Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Produk Arsitektur Jawa Timur Sidoarjo
CANDI PARI (Lumbung Padi Majapahit di Sidoarjo)
- 8 April 2013

Candi Pari yang berdiri ditengah tengah desa Candi pari,Kecamatan Porong (15km arah selatan Sidoarjo)adalah satu-satunya candi peninggalan kerajaan Majapahit yang masih berpola utuh. berntuk sempurnanya berpola Candi Khmer (birma) dan Champa (Thailand).Hingga saat ini bentuk Candi Pari yang nyeleneh dari pola umum percandian Mojopahit itu belum ditemukan.Ciri khas pola bangunan candi Mojopahit selalu langsing pada bagian tubuh (tengah) dan trapesium pada bagian atap/mahkota dan selalu dibuat dari bahan batu emas.candi Pari yang dibuat oleh penguasa Mojopahit pada tahun 1293 Saka/1917 masehi ini berbentuk kubus,tanpa ada pembagian yang steorotif antar batur,tubuh dan mahkota.

Satu-satunya ciri Mojopahit hanyalah bahannya yang terbuat dari batu merah.Panjang Candi Pari ini 16,86 m,lebar 14,10 m dan tinggi 13,40 m sehingga terkesan pendek dan lebar.Sementara pola umum Candi Mojopahit selalu berorientasi vertikal.

Candi pari ini terdiri atas batur persegi empat,bagian barat menjorok keluar dengan undakan tangga pada sisi kanan-kiri menuju pintu masuk.Diatas pintu tertulis angka tahun pembuatan dan bagian dalam candi berupa ruang.

           

            Atap candi yang telah runtuh berbentuk amluntah,masih-masing dihias dengan sumber dan menara kecil.Pada tahap/mahkota inilah terletak ciri unik candi pari ini sebab bentuk mahkotanya sepenuhya memakai pola Kmer/Champa.tak ada penjelasan kenapa bentuk candi ini memakai bentuk bangunan negeri Champa walaupun ada bukti bahwa 2 kerajaan di Asia tenggara itu pernah menjalin hubungan dengan Mojopahit.Bahkan putri negeri itu yang beragama islam ada yang menjadi istri raja Mojopahit pada awal abad 15.Menurut penelitian yang dilakukan pada jaman Belanda,candi Pari merupakan candi utama dari sekian jumlah candi lain yang berada didalam satu komplek dengan pagar tembok,gapura,dan teras walaupun untuk bekas tembok yang mengurung komplek belum ditemukan tetapi laporan jaman Belanda itu agaknya tidak terlalu salah sebab di sebelah selatan candi pari berdiri sebuah candi dengan pola Mojopahit murni yang disebut candi sumur.Nama ini digunakan karena bagian dalam candi ada sebuah sumur yang saati ini telah mengering.Candi sumur ini rusak berat tinggal separuh dinding candi yang masih berdiri.Melihat jaraknya yang berdekatan,kemungkinan besar 2 candi itu merupakan satu kesatuan yang merupakan ciri percandian di Nusantara,dimana tidak ada sebuah candi yang berdiri sendiri.berbeda dengan temuanBalanda tentang fungsi candi pari yang disimpulkan sebagai tempat peribadatan,dalam masyaraka sekitar beredar cerita lisan (folklore) yang mengatakan bahwa didirikannya candi itu sebagai simbol kesuburan desa setempat dengan produksi padi (pari) yang melimpah dan mampu menyetorkan upeti kepada Raja Mojopahit.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Call center pinjamflexi
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.

avatar
Pinjamflexi08
Gambar Entri
HUDON TANO (PERIUK TANAH)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
BENDA MAGIS MASYARAKAT BATAK
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker