Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Papua Papua
Cerita Awal Pengenalan Bidan Bayi di Papua
- 28 Desember 2018

Di muara Sungai Beraur ada sebuah tempat bernama Amakhsahen. Ditempat itu tingal suku Konologit. Mereka merasa nyaman tinggal di daerah subur itu. Akan tetapi, ada satu masalah yang belum dapat mereka pecahkan, yaitu mereka belum tahu cara menolong wanita yang akan melahirkan. Kalau ada wanita yang akan melahirkan berarti akan ada kematian sebab perut wanita itu dibedah. Bayi yang dikeluarkan akan selamat, tetapi si ibu meninggal karena perutnya tidak dijahit lagi.

Hal itu terjadi karena mereka tidak tahu cara menjahit perut yang telah dibedah. Biasanya, bayi yang dilahirkan itu dirawat sanak keluarganya. Begitulah keadaan suku Konologit. Hal yang sangat menyedihkan itu mereka terima dengan pasrah. Pada suatu hari, datanglah seorang perempuan ke Amakhsahen. Perempuan itu seorang budak belian dari suku Krimadi yang diperdagangkan Raja Konjol.

Keahliannya adalah menolong wanita yang akan melahirkan. Dia sangat sedih mendengar cerita tentang nasib wanita di daerah itu. Kalau seperti itu caranya, wanita di daerah ini tentu tidak akan berumur panjang, begitu pikirnya. Setelah beberapa lama tinggal di daerah itu, perempuan itu mendengar ada wanita yang akan melahirkan. "Aku harus menolong wanita itu," katanya, "orang yang akan membedah perut wanita itu harus ku cegah."

Perempuan itu segera menuju ke rumah wanita yang akan melahirkan. Ia berjalan setengah berlari karena takut didahului juru bedah. Hatinya lega karena juru bedah belum sampai di tempat itu. Beberapa saat kemudian, datanglah juru bedah hendak melaksanakan tugasnya. Perempuan itu melarangnya. "Jangan kau lakukan itu. Keluarlah ! Aku akan menolong wanita ini. Dia tidak akan mati." katanya meyakinkan.

Juru bedah dan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu keheranan karena perempuan itu berani menyuruh juru bedah keluar ruangan. Karena ingin membuktikan kata-kata perempuan itu, tanpa banyak komentar mereka segera keluar dari ruangan.

Di ruangan itu sekarang hanya ada wanita hamil dan perempuan itu. Kemudian, perempuan itu mulai menolong wanita yang hendak melahirkan itu. Tanpa kesulitan berarti, akhirnya lahirlah seorang bayi. Bayi itu kemudian diberikan kepada ibunya. "Ini bayimu," kata perempuan itu.

Setelah itu, perempuan itu memanggil juru bedah untuk masuk melihat bayi dan ibunya yang selamat. Juru bedah dan orang-orang pun masuk ke dalam ruangan. Mereka heran karena perempuan itu memang benar telah menolong wanita hamil itu melahirkan dengan selamat baik ibu maupun bayinya.

"Mulai sekarang, kalian tidak perlu membedah perut orang yang akan melahirkan. Cukup membidaninya," kata perempuan itu kepada juru bedah dan orang-orang yang ada di alam ruangan.

Mereka senang dengan keberhasilan perempuan itu membidani wanita yang akan melahirkan tadi.  Mereka ingin kalau istri mereka melahirkan, tidak usah dibedah perutnya, tetapi cukup dibidani.

Kesimpulan :
Legenda ini mengisahkan suku Kondologit sebelum dan sesudah mereka mengenal bidan bayi. Sampai sekarang kita masih dapat melihat buktinya, yaitu sebuah alat yang digunakan untuk membedah perut perempuan yang akan melahirkan.

Hikmah yang dapat kita petik dari legenda ini adalah hendaklah membidani perempuan yang akan melahirkan dengan baik agar ia dapat melahirkan bayinya dengan selamat dan dapat merawat bayi itu dengan baik.

 

 

Sumber : Cerita Rakyat Dari Irian Jaya oleh Muhammad Jaruki dan Mardiyanto

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu