Sebagai daerah dengan wilayah laut yang cukup luas, membuat Bali menjadi penghasil rumput laut dengan hasil sangat melimpah, sehingga di sana terdapat masakan khas bernama bulung kuah pindang. Pembuatannya memerlukan rumput laut dengan jenis Kappaphycus Alvarezii yang memiliki ciri-ciri warna yang hijau namun agak gelap dan sedikit kemerahan.
Uniknya, bulung kuah pindang memiliki dua warna setelah dimasak, yakni hijau yang didapat dari perendaman dengan air kapur dan akan bewarna putih bila rumput laut melewati proses penjemuran. Rumput laut tersebut nantinya akan direbus dan diberi kuah pindang dan diberi taburan bumbu khas yang membuat rasanya pedas gurih. Untuk menikmatinya cukup dengan memakannya bersama nasi yang masih hangat atau bisa dimakan dengan rujak buleleng.
Untuk membuat kuahnya, diperlukan ikan segar seperti tongkol atau tuna yang direbus bersama daun salam, garam, dan serai. Kaldu ini nantinya akan disiramkan bersama rumput laut rebus dan pada proses akhirnya diberi juga bumbu garam, perasan jeruk limau, dan kelapa parut. Selain itu, masih ada tambahan berupa bumbu halus dari jahe, terasi bakar, cabai rawit, dan garam pada wadah berisi bulung kuah pindang tersebut. Ada juga yang memberi taburan kacang tolo, kedelai, dan kacang tanah yang digoreng kering.
Untuk mendapatkannya sangatlah mudah, karena di Denpasar ada banyak warung dan rumah makan yang menyediakannya.
Sumber: http://makananoleholeh.com/makanan-khas-bali/
Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland