Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Kalimantan Barat PONTIANAK
CHAI
- 4 Agustus 2014

 

Kelembutan Chai Kue Khas Pontianak

Mengunjungi Kota Pontianak rasanya ada yang kurang bila belum mencoba kue ini . Chai kue adalah makanan sejenis pangsit, biasanya berbentuk setengah lingkaran, tapi ada juga yang berbentuk lingkaran. Kulitnya terbuat dari campuran tepung beras dan juga tepung tapioka dengan ketebalan yang cukup tipis. Isinya bermacam-macam, ada yang berisi bengkuang, kacang, atau daun kucai, rebung dll yang sudah dicampur dengan ebi. Chai kue bisa dimasak dengan cara dikukus atau digoreng. Biasanya disajikan dengan bawang putih goreng yang dicincang kasar, dan dimakan dengan sambal biasa atau sambal ebi.

Bagi yang ingin membuat sendiri berikut ini resep pembuatanya :

Bahan :
- 200 gram tepung beras
- 25 gram tepung sagu/tapioka
- 2½ sendok teh garam
- 450 ml air
- 3 buah bengkuang ukuran sedang
- 3 sendok makan udang ebi
- 6 sendok makan minyak sayur
- 2 siung bawang putih
- ½ sendok teh lada bubuk

Cara Membuat :
1. Buat bahan kulit dengan mencampurkan tepung beras, tepung sagu/tapioka, 3 sendok makan minyak sayur, ½ sendok teh garam dan air. Aduk rata sampai tidak menggumpal. Masak di atas api sedang sambil diaduk terus sampai mengental, seperti adonan yang kalis. Matikan api. Sisihkan dan biarkan adonan dingin.
2. Bersihkan, kupas, cuci bengkuang lalu potong-potong seperti batang korek api. Sisihkan.
3. Udang ebi direndam air panas, lalu dicincang kasar. Sisihkan.
4. Bersihkan, kupas, cuci, cincang bawang putih sampai halus. Sisihkan.
5. Panaskan 3 sendok makan minyak sayur, tumis bawang putih sampai harum. Sisihkan bawang putih separunhya. Masukkan udang ebi dan bengkuang. Masak sampai agak layu.
6. Masukkan 2 sendok teh garam dan lada. Aduk rata sampai bengkuang matang. Angkat dan sisihkan.
7. Ambil sedikit adonan kulit, lalu dibuat seperti mangkuk yang tipis. Jika adonan masih lengket, bisa ditambahkan tepung sagu/tapioka supaya tidak lengket. Setelah adonan sudah berbentuk mangkuk lingkaran, masukkan 1 sendok makan bahan isi. Rekatkan ujung lingkaran seperti membuat pastel. Taruh di loyang/pinggan tahan panas yang sudah diolesi dengan minyak sayur.
8. Panaskan air di wajan kukusan sampai mendidih, setelah itu kukus chai kue yang sudah dibentuk selama 10 – 15 menit. Angkat.
9. Sajikan chai kue dengan bawang putih di atasnya.

Sumber Foto : atummy.blogspot.com

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu