Situs Tingkip berada di Desa Sungai Jauh, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Untuk mencapai lokasi Situs Candi Tingkip dapat dicapai dengan kendaraan bermotor melalui jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Lubuk Linggau-Sarolangun (Kabupaten Bangko, Provinsi Jambi). Sebelum mencapai Sarolangun, di Simpang Singkut pada kilometer 135 dari Lubuk Linggau membelok ke arah timur. Melalui jalan tanah yang sudah diratakan, yang menghubungkan Simpang Singkut pada kilometer 135 dari Lubuk Linggau membelok ke arah timur. Melalui jalan yang sudah diratakan yang menghubungkan Simpang Singkut-Bingkin Teluk, kendaraan dapat terus sampai pada kilometer 12. Dari tempat itu perjalanan masih dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 200 meter menuju arah kebun karet rakyat.
Lokasi runtuhan bangunan candi yang dibuat dari bata terletak di kebun karet pada dataran perbukitan yang merupakan sambungan dari rangkaian perbukitan Situs Candi Lesungbatu. Menuju ke arah utara permukaan tanahnya menurun hingga sampai ke sebatang sungai kecil yang merupakan anak Sungai Tingkip. Jarak runtuhan bangunan ke anak Sungai Tingkip itu sekitar 80 meter.
Menuju ke arah hulu dari sungai kecil yang mengalir di dekat Situs Lesungbatu, pada bidang tanah yang merupakan kebun karet, pada 1980 ditemukan satu arca Buddha dan reruntuhan bangunan bata.
Keadaan runtuhan bangunan bata itu telah rusak, sehingga tidak dapat diketahui bentuk dan ukuran denahnya. Runtuhan bangunan tersebut letaknya di sebuah bukit kecil yang lerengnya curam ke arah anak Sungai Rawas. Melihat lokasinya, bangunan itu didirikan pada bidang tanah yang tinggi di tepi sebuah sungai kecil.
Arca Buddha tersebut digambarkan berdiri pada padmasÄna (bantalan teratai) dengan sikap tangannya witarkamudrÄ yang diarahkan ke depan, dan memakai jubah yang digambarkan transparan menutup kedua bahunya. Tinggi arca keseluruhan 172 cm. Jika dilihat dari sikap tangannya, tampak arca ini termasuk dalam kelompok arcaarca pre-Angkor yang berkembang pada abad ke-6-7 Masehi atau langgam Dwarawati yang berkembang di Thailand pada abad ke-6–9 Masehi.
Sumber:
Utomo, Bambang Budi, 2014, “Situs Tingkip” dalam Wiwin Djuwita Sudjana Ramelan (ed.) Candi Indonesia Seri Sumatera, Kalimantan, Bali, Sumbawa, Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hlm. 152–153.
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/2016/02/23/candi-tingkip/
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...