Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Jawa Tengah Jawa Tengah
Kinjeng Tangis - Jawa Tengah - Jawa Tengah
- 29 Maret 2018

Gendu anak laki-laki yang tampan. Kulit tubuhnya kuning langsat, bersih, dan bercahaya. Mirip pangeran dari kerajaan meskipun ia hanyalah anak sepasang pencari kayu bakar yang miskin.

Sayangnya, Gendu tak pernah mau pergi bersama kedua orangtuanya ke hutan mencari kayu bakar. Ia pun tak mau bertandang ke desa tetangga. Ia malu mempunyai orangtua yang hitam, dekil, dan miskin.

Setiap pagi, saat Gendu masih tidur mendengkur, Bapak dan Emak sudah berangkat ke hutan. Menjelang siang, Gendu baru bangun. Yang dibuka pertama kali adalah tudung saji di atas meja kayu yang telah kusam dan lapuk. Semua yang terhidang itu dimakannya. Setelah itu, ia pergi dan bermain dengan anak-anak orang kaya.

Selama ini Gendu mengaku pada mereka bahwa dirinya anak bangsawan. Ia tak pernah mengakui Bapak dan Emak sebagai orangtua kandungnya.

Suatu hari, ia kepergok tiga orang pemburu yang mampir ke rumah. Saat itu ia sedang makan bersama kedua orangtuanya.

“Lho, kok, Raden Gendu berada di sini?” tanya salah seorang di antara mereka. Orang-orang selalu memanggil Gendu dengan sebutan Raden karena mengira Gendu benar-benar anak bangsawan.

“Aku bermain terlalu jauh sehingga tersesat. Untunglah aku bertemu dengan bekas pelayan orangtuaku,” jawab Gendu berdusta.

Tiga pemburu itu percaya.

“Kalau Raden Gendu takut pulang sendirian, mari kita pulang bersama-sama,” ajak pemburu kedua.

Mendengar kata-kata Gendu, betapa remuk-redam hati Bapak dan Emak. Putra kesayangan mereka itu sudah terang-terangan tak mau mengakui mereka sebagai orangtuanya. Mereka berdoa pada Tuhan agar sang anak sadar dari keangkuhannya.

Setelah tiga pemburu itu pergi, Gendu langsung meninggalkan meja makan sambil mendengus kasar,

“Huuuhhh…! Bapak dan Emak telah mempermalukan Gendu!”

“Mempermalukan bagaimana, Nak?” tanya Emak tak mengerti.

“Emak tidak bilang akan ada orang datang kemari!” kata Gendu.

“Kenapa harus bilang sama kamu, Nak, kalau ada orang datang?” tanya Bapak yang sejak tadi diam.

“Gendu malu! Orang-orang akhirnya tahu Gendu bukan anak bangsawan. Gendu hanya anak pencari kayu bakar yang miskin. Gendu malu…, malu… malu sekali!” seru Gendu berkali-kali.

Mendengar kata-kata Gendu yang sudah keterlaluan itu, Bapak dan Emak hilang kesabaran.

“Bapak dan Emak sudah sekian lama bersabar hati dan berkorban perasaan demi menyenangkanmu, Nak! Tapi tenyata kamu semakin tak tahu diri!” seru Bapak.

“Kalian yang tak tahu diri!” tukas Gendu. “Mungkin Gendu memang anak bangsawan tapi kalian telah menculik Gendu. Gara-gara perbuatan kalian, Gendu jadi menderita, miskin, dan terhina!”

“Gendu, sadarlah kamu, Nak. Kamu memang anak kandung Emak dan Bapak. Emak yang melahirkanmu. Maafkan Emak dan Bapak bila tidak bisa membahagiakanmu,” ujar Emak dengan berurai air mata.

“Tidak! Gendu tidak percaya! Kalian bukan orangtua kandung Gendu. Buktinya, kita tidak mirip. Gendu tampan dan bersih,sedangkan kalian hitam dan jelek!” bantah Gendu.

“Baiklah, Nak,” lanjut Emak, “kalau kamu menyesal menjadi anak Emak dan Bapak, dan malah menuduh kami telah menculikmu dari orangtuamu yang bangsawan, silakan cari orangtuamu itu! Emak dan Bapak ikhlas melepas kamu pergi!”

Kemudian, Gendu meninggalkan rumah. Ia berniat mencari orangtua yang diyakininya sebagai orangtua kandungnya. Namun, yang ia cari tak pernah ditemui.

Seiring waktu, Gendu menjadi olok-olok. Wajahnya yang tampan dan bersih berubah menjadi kotor. Pikirannya sibuk mencari orangtua bangsawan khayalannya sehingga ia tak sempat mandi. Tubuhnya kurus kering dan terbalut pakaian compang-camping seperti gelandangan.

Dalam kondisi yang menyedihkan itu, Gendu akhirnya sadar dan menyesal telah meninggalkan kedua orangtua kandungnya. Ia pulang ke desa, ingin memohon ampun kepada Emak dan Bapak.

Tetapi, ternyata gubuk mereka telah lenyap disapu angin puyuh yang menyerang desa beberapa bulan lalu. Emak dan Bapak telah pergi tak tentu rimbanya.

Dalam kesedihan dan penyesalan, Gendu terus mencari Emak dan Bapak sambil menangis pilu. Lambat laun, tanpa ia sadari, tubuhnya berubah menjadi sesosok makhluk sejenis serangga. Bila bersuara, seperti anak yang menangis sedih.

Penduduk setempat menamakan binatang kecil mirip lalat besar itu Kinjeng Tangis, yaitu semacam capung yang bersuara melengking, seperti suara anak kecil yang menangis pilu. Konon, itu tangisan Gendu yang menyesali perbuatannya sambil memanggil-manggil kedua orangtuanya.



 

Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/capung-yang-menangis-kinjeng-tangis/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu