Pothil merupakan camilan yang digemari oleh banyak orang. Camilan ini tidak hanya terkenal karena bentuknya yang menyerupai cincin dan teksturnya yang renyah, tapi juga karena rasanya yang gurih dan ada sedikit rasa asam dari bahan utamanya yaitu ketela.
Untuk mengetahui cara pembuatan Pothil, silakan simak bahan dan langkah pembuatannya berikut ini.
Bahan Pothil: -Singkong/Ketela Pohon
Bumbu Pothil: -Bawang Putih -Ketumbar -Garam -Penyedap Rasa
Langkah-langkah:
1.Kupas ketela menggunakan pisau.
2.Cuci ketela sampai bersih.
3.Parut ketala menggunakan mesin pemarut ketela.
4.Pres menggunakan dongkrak sehingga kandungan air terkurangi.
5.Campurkan dengan bumbu yang sudah dihaluskan.
6.Bentuk adonan menjadi bulat-bulat.
7.Masukkan ke dalam soblok kemudian kukus hingga setengah matang.
8.Giling menggunakan mesin hingga menjadi lembaran-lembaran panjang.
9.Potong lembaran tersebut dan gulung membentuk lingkaran penuh dengan panjang sekitar 10cm
10.Potong gulungan menggunakan gunting menjadi lebih kecil menyerupai makaroni.
11.Diamkan selama semalam/diangin-anginkan tanpa terkena sinar matahari.
12.Goreng menggunakan minyak sampai berubah warna.
13.Pothil siap dinikmati.
Pothil Khas Magelang ini cocok untuk camilan dan campuran saat makan, bisa sebagai pengganti pangsit atau kerupuk, bahkan bisa untuk oleh-oleh. Bagi orang asli Magelang pasti sudah tidak asing dengan pothil. Pothil cocok untuk semua kalangan mulai dari anak sekolahan sampai orang lanjut usia.
Pothil Khas Magelang ini dapat di temukan di pasar tradisional, warung, serta supermarket. Kini Pothil Khas Magelang tidak hanya rasa orginal saja tetapi juga terdapat varian rasa seperti rasa keju, sapi panggang, balado, pedas setan, jagung manis, jagung bakar, dan masih banyak lagi.
Disunting dan diambil dari : http://juraganpothil.blogspot.com/2017/02/cara-membuat-pothil-khas-magelang.html?m=1
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara