budaya yang bertahan hingga kini, diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian integral dari identitas komunitas [S2]. Secara geografis, sentra tenun ikat NTT tersebar di berbagai pulau, dengan Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu pusat tradisi ini yang paling kuat. Di Sumba, pembuatan kain tenun ikat tradisional masih lestari, dengan kampung-kampung seperti Kanatang dan desa-desa di wilayah Sumba Timur menjadi lokasi perajin aktif [S3]. Proses pembuatannya sangat mengikat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat, di mana kain tenun bukan sekadar produk ekonomi tetapi juga warisan leluhur yang...

avatar
Kianasarayu