Pada jaman dahulu kala di Rote hiduplah sepasang suami-isteri dari hasil perkawinan mereka lahirlah 2 (dua) orang anak laki-laki. Kedua anak tadi sangat dikasihi oleh orang tuanya. Keduanya dijaga dan diasuh sebaik-baiknya, agr kelak di kemudian hari dapat membantu mereka, di dalam pekerjaan-pekerjaan mereka.
Pada waktu itu kelimpahan makanan terdapat dimana-mana. Walupun demikian, kedua suami-isteri tidak berdiam diri begitu saja. Tiap-tiap hari terutama hari Metin (ketika air surut) keduanya pergi kelaut mencari ikan, kerang-kerang, dan sayur-sayur laut untuk dimakan. Pekerjaan ini dilakukan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan. Karena kebiasaan yang sudah membudaya ini, maka untuk mudahnya mereka memilih tempat tinggal dipantai. Mereka mendirikan sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu, mopuk (batang lontar yang tua), serta atapnya dari daun lontar yang kering.Kebiasaan pergi kelaut bersama-sama mulai berubah setelah lahirnya kedua anak tersebut diatas. Apalagi sang ayah pergi ke laut maka sang isteri harus tingal di rumah menjaga anak dan menyiapkan makanan seperlunya untuk dimakan bersama.Apabila sang isteri yang pergi ke laut, maka sang ayah harus tinggal di rumah menjaga anak menyiapkan makanan seperlunya.
Pergantian semacam ini berlangsung terus- menerus sampai kedua anak tadi berangsur-angsur menjadi besar. Apabila masa metin berakhir, maka keduanya tinggal di rumah sambil mempersiapkan alat-alat yang berhubungan dengan hari metin (air surut) nanti. Alat-alat tersebut seperti, undah (alat untuk menikam) tee (tombak bermata dua, tiga), dan mbisa tasi (semacam keranjang).
Sementara itu anak-anak makin hari makin menjadi besar dimana mereka berdua sudah bisa memasak dan sebagainya. Oleh sebab itu jika hari metin (air surut), maka suami-isteri sudah dapat pergi ke laut bersama-sama. Untuk menjaga rumah dan menyiapkan makanan, sudah dapat dipercayakan kepada kedua anak tadi.
Pada suatu hari kedua suami-isteri hendak pergi ke laut bersama-sama. Sebelum berangkat mereka terlebih dahulu mempersiapkan peralatan mereka. Disampin itu mereka juga mempersiapkan beras dan sebagainya yang akan dimasak oleh kedua anak mereka.
Pada saat hendak berangkat, kedua anak dipanggil untuk menerima pesan yang akan disampaikan kepada mereka. Sang ibu berkata kepada kedua anak mereka, sebagai berikut : "Saya bersama ayahmu akan pergi ke laut, oleh sebab itu, jagalah rumah kita baik-baik, air, beras dan periuk masak sudah tersedia. Menjelang tengah hari, hendaklah kamu berdua memasak nasi agar sekembalinya kami kita dapat makan bersama-sama. Tetapi ingat, ada beberapa butir beras di dalam udunisik (tempat beras yang terbuat dari daun lontar) ambillah sebutir bagi empat dan seperempatnya hendaknya kamu masak, tidak boleh lebih dari satu." Kedua anak tersebut mengangguk tanda setuju. Setelah pesan itu selesai disampaikan, maka suami-isteripun pergi menuju kelaut. Sesampai di laut keduanyapun mulai mencari dari satu batu ke batu yang lain, dan ternyata cukup banyak hasil yang diperoleh pada kesempatan tersebut. Kedua suami-isteri sangat senang, dengan perolehan merka itu. Sementara itu di rumah kedua anak mereka bersiap-siap hendak memasak nasi, karena hari sudah siang. Kakaknya menyuruh adiknya untuk menyalakan api di tungku, serta mempersiapkan periuk tanah dan sebagainya. Sang kakaklah yang akan mengambil serta mengukur beras yang akan dimasak nanti. Setelah api di tungku dinyalakan maka periuk dan airpun segera diukur. Sebutir beras diambil oleh sang kakak dan dibaginya atas dua bagian. Sebagaiannya disimpan dan sebagian lainnya hendak dimasak. Si adik sempat melihat perbuatan kakaknya itu. Timbul pertengkaran diantara keduanya, karena si adik tidak setuju dengan pembagian, atau ukuran beras yang dibuat oleh kakaknya. Ia menuduh kakaknya telah melanggar pesan orang tua, lagi boros. Ia sangat takut kalau nantinya mereka dipukul, karena perbuatan kakaknya itu.
Sementara itu sang kakak membentak sambil berkata: "Tidak apa-apa, engkau tidak mengerti apa=apa." Sang adik pun terpaksa mengalah demi menghindari pertengkaran yang brlarut lama. Beras pun terpaksa dicuci dan dimasukkan ke dalam periuk, untuk dimasak. Lama kelamaan air di periuk nasi pun mendidih.
Anehnya makinlama sir nasi tidak mengering tanda nasi sudah masak seperti biasa. Nasi dan air lama kelamaan naik dan meluap-luap. Kedua kakak beradik berusaha menenangkan luapan itu dengan irus (dengan pakai sendok nasi) namun sia-sia . Nasi bersama air nasi meluap memenuhi tungku, terus mengalir kearah jalan yang menuju ke laut. Aliran itu kian menjadi-jadi, sehingga sempat mengalir sampai di laut. Ibu bapak mereka yang sedang berada dilaut terkejut serta takut melihat keadaan itu. Keduanya berkemas hendak pulang untuk melihat apa yang sedang terjadi di rumah. Sepanjang jalan mereka melihat aliran air bubur yang makin meluap-luap. Sang ibu brkata kepada suaminya sebagai berikut: "Jangan sampai anak-anakmu salah mengukur beras, sehingga terjadi demikian. Dasar anak- anak tidak mau mendengar nasihat orang tua ya..... beginilah keadaannya."
Tidak lama kemudian sampailah mereka di rumah. Didapatinya periuk dan tungku penuh berlumuran dengan nasi dan air nasi. Melihat akan kenyataan itu keduanyapun marah, sementara kedua anak mereka pergi bersembunyi karena ketakutan. Keduanya berusaha membersihakan tungku dari luapan air nasi sesudah itu baru mereka mencari kedua anak mereka. Keduanya bersembunyi dibawah tempat tidur, sehingga sulit diketemukan. Sang ibu pun berteriak memanggil kedua anaknya. Tidak lama kemudian keduanyapun keluar dari bawah tempat tidur. Dengan marahnya sang ibu bertanya: "Apa sebab terjadi demikian?" Sang adikpun menjawab: "Itu semua gara-gara kakak. Saya masih mengingatkan namun ia tidak mau mendengarkannya." Karena marahnya sang ibu langsung memukul kedua anaknya dengan sodek (sendok yang terbuat dari tempurung kelapa) dan keduanya menangis kesakitan sementara bapak mereka ikut membentak-bentak. Sesudah itu keduanya pergi lagi membersihkan tungku, sementara dua anak mereka dibiarkan menangis. Tidak lama kemudian ibu kembali lagi hendak memukul kedua anaknya. Pada saat itu ia melihat kelainan pada diri kedua anaknya. Kelainan itu berupa sorot mata,cara berjalan dan sekujur tubuh mereka mulai ditumbuhi bulu-bulu.
Dengan lincah keduanya melompat kesana - kemari sambil menetap ibu mereka. Sang ibu heran, ia memanggil suaminya untuk menyaksikanhal itu. yah pun datang dan kedua anak itu dengan sangat lincah melompat dari satu tempat ke tempat yang lain sambil mengdaruk-garuk badannya. Keduanya berusaha memanggil dan membujuk kedua anak tadi, namun keduanya makin menjauh. Sang ibu menangis tersedu-sedu sambil memohon ampun namun sia-sia belaka.
Semakin dibujuk semakin mereka menjauh. Tidak lama kemudian kedua anak itu melompat ke atas rumah sambil duduk dan menggoyang-goyangkan ekornya. Kedua suami-isteri menangis tersedu-sedu memohon ampun atas ketelanjuran mereka.Mereka memanggil: "Mari.....mari......mari anakku, kami minta ampun. Kami tidak akan berbuat demikian lagi.", namun sai-sialah segala usaha itu.
Si ayah berusaha keatas rumah, sementara kedua anak tadi melompat ke atas pohon di dekat rumah. Tidak lama kemudian keduanya duduk di atas dahan pohon sambil bernyanyi sebagai berikut: "Dimana orang sedang memikul air kami tidak ada di sana lagi. Dimana periuk nasi sedang mendidih kami tidak ada di sana lagi. Dimana air gula disiapkan ditimba untuk diminum, kami tidak ada disana lagi. Dimaba lesung berbunyi tanda padi, sedang ditumbuk kami tidak ada disana lagi. Dimana ada pohon disana kami ada. Dimana ada hutan disana kam ada. Dimana ada lubang batu yang besar, disana kami ada. Dimana ada buah hutan bermasakan, disana kami ada."
Setelah kata-kata itu selesai diucapkan maka keduanya melompat dari satu dahan ke dahan yang lain dan dari satu pohon ke pohon yang lain terus menrus sampai menghilang. Kedua orang tadi mengikuti mereka terus dari bawah pohon. Mereka masuk hutan keluar hutan dengan harapan anak mereka dapat kembali seperti sdia kala. Dengan keringat dan air mata mereka membuntuti kedua anak tadi menghilang dalam gua-gua di hutan. Dengan penuh kesedihan dan penyesalan, kedua orang tua tadi kembali ke rumah. Berita kedua anak ini tersiar kemana-mana sehingga banyaklah orang datang ke rumah kedua orang tua tadi, untuk mengetahui langsung duduk persoalannya. Peristiwa yang malang itu diceriterakan dari awal sampai pada akhirnya. Akibat dari peristiwa tersebut di atas, maka sampai sekarang orang Rote dimanapun berada, sangat haram memukul anak dengan irus nasi (sondak nasi).
sumber:
Sayur sop ayam adalah salah satu masakan rumahan yang sangat populer di Indonesia khas ala Nur Kitchen . Rasanya yang ringan, segar, dan gurih membuat hidangan ini cocok disantap kapan saja, terutama saat cuaca dingin atau saat ingin makanan yang menenangkan. Selain enak, sayur sop ayam juga kaya akan nutrisi karena terdiri dari berbagai sayuran dan protein dari ayam. Bahan-Bahan Sayur Sop Ayam Berikut bahan yang perlu disiapkan: 500 gram daging ayam (potong sesuai selera) 2 buah wortel (iris bulat) 2 buah kentang (potong dadu) 1 batang daun bawang (iris) 1 batang seledri (ikat atau iris) 1 liter air Bumbu Halus: 4 siung bawang putih 1/2 sendok teh merica Garam secukupnya Bumbu Tambahan: 1/2 sendok teh gula Kaldu bubuk secukupnya (opsional) Cara Membuat Sayur Sop Ayam Rebus Ayam Didihkan air, lalu masukkan potongan ayam. Rebus hingga setengah matang. Buang kotoran atau busa yang muncul agar kuah tetap jernih. Tumis Bumbu Haluskan bawang putih dan merica, lalu...
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...
Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional merupakan warisan kesehatan asli Indonesia berupa ramuan herbal yang diracik dari bahan-bahan alami [S1][S3]. Sebagai sistem pengobatan tradisional, jamu telah dipraktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya nasional [S1][S2]. Praktik ini mencakup pengetahuan meracik, filosofi kesehatan, hingga aspek sosial-budaya yang menyertainya. Sejarah jamu berpusat di Jawa, dengan Kota Surakarta (Solo) sebagai salah satu episentrum utama yang masih aktif memproduksi dan melestarikan tradisi ini [S4]. Akar tradisi jamu dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Mataram, di mana pengetahuan pengobatan herbal telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi [S6]. Hingga kini, Jawa tetap menjadi daerah asal dan pusat budaya jamu yang paling kuat [S2][S6]. Bukt...