Asal Usul kata pempek
Dimasa Kerajaan Sriwijaya,pempek sering disebut kelesan yang berarti panganan adat khas palembang yang mempunyai sifat dan kegunaan tertentu.Pempek sudah dijual masal pada saat zaman kolinial. Setelah populer,pempek dijual ke orang China di Palembang yang kemudian sering dipanggil empek. Empek adalah sebutan bagi orang China yang menjajakan kelesan .Oleh karena itu,kelesan lebih populer disebut dengan nama pempek. Pada saat itu juga, orang Palembang menggunakan cuka sebagai saos untuk pempek yang berasa pedas dan manis.
Macam-macam pempek
Ada beberapa macam pempek yang biasa dimakan oleh orang Palembang seperti : kapal selam(atau biasanya disebut pempek telur besar), keriting(dikarenakan berbentuk keriting),bulat (berbentuk bulat),lenjer (berbentuk balok lonjong) dan adaan/dos(pempek yang dibuat dengam menggunakan sagu)
Mengapa pempek kapal selam?
Pempek kapal selam lebih populer dari pempek lainnya bukan karena namanya yang unik tetapi dengan cita rasanya yang lebih garing ,nikmat dan besar. Pempek tersebut dibuat menggunakan 1 buah telur yang terdapat di tengah-tengah pempek tersebut.
Cara Membuat pempek kapal selam
1. Bahan yang digunakan:
-350gram ikan tenggiri atau gabus atau ikan lain yang segar
-150ml air es
-2sdt garam
-5 siung bawang putih yang digoreng lalu tiriskan
-2 butir putih telur
-1sdt gula pasir
-1/4sdt penyedap rasa
-Air dan minyak goreng secukupnya
2. Proses
a.Masukan semua bahan pempek kecuali tepung sagu kedalam suatu wadah
b.Masukan tepung sagu sedikit demi sedikit lalu aduk sampai rata
c.Pecahkan telur 1 persatu ke wadah,bagi adonan ke beberapa bagian
d.Panaskan air hingga mendidih
e.Lumurkan tangan dengan sagu lalu bulatkan salah satu adonan.Buat bulatan ditengahnya untuk dimasukan 1 butir telur lalu rekatkan kembali
f.Ulangi proses tersebut sampai seluruh adonan telah diberi telur
g.Rebus kira-kira 10menit sampai isi pempek tersebut matang
h.Pempek dapat diangkat
i.Jika mau digoreng,gorengkan minyak di panci hingga terlihat kulit dan kekuningan
j.Pempek kapal selam goreng siap disediakan
Inilah cara membuat pempek khas palembang.Semoga bermanfaat :)
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...